
Di saat 33 negara bersiap menghadapi krisis dengan stok pangan darurat, Indonesia justru punya cadangan beras hingga 25 juta ton.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Di saat 33 negara bersiap menghadapi krisis dengan stok pangan darurat, Indonesia justru punya cadangan beras hingga 25 juta ton.
Ketegangan geopolitik dunia dan ancaman terganggunya rantai pasok pangan membuat sedikitnya 33 negara mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Masyarakat di sejumlah negara bahkan diimbau menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan pokok untuk beberapa hari ke depan.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menghadapi gejolak pangan global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 25 juta ton, yang berasal dari cadangan pemerintah, potensi panen, serta stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
Mentan Amran mengatakan, kondisi pangan Indonesia relatif aman berkat penguatan produksi dalam negeri dan upaya pemerintah menjaga cadangan pangan nasional.
Menurutnya, kemampuan memproduksi pangan sendiri menjadi faktor penting ketika perdagangan internasional menghadapi ketidakpastian.
"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," ujar Amran dalam keterangan resmi, Minggu (1/11/2026).
Kesiapsiagaan pangan kini menjadi perhatian berbagai negara.
Sedikitnya 33 negara mengeluarkan imbauan agar masyarakat memiliki persediaan kebutuhan dasar di rumah.
Inggris dan Jepang, misalnya, mendorong setiap keluarga menyiapkan makanan dan air minum untuk kebutuhan minimal 72 jam atau tiga hari.
Jepang bahkan menyarankan persediaan hingga satu minggu apabila memungkinkan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber hingga gangguan distribusi dan rantai pasok kebutuhan pokok.
Amran menjelaskan, berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Selain itu, terdapat potensi beras dari tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop sekitar 10 juta ton.
Pemerintah juga memperhitungkan sekitar 10 juta ton stok beras di sektor horeka.
Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton.
Sementara kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.
"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ungkapnya.
Menurut Amran, kekuatan tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah meningkatkan produksi padi dan memperkuat swasembada beras.
Kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri menjadi sangat strategis, terutama ketika negara-negara produsen berpotensi membatasi ekspor akibat konflik atau kondisi darurat.
Ia menegaskan, ketahanan pangan bukan sekadar persoalan jumlah stok, melainkan juga menyangkut kedaulatan bangsa.
Ketergantungan terhadap impor berisiko membuat suatu negara rentan ketika jalur perdagangan internasional terganggu.
"Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian terus memperkuat sejumlah program strategis.
Di antaranya optimalisasi lahan, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, serta peningkatan produktivitas pertanian.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim dan potensi kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan.
Pemerintah berupaya memastikan petani tetap dapat berproduksi sehingga pasokan pangan nasional terjaga.
Amran mengingatkan, capaian ketahanan pangan saat ini harus menjadi motivasi untuk terus memperkuat sektor pertanian.
Pemerintah tidak boleh berpuas diri karena keberlanjutan swasembada membutuhkan peningkatan produksi, penguatan cadangan, serta perlindungan terhadap petani.
"Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir," pungkasnya.