Wednesday, 21 October 2026


Tekan Impor Buah, kata Akademisi Ini Kuncinya

03 Nov 2020, 08:16 WIBEditor : Yulianto

Buah impor di salah satu pasar modern

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Impor buah hingga kini masih nampak kita lihat di kios penjualan buah-buahan, bukan hanya di toko buah modern, tapi juga lapak pinggir jalan. Untuk menekan impor buah, setidaknya ada dua kuncinya.

Apa itu? Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB) Universitas Indonesia (UI), Riyanto bilang peningkatan kualitas buah perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak. Termasuk dari kalangan pengusaha dalam mendorong peningkatan eskpor buah lokal. "Kuncinya ada pada peningkatan kualitas buah lokal kita, serta semua orang harus terus mengkampanyekan makan buah nusantara," kata Riyanto, Senin (2/11).

Berdasarkan data BPS, trend produksi buah-buahan lokal pada kurun waktu 4 tahun terkonfirmasi meningkat cukup signifikan. Pada tahun 2019 misalnya, produksi buah-buahan lokal mencapai 22,5 juta ton atau naik 4,8 persen dibanding tahun 2018. Bahkan buah-buahan tahunan menjadi komoditas terbesar ketiga setelah kopi dan tanaman obat. Nilai ekspornya kurang lebih mencapai 140.228,90 dollar AS.

Sejak tahun 2006 Kementan fokus melakukan pengembangan buah-buahan unggul di seluruh daerah. Kegiatan ini meliputi pengembangan kawasan dan pendampingan penerapan budidaya sesuai dengan kaidah GAP/SOP. Di samping itu, Kementan juga terus memfasilitasi petani dengan sarana prasarana pascapanen hingga proses pengolahan dan pemasaran.

Sementara itu pengamat pangan sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Sujarwo mengatakan, langkah pemerintah sudah cukup bagus dalam mengembangkan potensi buah dan sayur lokal. Namun, kata dia, pemerintah harus membuka informasi dan promosi buah segar secara luas.

“Langkah ini penting dilakukan agar masyarakat memiliki geliat tanam serta pengetahuan lebih pada subsektor sayur dan buah segar,” ujarnya. Apalagi, kata Sujarwo, persepsi masyarakat tentang pengetahuan buah lokal sejauh ini masih kurang baik.

Karena itu, branding buah lokal sangat penting dilakukan untuk menunjang kejelasan fungsi bagi kesehatan, sehingga mengarah pada functional food. Tentunya dengan positioning yang baik dan terkoneksi dengan aspek kesehatan. “Pandemi Covid-19 ini sebenarya momentum untuk Kementerian Pertanian agar terus menyuarakan buah-buahan lokal dan membrandingnya lebih bergengsi,” katanya.

Sayangnya, Sujarwo menilai, riset-riset tentang kemanfaatan buah lokal dan juga promosi atas kegunaannya makin tergerus oleh promosi dan budaya pembenar (affirmative culture). Sehingga masyarakat masih berpikiran bahwa buah impor lebih bagus dari buah lokal. "Kita tidak akan dapat meningkatkan citra produk lokal, seperti buah, selama kita tidak menghargai produk lokal kita sendiri dengan baik," imbuhnya.

Terpisah, Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman mengatakan, peluang bisnis buah dan sayur lokal masih tergolong tinggi, terutama di pasar lokal bahkan internasional. Saat ini, buah-buahan yang mengalami lonjakan permintaan diantaranya jambu biji, jeruk lemon dan alpukat. Hal ini dikarenakan buah-buahan tersebut dikenal kaya serat, vitamin C,E, dan antioksidan.

"Buah-buahan tersebut banyak diproduksi oleh petani-petani kita dan penjualan buah hingga kini masih tinggi. Pastinya akan dapat membantu para oetani di tengah kondisi sekarang ini," tuturnya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018