Tuesday, 16 June 2026


Dana Jumbo Hilirisasi Ayam

27 Jan 2026, 14:10 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah akan melakukan proyek besar-besaran hulirisasi ayam dengan anggaran mencapai Ro 20 triliun

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah memulai program hilirisasi  ayam terintegrasi pada 2026. Dalam program tersebut, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan investasi jumbo senilai Rp20 triliun untuk memperkuat ekosistem peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi di seluruh Indonesia.

Langkah strategis ini diyakini bakal memperkokoh ketahanan pangan nasional, terutama dalam penyediaan protein hewani berkualitas bagi masyarakat dan meningkatkan daya saing peternak lewat rantai produksi perunggasan yang lebih efisien dan terpadu. Hilirisasi peternakan ayam ini juga untuk memastikan ketersediaan daging ayam dan telur sebagai kebutuhan utama dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program yang digarap bersama BPI Danantara tersebut mencakup pembangunan pabrik pakan, fasilitas pembibitan, penetasan telur, cold storage, hingga rumah potong ayam (RPHU), dengan fokus pengembangan di luar Pulau Jawa. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan program hilirisasi ayam terintegrasi merupakan program strategis nasional sesuai arahan Presiden Prabowo.

Tujuan utama program ini untuk menyejahterakan peternak melalui kepastian bibit anak ayam umur sehari (Day Old Chick/DOC) yang terjangkau, peningkatan daya saing, dan kestabilan usaha. Investasi ini kata Amran, akan difokuskan pada penguatan rantai produksi di hulu, dengan pembagian peran yang jelas antara BUMN dan peternak rakyat.

Nantinya BUMN akan berperan pada sektor hulu, mulai dari grandparent stock, parent stock, hingga pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), cold storage, dan industri olahan hasil ternak.

“Kita ingin BUMN masuk untuk menjamin harga DOC, pakan, dan pullet dan terjamin kualitas serta kuantitasnya dengan harga yang membuat peternak bahagia dan untung,” katanya.

Sementara sektor budidaya atau on farm akan dikelola oleh peternak rakyat melalui UMKM dan koperasi, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dengan skema ini, Amran berharap akan mampu menstabilkan harga pakan dan DOC yang selama ini kerap bergejolak dan berdampak merugikan peternak kecil.

Dengan cara ini harga pakan dan DOC bisa lebih stabil. Peternak kecil terlindungi, sementara konsumen tidak terbebani harga tinggi. ”Jadi kita ingin peternak kecil bukan hanya bertahan, tapi naik kelas. Pemerintah hadir untuk membangun ekosistem, bukan mengambil alih peran mereka.” kata Amran.

Sementara itu, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria mengatakan, rencana pembangunan peternakan terintegrasi akan ditegaskan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antar kementerian dan lembaga. Danantara sebagai korporasi akan mengkaji dengan baik dan memastikan pelaksanaannya sesuai kaidah korporasi yang sehat.

Program tersebut akan mulai dijalankan setelah seluruh infrastruktur dan regulasi disepakati bersama pemerintah. “Investasi Rp 20 triliun akan diarahkan pada pembangunan pembibitan modern, pabrik pakan, serta fasilitas distribusi yang terintegrasi dengan sistem logistik nasional, khususnya di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

Sementara budidaya ayam pedaging dan petelur akan dikelola peternak rakyat di bawah naungan KDMP. Dengan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), pemerintah akan mengalokasikan anggaran hingga Rp50 triliun.

Dengan anggaran yang jumbo, pemerintah perlu membuat perencanaan yang matang. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Tim Sinta
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018