
Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Indonesia kembali menunjukkan kapasitasnya dalam menjaga kesehatan hewan di tingkat regional. Kabar positif datang dari forum The 13th ASEAN National Focal Point for Veterinary Products (ANFPVP), ketika National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL) Indonesia berhasil melewati proses penilaian ulang atau reassessment sebagai Laboratorium Rujukan ASEAN untuk Pengujian Vaksin Hewan.
NVDAL yang dikenal sebagai Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) di Gunungsindur, Bogor, dinilai mampu mempertahankan standar pengujian yang dipersyaratkan di tingkat ASEAN.
Capaian tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam pertemuan ANFPVP ke-13 yang digelar secara daring, Senin (7/9). Forum regional ini dipimpin Vietnam dan diikuti perwakilan negara-negara anggota ASEAN.
Bagi Indonesia, hasil reassessment ini bukan sekadar pencapaian laboratorium. Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kapasitas pengujian veteriner nasional mampu bersaing dan memenuhi standar regional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama kesehatan hewan ASEAN.
Dalam pertemuan tersebut, focal point Indonesia dari Kementerian Pertanian, Liys Desmayanti dan Ketut Karuni N. Natih, turut aktif menyampaikan berbagai masukan. Pembahasan mencakup koreksi dan perbaikan hasil reassessment NVDAL, revisi ASEAN Manual atau standar pengujian vaksin hewan, serta pedoman penggunaan obat dalam pakan atau medicated feed yang disusun Thailand dan Singapura.

Keberhasilan NVDAL melewati penilaian ulang tidak datang secara instan. Sebelumnya, berbagai pembenahan dilakukan untuk memastikan laboratorium memenuhi tuntutan standar pengujian veteriner yang semakin ketat.
Pembenahan dilakukan mulai dari fasilitas hingga sumber daya manusia. Infrastruktur dan bangunan laboratorium diperbaiki, termasuk pemasangan kamera pengawas (CCTV) di fasilitas hewan dan laboratorium.
Sejumlah ruangan juga direnovasi agar memenuhi standar keselamatan hayati atau biosafety. Langkah ini penting mengingat aktivitas pengujian vaksin dan produk veteriner membutuhkan fasilitas yang mampu menjamin keamanan, ketertelusuran, serta kualitas proses pengujian.
Tidak berhenti pada fasilitas, NVDAL juga melakukan analisis beban kerja. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan personel yang memadai sehingga kegiatan pengujian dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
Serangkaian pembenahan itu akhirnya membuahkan hasil. NVDAL berhasil melewati proses reassessment dan kembali mendapat kepercayaan sebagai laboratorium rujukan ASEAN untuk pengujian vaksin hewan.
Pencapaian Indonesia pun mendapat apresiasi dari para delegasi negara anggota ASEAN. Komitmen Indonesia dalam mempertahankan standar kualitas fasilitas pengujian veteriner dinilai penting untuk mendukung upaya pencegahan penyakit hewan menular strategis di kawasan.
Pakar Veteriner Departemen Pengembangan Peternakan Thailand, Julaporn Srinha, turut memberikan apresiasi terhadap kerja sama yang terbangun selama masa keketuaan Thailand.

Menurutnya, ANFPVP menjadi forum penting untuk memperkuat regulasi dan standar produk veteriner di kawasan ASEAN.
"Kegiatan ANFPVP ini sangat penting sebagai wadah regional untuk meningkatkan kerja sama di bidang produk veteriner dan vaksin, sekaligus memperkuat sistem regulasi, standar mutu, serta kolaborasi di antara otoritas pengawas nasional kita," ungkap Julaporn.
Tinggal Selangkah Menuju Pengesahan ASEAN
Keberhasilan melewati reassessment menjadi langkah penting. Namun, proses pengukuhan NVDAL sebagai laboratorium rujukan resmi ASEAN masih harus melewati tahapan pengesahan di tingkat berikutnya.
Dalam sidang ANFPVP ke-13, peserta menyepakati untuk membawa Laporan Penilaian Ulang ke tingkat yang lebih tinggi guna memperoleh pengesahan formal.
Forum tersebut meminta ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) memberikan endorsement. Selanjutnya, Senior Officials Meeting of the ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (SOM-AMAF) diminta memberikan kewenangan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN untuk menandatangani Sertifikat Persetujuan resmi.
Jika seluruh tahapan tersebut selesai, sertifikat itu akan mengukuhkan NVDAL sebagai laboratorium rujukan resmi ASEAN dalam pengujian mutu sejumlah vaksin hewan.
Ruang lingkupnya mencakup vaksin untuk Newcastle disease, Marek’s disease, Infectious Laryngotracheitis, Infectious Bronchitis, Egg Drop Syndrome, Fowl Cholera, hingga Haemophilus paragallinarum.
Agenda endorsement tersebut selanjutnya dijadwalkan dibahas dalam rapat virtual ASEAN Sectoral Working Group for Livestock (ASWGL), Selasa (8/9).
Pertemuan ANFPVP ke-13 tidak hanya membicarakan status NVDAL. Forum tersebut juga membahas sejumlah agenda yang berkaitan langsung dengan masa depan kesehatan hewan dan keamanan pangan di kawasan ASEAN.
Beberapa isu yang menjadi pembahasan antara lain pembaruan standar vaksin hewan edisi ketiga, pedoman pakan bermedikasi, serta penguatan strategi bersama dalam menghadapi resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).
Seluruh pembahasan tersebut semakin penting karena ancaman penyakit hewan dan resistensi antimikroba tidak mengenal batas negara.
Karena itu, kerja sama antarnegara menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Pendekatan One Health pun terus didorong untuk memastikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dapat ditangani secara terpadu.
Pimpinan sidang dari Vietnam, Le Thi Hue, selaku Wakil Kepala Divisi Pakan Ternak dan Kedokteran Hewan, mengingatkan pentingnya menjaga momentum kolaborasi teknis di antara negara-negara ASEAN.
"Kita harus terus mempertahankan momentum dalam memperkuat sistem regulasi, melindungi kesehatan masyarakat, serta mendukung inovasi kesehatan hewan melalui pendekatan One Health yang berkelanjutan di kawasan regional," ujar Le Thi Hue.
Bagi Indonesia, keberhasilan NVDAL melewati reassessment memiliki arti strategis. Laboratorium rujukan bukan hanya berfungsi sebagai fasilitas pengujian, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertahanan kesehatan hewan nasional dan regional.
Di tengah ancaman penyakit hewan menular strategis yang dapat menyebar lintas negara, keberadaan laboratorium dengan standar tinggi menjadi salah satu benteng penting.
Pengakuan terhadap NVDAL juga memperkuat kepercayaan negara-negara ASEAN terhadap kemampuan Indonesia dalam melakukan pengujian mutu vaksin hewan.