
Kementan menguji penggunaan drone di sawah Konawe, Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari modernisasi pertanian untuk mempercepat swasembada pangan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Konawe – Kementan menguji penggunaan drone di sawah Konawe, Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari modernisasi pertanian untuk mempercepat swasembada pangan.
Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menguji teknologi drone di lahan pertanian Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Teknologi ini diperkenalkan dalam gerakan tanam untuk mendorong peningkatan produktivitas dan mengejar swasembada pangan.
Uji teknologi dilakukan di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Desa Meraka, Kecamatan Lambuya, Senin (14/9/2026).
Selain drone, Kementan juga memperagakan metode tanam manual dan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Lahan CSR di lokasi tersebut mencapai 112 hektare.
Dalam kegiatan itu, realisasi tanam untuk peningkatan indeks pertanaman (IP) 100 mencapai 10 hektare.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan teknologi menjadi salah satu kunci dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
"Swasembada pangan bukan hanya tentang menambah luas lahan, tetapi bagaimana setiap hektare mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Karena itu, optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, penggunaan benih unggul, mekanisasi dan teknologi harus dilakukan secara bersama-sama," kata Amran.
Menurut Amran, penggunaan drone dapat membuat proses budidaya lebih cepat.
Teknologi itu juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi usaha tani.
'Teknologi seperti drone dapat membantu mempercepat proses budidaya, mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani," ujarnya.
Amran mengatakan percepatan swasembada pangan membutuhkan kerja sama banyak pihak.
Pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, penyuluh, petani, Brigade Pangan hingga pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak bersama.
Di sisi lain, Kementan menilai penggunaan teknologi pertanian harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan penyuluh mempunyai peran penting dalam mendampingi petani menghadapi modernisasi pertanian.
"Peningkatan produktivitas merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan swasembada pangan. Karena itu, penyuluh harus terus hadir mendampingi petani, memastikan penerapan teknologi berjalan dengan baik, serta mendorong petani dan Brigade Pangan untuk semakin adaptif terhadap mekanisasi dan inovasi pertanian," ujar Idha.
Dia menegaskan modernisasi pertanian tidak cukup hanya dengan mendatangkan alat dan teknologi. Petani juga harus mendapatkan pendampingan agar mampu memanfaatkan teknologi sesuai kondisi lahan.
"Teknologi yang digunakan dapat memberikan manfaat nyata terhadap efisiensi dan produktivitas usaha tani," katanya.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua mengapresiasi dukungan pemerintah pusat melalui gerakan tanam di Konawe.
Menurutnya, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri dan pemangku kepentingan lainnya penting untuk memperkuat pembangunan pertanian.
"Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan dan pelaksanaan kegiatan gerakan tanam ini. Ini merupakan wujud nyata dukungan pemerintah pusat kepada daerah, khususnya dalam memperkuat sektor pertanian," ujar Hugua.
Hugua mengatakan ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, pembangunan pertanian perlu didukung penguatan ketahanan energi dan air.
Sementara itu, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan program Cetak Sawah Rakyat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
TNI-Polri, kata dia, akan terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat untuk mendukung program pertanian.
Kepala BBPP Batangkaluku sekaligus Pj Swasembada Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Jamaluddin Al Afgani, mengatakan penggunaan drone dan PM-AAS di Desa Meraka menjadi bagian dari pengenalan teknologi pertanian modern.
"Pemanfaatan teknologi seperti drone dan penerapan metode PM-AAS menjadi bagian dari inovasi yang terus kita dorong dalam mendukung peningkatan produktivitas. Yang paling penting adalah teknologi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya mendukung peningkatan produksi," jelas Jamaluddin.
Dia mengatakan penerapan teknologi harus diikuti pendampingan penyuluh. Petani dan Brigade Pangan perlu memahami bukan hanya cara mengoperasikan teknologi, tetapi juga penerapannya sesuai kondisi lahan.
Gerakan tanam di Desa Meraka diharapkan menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan CSR seluas 112 hektare. Dari hamparan tersebut, realisasi tanam IP 100 yang dilakukan dalam kegiatan mencapai 10 hektare.
Kementan akan terus mendorong optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, mekanisasi dan penggunaan teknologi modern. Penguatan Brigade Pangan serta pendampingan penyuluh juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Uji penggunaan drone di Konawe menjadi salah satu langkah Kementan memperkenalkan pertanian berbasis teknologi di tingkat lapangan.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat budidaya, meningkatkan efisiensi dan mendongkrak produktivitas untuk mendukung target swasembada pangan.