Sunday, 19 April 2026


Mau Ekspor Tanaman Hias? Ini Kiat dari Barantan Kementan

28 May 2021, 07:38 WIBEditor : Gesha

Ekspor Tanaman Hias

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ekspor tanaman hias khususnya ke Amerika Serikat (USA) semakin diminati pelaku usaha Indonesia. Tidak kurang dari 3,7 juta batang tanaman selama tahun 2021 yang telah diekspor. Suksesnya ekspor dipengaruhi oleh tingkat pemahaman regulasi oleh calon eksportir. 

Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (GraTiEks) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) disambut baik oleh berbagi pihak. Komoditas ekspor yang kini sedang diminati para pelaku usaha salah satunya adalah tanaman hias, dengan negara tujuan Amerika Serikat (USA)

Besarnya potensi ekspor tanaman hias ke USA direpon oleh Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP – Badan Karantina Pertanian dengan menyelenggarakan International Dissemination Conference (IDC) secara virtual, Selasa (25/5) dalam rangka Implementasi Program GraTiEks dan Uji Terap Karantina Pertanian. IDC bertema “GraTiEks dan Peluang Pasar Komoditas Tanaman Hias ke Amerika Serikat”.

Hadir sebagai pembicara kunci Kepala Barantan – Ir. Bambang, MM, Atase Pertanian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC Amerika Serikat – Hari Edi Soekirno, SE MA, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura - Ir.Bambang Sugiharto, M.Eng.Sc, Koordinator Bidang Benih Pusat Karantina Tumbuhan – Abdul Rahman, SP, MP, Analis Perkarantinaan BUTTMKP - Abdul Mubaraq Irfan, SP M.Si dan pelaku usaha hortikultura CV Ravindo Sukses Mulya – Redi Fajar Kurniawan.

Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian (Barantan), ekspor komoditas berupa tanaman ke USA selama tahun 2021 sebanyak lebih dari 17.520 kali dengan jumlah mencapai 3,7 juta batang tanaman. 

“Komoditas didominasi tanaman hias, misalnya kaktus, anggrek, dracaena, dan araceae (philodendron, anthurium, aglaonema). Tempat pengeluaran berada di  Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP Soekarno Hatta), BBKP Tanjung Priok, BBKP Surabaya, BKP Kelas II Medan, BKP Kelas II Palangkaraya, SKP Kelas I Entikong, “ kata Abdul Rahman, Koordinator Bidang Benih Pusat Karantina Tumbuhan. 

Lebih lanjut Abdul Rahman menyampaikan tentang Persyaratan Karantina Tumbuhan, yaitu dilengkapi sertifikat kesehatan tumbuhan, melalui tempat-tempat pengeluaran yang ditetapkan.

Kemudian dilaporkan dan diserahkan kepada pejabat Karantina Tumbuhan untuk keperluan tindakan karantina, dan dokumen lain yang dipersyaratkan sesuai ketentuan peraturan, misalnya CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) untuk flora dan fauna yang dilindungi dan dilarang masuk USA dan surat izin pengeluaran untuk Sumber Daya Genetik (SDG)

Sedangkan persyaratan negara tujuan antara lain, surat Izin pemasukan dari negara tujuan, sertifikat perlakuan, perlakuan, dan berasal dari area produksi yang bebas dari OPTK negara tujuan, dan lain-lain.

“Ekspor SDG tanaman asli Indonesia harus mendapat izin Menteri Pertanian, jangan ekspor secara berlebihan, supaya SDG kita nantinya tidak diakui sebagai milik negara lain, padahal itu SDG Indonesia,” tegas Abdul Rahman

Namun ada beberapa kendala dan permasalahan ekspor pun dibahas dalam IDC ini. “Sejumlah permasalahan terkait pengiriman tanaman ke USA, Pertama, konfirmasi update regulasi terhadap pemasukan bibit tanaman yang digunakan oleh APHIS – USDA (Animal and Plant Health Inspection Service - United States Department of Agriculture) misalnya komoditas tanaman asal Indonesia yang termasuk dalam larangan masuk ke Amerika Serikat ataupun jenis tanaman yang harus melalui post entry quarantine di wilayah AS," jelasnya.

Alasan kedua adalah adanya penerbitan NNC (Notification of Non Compliance) oleh APHIS-USDA sebagian besar oleh adanya temuan OPT yang tidak spesifik (misalnya Tungau Tetranychus sp atau cendawan Colletotrichum sp.

Ketiga, Informasi yang tercantum dalam notifikasi ketidaksesuaian asal APHIS USDA seringkali tidak jelas, contohnya alasan “prohibited items” tidak dijelaskan lebih lanjut alasan pemusnahan.

"Keempat, Penyampaian notifikasi ketidaksesuaian oleh APHIS USDA tidak sesegera mungkin (sebagaimana panduan dalam ISPM 13) sehingga tidak dapat dilakukan tindakan korektif oleh Barantan untuk pengiriman berikutnya,” beber Abdul Rahman

Termasuk, temuan OPT di negara tujuan sehubungan ekspor tanaman hias yaitu Serangga, Cendawan, Tungau, Nematoda dan Gulma. Daftar alasan dari NNC USA tahun 2014 -2020 : Interception of Pest  60 persen, Administrative 22 persen, prohibited items 18 persen

Sedangkan penolakan komoditas ekspor oleh negara tujuan diungkapkan juga antara lain,  alasan Administratif 47 persen, Teknis 31 persen, Integritas 10 persen Lain lain 12 persen. 

 “Ada temuan menarik sehubungan integritas ini. Jadi jumlah komoditas yang diekspor harus sesuai dengan dokumen karantina. Misal jumlahnya tercantum dalam dokumen 100, maka barangnya juga harus 100. Ternyata ada eksportir yang menambahkan jumlah menjadi 105, nah ini tidak bisa, akan ditolak di sana (negara tujuan) karena dianggap tidak dilakukan pengecekan oleh karantina Indonesia. Kalau untuk urusan lain mungkin kita senang saja diberikan tambahan, tapi untuk ekspor ini tidak boleh. Mungkin orang Indonesia ini terlalu baik ya,” kelakarnya.

Syarat Ekspor

Karena itu, eksportir harus memperhatikan beberapa hal terkait Ekspor Tanaman Hias Ke USA, yaitu Dasar Legislasi : Plant Health Directive 2019/2072. Dengan Ketentuan Umum, harus disertai dengan sertifikat kesehatan tumbuhan (phytosanitary) dari negara asal,

Termasuk bebas dari tanah, dan harus ada import permit dari negara tujuan APHIS USDA jika berjumlah 13 individu tanaman atau lebih, dan memiliki tinggi tanaman tidak lebih dari 18 inch = 460 mm dari permukaan media tumbuh.

"Pengemasan tanaman dilakukan dengan bahan yang diizinkan oleh APHIS USDA dan tidak berpotensi membawa OPTK negara tujuan, Pemberitahuan kepada otoritas karantina tumbuhan di negara tujuan terhadap pemasukan tanaman,” kata Abdul Rahman.

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018