Friday, 01 July 2022


Jaga Pangan, Irjen Kementan Ajak Semua Pihak Bersinergi  

30 May 2022, 18:51 WIBEditor : Yulianto

Irjen Kementan, Jan S. Maringka saat memberikan pengarahan saat Rapat kerja Itjen Kementan | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Menjaga pangan bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian.  Karena itu, harus ada sinergi dan kerjasama, baik internal maupun eksternal dengan seluruh stakeholder.

Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, Dr. Jan S, Maringka mengatakan, tantangan pembangunan pertanian kini kian besar, bahkan bisa terganggu dengan adanya pihak ketiga. Tantangan tersebut multidimensi, baik geografis, kekayaan alam, demografis, ekonomi dan sosial budaya.

“Untuk bisa capai ketahanan nasional bukan hanya ketahanan perang, tapi juga ketahanan pangan,” kata Jan S. Maringka saat Rapat Kerja Rapat Kerja Teknis Pengawasan Inspektorat Jenderal bertema Refocusing Sistem Pengawasan di Lingkungan Kementerian Pertanian Guna Mewujudkan Kedaulatan Pangan, di Bogor, Senin (30/5),

Apalagi Jan mengatakan, perang masa kini bukan lagi dengan senjata, tapi perang asimetris melalui tangan orang lain, termasuk dengan memecah belah. “Kita perlu pahami bahwa ketahanan pangan tak lepas dari ketahanan nasional. Ketahanan nasional bukan hanya tanggung jawab tentara, tapi tanggung jawab semua,” tegasnya.

Menurut Jan, ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan yang cukup, mudahnya akses ketersediaan untuk mendapatkan pangan dan pemanfaatannya, serta stabilitas pangan. Karena itu Jan melihat ke depan bangsa Indonesia bukan hanya mencapai ketahanan pangan, tapi bagaimana menuju kedaulatan pangan.

Kedaulatan pangan ada tujuan kita bersama,” ujarnya. Untuk itu, Jan mengajak, semua pihak untuk bersinergi dan berkerjasama, baik internal maupun eksternal Kementerian Pertanian. Mari kita bersama-sama mengubah pola pikir dan bagaimana menyiapkan strateginya,” tambahnya.

Menurut Jan, kedaulatan pangan harus menjadi komitmen bersama. Untuk mencapainya tidak harus melalui gerakan besar, tapi dengan yang kecil bisa dilakukan asalkan bersama-saman. Kita ajak semua pihak untuk menjaga pangan,” ujarnya.

Jan menilai, ketika semua sektor terpuruk saat pandemi Covid-19, ternyata yang mampu bertahan adalah pertanian. Terlihat dari nilai ekspor yang terus meningkat. Misalnya tahun 2019 hanya mencapai Rp 390 triliun, kemudian tahun 2020 naik 15 persen menjadi Rp 451 triliun dan tahun 2021 kembali naik menjadi Rp 629 triliun. Ternyata sektor pertanian mampu jadi penggerak ekonomi dan hanya pertanian yang tumbuh 16 persen,” katanya.

Jan mengakui, memang ada empat komoditas pertanian yang statusnya masih ‘merah” yakni kedelai, bawang putih, daging sapi dan gula konsumsi. Namun demikian menurut Jan, bukan tidak mungkin empat komoditas tersebut bisa ditingkatkan produksinya asalkan daerah menyatakan kesiapannya.  

Pengawasan Internal

Dalam upaya mencapai kedaulatan pangan, Jan mengatakan, tugas Itjen Kementan adalah bagaimana membuat perumusan teknis untuk pengawasan internal dalam program pembangunan pertanian. Tugas lainnya adalah pengawasan internal terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, revieu, evaluasi, pengawalan, pemantauan dan pengawasan lainnya.

“Ketika anggaran pertanian direfocusing, maka program pembangunan pertanian harus lebih fokus kepada yang bersifat strategi nasional. Ayo berubah cara berpikir dan bertindak. Itjen harus bantu pengawalan dan pengawasan tugas dirjen teknis,” tuturnya.

Jan menjelaskan, yang dimaksud jaga pangan adalah berfokus pada program strategis, prioritas dan super prioritas. Untuk itu Jan mengajak, semua pihak, khususnya jajaran Itjen Kementan untuk mengubah cara berpikir dan bertindak.

Jangan terjebak pada rutinitas dan manajerial saja. Misalnya auditor tidak hanya sebagai seorang auditor, tapi juga meng-upgrade kemampuan karena merupakan jabatan fungsional,” tuturnya.

Jan juga mengajak jajaran itjen Kementan untuk membangun sinergi APIP dan APH (aparat penegak hukum) untuk mewujudkan ketahanan pangan. Selain itu, harus mewujudkan kualitas pembangunan pertanian tepat waktu, tepat mutu dan tepat sasaran.

“Kita harus membangun sistem pelaporan yang terintegrasi melalui pembangunan pertanian cepat tepat dan akurat, serta membangun kemitraan strategis dengan stakeholder pertanian,” katanya.

Jadi strategi kerja Itjen Kementan menurut Jan adalah konsolidasi, baik keluar maupun ke dalam. Sebab diakui, tidak bisa Itjen Kementan berjalan sendiri. Kita harus konsolidasi dengan yang lain. Kita tidak bisa jalan sendiri. Konsolidasi ke luar dan ke dalam juga,” ujarnya.

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018