Saturday, 29 January 2022


Harga Political Will pada Modernisasi Pabrik Gula

15 Dec 2019, 06:02 WIBEditor : Ahmad Soim

Pabrik Gula | Sumber Foto:Ahmad Soim

Ambisi untuk mencapai swasembada gula selalu meleset dari target dan tidak terwujud disebabkan banyak hal, antara lain kendalanya ada dorongan untuk mengimpor raw sugar untuk menutupi kekurangan suplai gula dari dalam negeri.

 

Soedjai Kartasasmita - Pelaku Industri Gula; Terlibat merehabilitasi 42 Pabrik Gula (PG) dan membangun 6 PG Baru; Ketua Umum International Society of Sugar Cane TechnologistsPeriode 1983-1986

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Swasembada gula memang sudah lama menjadi idaman kita. Pada bulan Juni 2010. Prof. Bungaran Saragih dan saya diundang oleh Komisi IV DPR untuk memberikan pandangan-pandangan tentang kemungkinan terwujudnya swasembada gula pada tahun 2018.

 

Waktu itu kami menjelaskan bahwa target itu baru bisa terwujud kalau beberapa  persyaratan dipenuhi antara lain political will dari Pemerintah. Ternyata ambisi untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2018 meleset dari target dan tidak terwujud disebabkan banyak hal yang menjadi kendala antara lain karena dorongan untuk mengimpor raw sugar untuk menutupi kekurangan suplai gula dari dalam negeri sehingga kita menjadi salah satu negara importir gula terbesar di dunia.

 

Sekarang ada wacana lagi untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2029. Dalam hubungan ini supaya jangan terulang kesalahan di masa lalu saya sarankan ada baiknya sejak sekarang dipertimbangkan oleh Pemerintah yang baru untuk membentuk satu tim yang permanen atas dasar keputusan Presiden yang menangani industri gula dengan kompisisi sebagai berikut: Menteri Pertanian sebagai Ketua, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri BUMN, Menteri BPN, Menristek, KaBULOG dan Ketua BKPM sebagai anggota.

 

Tim inilah yang menetapkan policy yang harus ditempuh dengan target swasembada gula pada tahun 2029 disertai dengan road mapnya. Peran riset sangatlah vital antara lain untuk menghasilkan berbagai varietas unggul dan penterapan teknologi mutakhir di lapangan seperti penggunaan drone, penggunaan sensor untuk memonitor persediaan air dalam tanah, aplikasi teknologi drip irrigation supaya setiap tanaman tebu mendapatkan air yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.

 

Komputerisasi untuk menimbang tebu yang masuk pabrikjuga harus diaplikasikan supaya petani sejak awal sudah tahu berapa besar rendemen yang akan diperoleh sehingga sejak awal sudah tahu berapa jumlah uang yang akan mereka terima dari  hasil penjualan tebunya.

 

Teknologi ini belum diaplikasikan di Indonesia padahal sudah lama diterapkan di Thailand, India, Brazil dan negara-negara produsen lain. Untuk meningkatkan profitabilitas perlu dipertimbangkan untuk memproduksi sejumlah derivatif seperti yang dilakukan di Brazil mis. PG dengan kapasitas 10.000 — 20.000 ton tebu per hari selain menghasilkan gula juga menghasilkan beberapa produk derivatif seperti ethanol untuk dipergunakan sebagai BBN yang penjualannya disalurkan melalui PetroBras (Pertamina nya Brazil), ragi untuk pembuatan roti serta listrik untuk dijual kepada PLN nya Brazil.

 

Di India ampas tebu dijadikan sebagai bahan baku untuk sejenis kosmetik yang dapat menjaga kesehatan kulit pemakainya disamping itu ampas tebu juga dijadikan bahan baku bio plastic dan lain-Iain.

 

Ini semua tentunya harus disertai dengan kualitas SDM yang mumpuni supaya industri gula Indonesia mampu mengaplikasikan teknologi baru sehingga sekalipun lahannya terbatas ada peningkatan produktivitas tebu yang signifikan sehingga Indonesia bisa mencapai swasembada gula seperti yang diharapkan.

 

Dalam kaitan ini ada adagio yang biasa kita dengar di lingkungan industri gula di luar negeri : "money is made in the fie|d" .

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018