Selasa, 27 September 2022


SYL Ingatkan Perlunya Strategi Baru Hadapi Krisis Pangan  

12 Sep 2022, 09:40 WIBEditor : Yulianto

Mentan Pertanian, SYL bersama Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah di tengah pembibitan tanaman perkebunan | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Krisis pangan global kini tengah menghantui dunia. Karena kami, Kementerian Pertanian menjalankan strategi hadapi krisis pangan global. Strategi baru memang perlu disusun karena pembangunan pertanian saat ini sedang dihadapkan pada berbagai masalah.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, dunia saat ini sedang dihadapkan pada pandemi covid-19 yang belum kunjung usai, climate change, serta kondisi geopolitik dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina.

Setidaknya, terdapat tiga strategi utama yang akan dijalankan oleh Kementan. Pertama, Peningkatan kapasitas produksi untuk komoditas yang mengendalikan inflasi, seperti cabai dan bawang.

Peningkatan kapasitas produksi juga akan dilakukan untuk menekan impor. Untuk menekan impor maka kita akan tingkatkan kapasitas produksi kedelai, gula tebu, dan daging sapi,” katanya.

Strategi kedua, SYL mengatakan, Kementan mengembangkan komoditas yang dijadikan sebagai subtitusi impor. Untuk pengganti gandum, Kementan akan mendorong budidaya ubikayu, sorgum, dan sagu.

Sementara untuk gula tebu, akan difokuskan untuk mengembangkan gula non tebu, seperti stevia, aren, dan lontar. Untuk pengganti daging sapi, kita akan kembangkan daging kambing, domba, itik, dan ayam lokal.

Sementara strategi ketiga yang akan dilakukan adalah peningkatan ekspor. Komoditas-komoditas yang akan diprioritaskan adalah sarang burung walet, porang, ayam, dan telur.

Kami mengakui, tantangan yang dihadapi saat ini memang luar biasa sehingga diperlukan kerja sama semua pihak. Tantangan pertanian ke depan tidak ringan. Tahun 2023 itu menurut IMF (International Monetary Fund) dan Bapak Presiden (Joko Widodo) bahwa yang akan dihadapi adalah bukan sesuatu yang biasa-biasa saja,” tuturnya.

Dikatakan, Indonesia, baru saja mendapatkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) atas ketangguhan sistem pangan dan pertanian dalam menghadapi tantangan yang tidak biasa. 

Indonesia juga mendapat pengakuan atas keberhasilannya mencapai swasembada beras selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2020, stok beras dalam negeri berlebih sebanyak 7,39 juta ton dan 2021 sebanyak 9,63 juta ton.

Penghargaan itu merupakan pengakuan terhadap capaian kinerja selama ini dan sekaligus menjadi penyemangat kita dalam hadapi krisis pangan global,” katanya.

Bahkan lanjut SYL, selama covid 19, terbukti pertanian kuat dalam menghadapi segala gejolak. Pertanian tumbuh 16,24 persen jauh dibandingkan sektor lainnya. Pertanian juga mampu penyumbang devisa negara dengan nilai ekspor pada tahun 2020 mencapai Rp 451 triliun.

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018