
Tim Balai Veteriner Subang (BV Subang bersama kelompok pengembangan aya petelur di Jawa Barat
TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Pengembangan ayam petelur di Jawa Barat terus diperkuat pemerintah. Bukan sekadar menambah populasi ternak, Kementerian Pertanian (Kementan) juga memastikan kelompok peternak memiliki kandang, pakan, serta sarana pemeliharaan yang memadai agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 24 kelompok di tujuh kabupaten/kota di Jawa Barat telah masuk dalam pelaksanaan pengembangan ayam petelur. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Ciamis, Cirebon, Indramayu, Kuningan, Tasikmalaya, Subang, serta Kota Cirebon.
Pengawalan program dilakukan Balai Veteriner Subang (BV Subang), Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan.
Tim BV Subang tidak hanya memantau keberadaan ternak, tetapi juga memastikan kesiapan kelompok sejak awal. Kondisi kandang, ketersediaan pakan, sarana pendukung, hingga aspek kesehatan ternak menjadi bagian yang diperiksa agar pengembangan ayam petelur benar-benar dapat memberikan manfaat bagi peternak.

Kepala BV Subang Putut Eko Wibowo mengatakan kesiapan kelompok menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengembangan ayam petelur.
Menurutnya, bantuan ternak harus diikuti dengan pengelolaan yang baik agar ayam dapat tumbuh sehat, produktif, dan mampu menopang keberlanjutan usaha kelompok.
“Pengembangan ayam petelur ini diarahkan untuk memperkuat usaha kelompok dan meningkatkan produktivitas peternak. Karena itu, kami terus mengawal kesiapan kandang, pemeliharaan, pakan, dan kesehatan ternak agar pengembangannya dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Putut.
Dalam proses pengawalan, tim BV Subang melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi kandang dan sarana pemeliharaan. Ketersediaan pakan juga menjadi perhatian karena kebutuhan nutrisi sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas ayam petelur.
Selain ayam, dukungan pengembangan juga mencakup pakan serta obat dan vitamin untuk menunjang kesehatan dan pemeliharaan ternak.

Langkah tersebut dinilai penting karena keberhasilan usaha ayam petelur tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak yang diterima kelompok. Setelah ternak berada di kandang, peternak harus mampu menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan pakan, serta mengelola pemeliharaan secara konsisten.
Salah satu kelompok penerima dukungan, KT Berkah Farm Kota Cirebon, menyambut positif program tersebut. Dukungan pemerintah dinilai dapat membantu kelompok meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat usaha peternakan yang telah dijalankan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan atas bantuan ayam petelur dan pakan yang telah diberikan. Dukungan ini sangat berarti dalam membantu peningkatan produktivitas dan kesejahteraan perekonomian peternak di daerah kami,” ujar Kusdiantoro yang mewakili KT Berkah Farm.
Bagi Kementan, pengembangan ayam petelur di daerah menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi pangan asal ternak. Semakin produktif usaha peternak, semakin besar pula peluang peningkatan pasokan telur dan protein hewani bagi masyarakat.
Karena itu, pengawalan program dilakukan secara menyeluruh. Penyerahan ternak bukan menjadi akhir dari kegiatan, melainkan awal dari proses pendampingan agar ayam dapat dipelihara secara optimal dan usaha kelompok mampu berkembang.
Kesiapan kandang, pakan, kesehatan ternak, serta kemampuan kelompok dalam mengelola usaha menjadi faktor yang terus diperhatikan. Dengan pendekatan tersebut, bantuan pemerintah diharapkan tidak berhenti sebagai dukungan jangka pendek, tetapi mampu menciptakan usaha peternakan yang produktif dan berkelanjutan.
Melalui peran UPT di daerah, Kementan terus mendorong peternak rakyat menjadi bagian penting dalam memperkuat produksi pangan asal ternak. Pengembangan ayam petelur diharapkan memberikan dampak berantai, mulai dari meningkatnya produktivitas peternak, bergeraknya ekonomi masyarakat, hingga semakin kuatnya ketersediaan telur sebagai sumber protein hewani.