
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandar Lampung -- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam kunjungan kerjanya di Provinsi Lampung, menyempatkan mengunjungi Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung dan memuji pengelolaan lahan pertanian menggunakan teknologi smart farming.
"Smart farming tak bergantung pada cuaca lagi dan Bapeltan sudah membuktikan dengan inovasinya di lahan secara langsung, "ucap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ketika membuka Training of Trainer Pertanian Ramah Lingkungan bagi Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian, Selasa (28/06) dari Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung.
Menurutnya, dengan smart farming, petani memiliki kebebasan ruang dan waktu dalam mengelola pertanian. "Meskipun di Jakarta, di pesawat, petani pun bisa mengatur pertaniannya melalui smartphone sekalipun. Harganya murah lagi. Bisa dilakukan petani milenial, " ungkapnya.
Bahkan Menteri SYL menemukan, dengan smart farming seorang petani milenial sedikitnya bisa memperoleh untung Rp 18 juta per bulan.
Didampingi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi dan Anggota Komisi IV Dapil Lampung Dwita Ria Gunardi, Mentan SYL berkeliling Bapeltan Lampung untuk melihat langsung inovasi smart farming yang dilakukan UPT Pelatihan Pertanian dibawah komando BPPSDMP, Kementan ini.
Dimulai dari lahan pertanaman cabai besar, lahan pertanama jagung hingga screenhouse terbuka yang terdiri dari beberapa klon anggur yang tengah dikembangkan di Bapeltan Lampung.
Rombongan kemudian dihidangkan aneka hasil panen dari lahan Bapeltan Lampung, mulai dari kelapa muda hingga es tebu yang menyegarkan di tengah teriknya cuaca Lampung saat itu.
Low Cost
Di lahan dengan seluas 8,5 hektar, Bapeltan Lampung memiliki lahan Hortikultura, perkebunan, kolam, dan lainnya yang dikendalikan secara smart farming.
Kepala Bapeltan Lampung Dr. Abdul Roni Angkat, STP, M.Si menuturkan di Bapeltan Lampung, beberapa teknologi Smart Farming yang telah digunakan di BPP Lampung, di antaranya Smart Green House Low Cost, yaitu teknologi Smart Farming menggunakan IoT untuk pemeliharaan di Green House.
Untuk diketahui, teknologi Smart Green House Low Cost ini telah menggunakan teknologi IoT, namun yang membedakan dengan yang lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk penerapan teknologi ini sangat murah, sehingga dapat dengan mudah diterapkan oleh petani dengan modal terbatas.
Selain itu, konsep Smart Green House Low Cost ini juga sedang diujicobakan di lahan terbuka. " Terbaru sedang kita ujicobakan di provinsi Banten, " tambahnya.
Berbeda dengan Greenhouse lainnya, Abdul Roni mengatakan, Smart Green House Low Cost tidak perlu menyiapkan modal besar untuk bisa menerapkan digitalisasi teknologi budidaya tanaman.
“Di Balai Pelatihan Pertanian Lampung, semua program asli karya karyawan dan karyawati dari BPP Lampung. Mulai dari Smart Green House Low Cost ini, manajemen kompos maupun manajemen koperasi kita. Prinsipnya, semua kegiatan di BPP Lampung dilakukan dari kita, oleh kita dan untuk kita,” katanya.