
Bayu Krisnamurthi (kiri)
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Diantara usaha bisnis di bidang peternakan , kegiatan budidaya ayam ras dinilai sebagai yang paling siap dan akan memimpin menerapkan revolusi 4.0. Saat ini tahapan pemeliharaan ayam ras tampak terus dimodernisasi sehingga efektivitas dan efisiensinya dapat ditingkatkan.
“Kita bisa saksikan sendiri betapa pelaku usaha farm komersial banyak yang memiliki kandang close house dengan peralatan serba otomatis. Monitoring ayam bahkan sudah dilakukan secara individu. Ini merupakan kemajuan yang luar biasa ,” tandas pengamat pertanian, Bayu Krisnamurthi, saat Seminar Nasional Bisnis Peternakan yang diselenggarakan organisasi Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), beberapa waktu lalu.
Berbicara mengenai revolusi, menurut pengamatan Bayu ada tiga kegiatan bisnis pertanian di tanah air yang sudah berevolusi yakni bisnis usaha ayam ras , budidaya sawit dan pepaya Calina (yang belakangan ber merek dagang California). Ketiga usaha pertanian itu perkembangannya sangat pesat. Siapa menyangka dalam 20 tahun perkembangan kebun sawit mencapai belasan juta hektar. Demikian juga dengan pepaya California, sukses dalam riset mengecilkan ukuran fisik buah, kini pepaya California unggul di pasaran.
“ Bisnis perunggasan khususnya ayam ras juga begitu cepat berevolusi, hingga saat ini daging ayam ras mendominasi pasar daging ayam di dalam negeri,” ujar Bayu.
Mengikuti perkembangan permintaan konsumen daging ayam yang meningkat dan dalam upaya meningkatkan efisiensi kerja bisa dimengerti bila pelaku usaha budidaya ayam ras belakangan gencar memodernisasi kegiatan tatalaksana pemeliharaan.
“Memang jumlahnya relatif belum besar. Tapi itu sudah menggambarkan bahwa bisnis usaha unggas paling dulu yang akan masuk menerapkan revolusi 4.0,” tutur pria yang pernah menduduki jabatan Wakil Menteri Pertanian periode 2010-2011.
Tantangan Peningkatan Konsumsi
Bayu Krisnamurthi menekankan, di bidang perunggasan yang menjadi tantangan ke depan sesungguhnya adalah bagaimana bisa mendorong peningkatan konsumsi daging ayam dan telur di masyarakat, mengingat perkembangan bisnis unggas sangat terkait dengan perkembangan retail dari kedua komoditas tersebut.
Bila konsumsi di tingkat retail daging ayam bisa didorong naik, maka pada akhirnya bisa berimplikasi meningkatkan permintaan sarana produksi pendukung seperti bibit ayam, pakan, obat hewan dan aneka peralatan budidaya sehingga industri sarana produksi peternak otomatis juga bisa berkembang.
“ Sebetulnya tidak sulit untuk mengembangkan pasar daging ayam. Ikuti saja dimana KFC membuka usaha . Berarti disitulah ada potensi pasar,” jelas Bayu.
Pelaku usaha juga jangan terpaku pada kota-kota besar, tetapi perlu fokus menyasar kota-kota sekunder seperti Jember, Purwokerto, Cilacap dan Cirebon karena di kota-kota sekunder tersebut konsumsi pangan (termasuk daging ayam dan telur) masyarakatnya bertumbuh dengan cepat.