Monday, 02 November 2026


NTP Petani Terus Menguat dari Bulan ke Bulan, Oktober 2026 Cetak Rekor 132,60!

02 Nov 2026, 16:21 WIBEditor : Gesha

NTP petani terus menanjak dari bulan ke bulan. Oktober 2026 mencetak rekor 132,60. Apa yang membuat kesejahteraan petani makin menguat?

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – NTP petani terus menanjak dari bulan ke bulan. Oktober 2026 mencetak rekor 132,60. Apa yang membuat kesejahteraan petani makin menguat?

Kesejahteraan petani Indonesia menunjukkan tren penguatan. 

Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2026 menembus angka 132,60 atau menjadi rekor tertinggi sepanjang pencatatan terbaru. 

Kenaikan ini sekaligus menjadi kabar baik bagi petani di tengah upaya pemerintah memperkuat produksi dan menjaga harga hasil panen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/11/2026), NTP Oktober 2026 naik 1,13 persen dibandingkan September yang berada di posisi 131,12. 

Peningkatan tersebut memperlihatkan bahwa harga hasil pertanian yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran mereka.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan kenaikan NTP ditopang oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,55 persen.

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani hanya mengalami kenaikan 0,41 persen.

Dengan kata lain, pendapatan petani dari hasil penjualan komoditas pertanian mengalami peningkatan lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun produksi.

"Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik 0,41 persen," kata Ateng dalam pemaparan Berita Resmi Statistik.

Menariknya, penguatan NTP tidak hanya terjadi pada satu sektor. Sejumlah subsektor pertanian ikut mencatatkan kenaikan, bahkan hortikultura menjadi penyumbang paling besar pada Oktober 2026.

NTP hortikultura melonjak 6,88 persen, dari 129,50 pada September menjadi 138,41 pada Oktober.

Kenaikan ini didorong membaiknya harga sejumlah komoditas yang banyak dibudidayakan petani, terutama cabai merah, tomat, dan cabai rawit.

Harga yang diterima petani hortikultura meningkat 7,12 persen, sedangkan pengeluaran untuk barang dan jasa hanya naik 0,32 persen.

Selisih yang cukup lebar tersebut membuat subsektor hortikultura mencatatkan pertumbuhan NTP paling tinggi.

"Komoditas yang dominan memengaruhi indeks harga yang diterima petani hortikultura terutama cabai merah, tomat, dan cabai rawit," jelas Ateng.

Kabar positif juga datang dari subsektor tanaman pangan.

NTP tanaman pangan naik 1,07 persen, dari 119,24 menjadi 120,52.

Sementara itu, NTP tanaman perkebunan rakyat meningkat 0,30 persen, dari 171,67 menjadi 172,18.

Kenaikan NTP tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya posisi ekonomi petani.

Sebab, semakin tinggi NTP, semakin besar kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya usaha taninya berdasarkan nilai yang diterima dari hasil pertanian.

Di sisi lain, pemerintah mengaitkan penguatan kesejahteraan petani dengan berbagai kebijakan yang dijalankan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan kesejahteraan petani harus berjalan beriringan dengan peningkatan produksi pangan. 

Pemerintah tidak hanya mengejar target swasembada, tetapi juga ingin memastikan petani mendapatkan harga panen yang menguntungkan.

"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, swasembada pangan berkelanjutan harus beriringan dengan kesejahteraan petani yang semakin membaik. Kita ingin petani sejahtera, produksi meningkat, masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang stabil," ungkap Amran.

Menurutnya, sejumlah kebijakan telah diarahkan untuk memperkuat posisi petani.

Di antaranya penyesuaian harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung, jaminan penyerapan hasil panen, penyederhanaan regulasi penyaluran pupuk bersubsidi, hingga penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen.

Pemerintah juga terus memperkuat pembangunan irigasi, mekanisasi pertanian, kemudahan memperoleh sarana produksi, serta peningkatan produktivitas lahan.

"Kita ingin petani semakin sejahtera. Negara harus hadir melindungi dan memberikan jaminan bagi petani. Jika petani semangat untuk bertani, swasembada pangan berkelanjutan dapat terwujud," tegasnya.

Meski demikian, rekor NTP 132,60 tetap perlu dibaca sebagai indikator perbandingan harga yang diterima dan dibayar petani, bukan berarti seluruh petani mengalami peningkatan pendapatan yang sama.

Pergerakan harga setiap komoditas dan kondisi produksi di masing-masing daerah tetap memengaruhi tingkat kesejahteraan mereka.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018