Sunday, 24 October 2021


Membangun Informasi Pasar

25 Sep 2021, 13:44 WIBEditor : Yulianto

Dengan alat komunikasi yang kian canggih, pemasaran pertanian kian mudah | Sumber Foto:Dok. SInta

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menjelang panen strawberi, ketua kelompok petani di satu pedesaan Korea Selatan mengirim pesan lewat fax kepada agen pemasaran, memberitakan bahwa strawberi dengan kualitas tertentu, di lokasi anu seluas sekian hektare dengan perkiraan produksi sekian ton akan siap dipanen pada tanggal sekian. Dalam waktu sekian jam daftar beberapa calon pembeli di berbagai kota yang berminat beserta harga tawarannya masuk lewat fax. Selanjutnya hanya dalam hitungan hari, proses transaksi jual beli berlangsung sesuai dengan kesepakatan keduabelah pihak.

Itu terjadi tahun 1990-an, ketika saat itu komunikasi fax masih tergolong teknologi canggih. Penjualan yang sangat fair dan cepat tanpa ada kendala dan perantara. Biaya transaksi hampir nol. Kecuali fee buat agen pemasaran.

Pada awal tahun 1990-an, ketika melewati kebun jagung dalam perjalanan naik kendaraan dari Padang ke Bukittinggi, ada plang di pinggir jalan berukuran 1 x 0,5 meter terbuat dari papan kayu sederhana, bertuliskan “Dijual. Jagung seluas sekian Ha, siap dipanen tanggal sekian. Hubungi si Anu”. Tidak tahu berita selanjutnya dan bagaimana proses jual beli berlangsung, tetapi orang yang melintas di jalan itu tahu bahwa ada yang mau menjual jagung di sana. Itu adalah informasi pasar yang sederhana tapi cukup efektif.

Kasus lain: Pagi-pagi buta petani sayuran dari Cipanas mencarter pikup membawa hasil panen kol ke pasar induk di Jakarta. Di pasar induk dia dikerubungi oleh calo yang menguasai pasar. Pak Tani itu dipersilahkan duduk-duduk di warung sambil minum kopi, sementara sayuran bersama pikupnya dibawa oleh calo entah ke mana. Menjelang siang petani dihubungi dan diberitahu harga tawaran final yang disepakati pembeli. Kalau mau akan dilanjutkan dengan transaksi, kalau tidak mau silakan sayur dibawa pulang kembali. Dibawa pulang kembali? Mau sayurannya busuk?

Bagaimana kalau petani mau punya “lapak” sendiri? Bisa! Tapi sampai sore pun tak akan ada pembeli datang menemuinya. Itu dulu, entah sekarang. Peran calo memang luar biasa. Tidak salah kalau dikatakan nasib petani ada di genggamannya.

Jaman dahulu, hasil bumi satu pikulan saja yang dibawa petani ke pasar masih bisa dijual borongan melalui lelang. Sangat fair dan jelas prosesnya. Entah mengapa proses lelang kemudian hilang. Konon di pasar lelang ikan pun proses lelang harus diawasi ketat karena cukong-cukong pembeli bisa curang, mereka bisa mengatur agar bisa bergiliran membeli ikan dengan harga miring.

Di pasar-pasar sekitar Islamabad, Pakistan, ada bangunan kecil tempat pembeli melapor apabila dia merasa barang yang dibeli kemahalan dan pembeli merasa dicurangi. Sayang penulis tidak mengikuti terlalu jauh untuk mengetahui proses aduan itu selanjutnya. Tapi yang pasti ini terkait dengan informasi pasar.

Barangkali terinspirasi oleh lalulalangnya ojeg saat awal kemunculannya pada tahun 1980-an, seorang teman peneliti pernah punya ide nakal memberi judul proposal penelitiannya “Dampak Revolusi Transportasi Terhadap Informasi Pasar di Pedesaan: Kasus Gojek”. Tentu saja ini jadi bahan ketawaan karena judulnya kelewat bombastis.  Judul itu sengaja dia buat sebagai bahan lucu-lucuan, tetapi bahwa terbukanya akses informasi kota-desa yang semakin baik dengan adanya fasilitas transportasi adalah suatu kenyataan.

Cerita di atas berbicara tentang ragam situasi yang dialami petani dalam menjual hasil pertaniannya. Informasi yang menjembatani petani dengan pembeli itu bisa terbangun dengan baik bagi keduabelah pihak yang bertransaksi, bisa hanya sepihak, bisa hilang atau sengaja dihilangkan. Ada informasi yang efisien sehingga hampir tidak berbiaya, ada juga yang sangat jauh dari jangkauan sehingga petani (maupun pedagang) tidak berdaya.

Semua ini memerlukan pembenahan yang serius kalau pertanian ingin melesat, karena bagaimana pun sistem pemasaran yang tidak adil merupakan penghambat dan berdampak besar pada kemajuan pertanian.

Sekarang alat komunikasi HP sudah sangat canggih, menggantikan semua alat komunikasi lain sehingga proses tukar menukar informasi tidak terkendala tempat dan waktu. Termasuk bukti foto dan video bisa tersedia dan terkirim dalam sekejap. “Informasi lewat HP” sederhana ini yang konon dibangun di Ethiopia untuk menggerakkan pasarnya, sehingga produk sayurannya mampu mengisi pasar Eropa.

Kita tinggal membangun komunikasi dua arah, dari petani dan dari pembeli, dipantau dan dipagari agar berlangsung adil dan wajar. Jangan sampai petani yang kerja keras dan menghadapi banyak resiko itu memperoleh margin yang kecil dan kadang rugi, sedangkan porsi besarnya dinikmati oleh mereka yang ongkang-ongkang kaki dan tidak berlepotan tanah. Mungkin BPP dan Penyuluh Pertanian Lapangan akan berperan besar dalam hal ini.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018