Wednesday, 10 August 2022


Riset Indonesia, Swasembada Tebu dan Alternatif Industri Gula

28 Jun 2021, 07:29 WIBEditor : Gesha

Pabrik Gula di Indonesia | Sumber Foto:Istimewa

 

 

Oleh: Soedjai Kartasasmita

Anggota kehormatan International Society of Sugar Cane Technologist (ISSCT).

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di industri gula nasional (sebagai Ketua ISSCT-International Society of Sugarcane Technologists tahun 1983 sampai 1986) perkenankanlah saya memberikan komentar mengenai topik gula yang belakangan ini sering dimuat di berbagai media. 

Indonesia dewasa ini merupakan importir gula terbesar di dunia. Sebelumnya, hanya menjadi importir ke 3, setelah Amerika Serikat dan China. Eksportir raw sugar terbesar ke Indonesia adalah India, Thailand dan Brazil. Belakangan produksi Thailand merosot karena kemarau panjang sehingga tergeser oleh Brazil.

Kalau kita ingin swasembada gula, riset harus ditingkatkan karena yang menentukan profitabilitas adalah kualitas tebu yang diolah sehingga money is made in the field.

Indonesia telah melakukan riset sejak jaman Belanda yang ialah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan. Tapi sekarang, karena ketiadaan dana tidak bisa banyak berbuat untuk membantu dengan varietas-varietas tebu yang baru.

Menurut pengalaman saya dengan berbagai kunjungan ke Brazil, varietas yang unggul itu location specific yang artinya untuk berbagai lokasi varietasnya berbeda-beda. Di Brazil, ada laboratorium-laboratorium untuk mencek varietas yang ditanam.

Irigasi,  mutlak perlu untuk pengairan tebu di lapangan di banyak negara lain.  India sebagai produsen gula nomor 2 terbesar di dunia diterapkan drip irigation (kuantum air untuk tiap pohon tebu diamati dengan sensor).

Namun, konsekuensi dari penggunanaan teknologi mutakhir ini ialah bahwa petani dengan berbagai cara harus dididik untuk menterapkan berbagai aplikasinya karena kalau diterapkan dengan baik kesejahteraan petani juga akan meningkat karena produktivitas akan meningkat 3 kali lipat.

Di bidang pengolahan, perlu direncanakan produk-produk sampingan yang bisa dihasilkan pabrik gula seperti ethanol, listrik, ragi untuk roti dan lain-lain. Belakangan ini ampas tebu bisa diolah menjadi berbagai produk. Di Belanda misalnya sudah bisa dibuat menjadi ban mobil dengan kualitas yang lebih tinggi dari karet alam dan emisi CO2 nya lebih rendah dari ban yang dibuat dari karet alam.

Sedangkan, Ethanol di Brazil sudah sejak tahun 1974-1975 dan dijadikan pengganti bahan bakar fosil, industri mobil harus menyesuaikan diri dengan penggunaannya. Ekspor ethanol juga dilakukan oleh Brazil. Sehingga saat harga gula  jatuh, produksi ethanol digenjot. Tetapi saat harga gula naik, produksi ethanol dikurangi.

Namun kini dari segi kesehatan, konsumsi gula di negara-negara maju banyak dikurangi karena lock down dan menyebabkan banyak penderita diabetes. Akhirnya, restoran, pabrik minuman diwajibkan mengurangi dosis gulanya dan menggantinya dengan aspartame, stevia dan lain-lain.

Dari sekian banyak komentar dan pemikiran tersebut, saya berpikir swasembada dan industri alternatif gula tersebut bisa  dicapai kalau Pemerintah konsisten dalam policynya dan para stakeholder tanpa memprioritaskan kepentingannya bisa mendukung Pemerintah.

 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018