
Makan singkong sebagai pangan pokok
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong atau Manihot esculenta merupakan makanan kampung yang sangat populer di Indonesia. Pertama kali dikenal di Amerika Selatan sejak 10 ribu tahun yang lalu, kenudian dikenalkan di Indonesia saat jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1810.
Sejak saat itu, singkong menjadi sumber pangan yang disukai masyarakat Indonesia dan menjadi makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung. Tidak hanya di Indonesia singkong menjadi bahan pangan utama, negara-negara lain pun membuat berbagai olahan singkong untuk snack maupun makanan pokok.
Singkong pun sudah mendunia dengan menjadi produk ekspor. Di tahun 2020 terhitung ekspor singkong sebanyak 95 ribu ton ke berbagai negara Eropa. Berbagai olahannya seperti tepung dan keripik diminati pasar Eropa dan Amerika.
Bahkan, singkong sangat populer di Amerika Tengah. Di wilayah tersebut singkong memiliki banyak variasi olahan makanan terbuat dari singkong. Biasanya disajikan sebagai makanan utama yang dihidangkan dengan udang maupun daging, juga sebagai kudapan yang dimakan saat minum kopi.
Dengan populernya singkong di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia karena manfaatnya yang menyehatkan tubuh, singkong menjadi komoditas yang bernilai jual tinggi. Karena itu, pemerintah menggenjot budidaya singkong.
Salah satunya di Kota Salatiga yang diresmikan menjadi Kampung Singkong oleh Menteri Pertanian pada 12 Oktober lalu. Kawasan ini merupakan kawasan UMKM olahan singkong yang diproses menjadi berbagai jenis bahan pangan.
Sebelumnya di Salatiga dan Yogyakarta pada 30 September juga diadakan Fiesta Singkong untuk membangun pola kemitraan petani di salah satu grup hotel dan industri pengolahan. Singkong resmi sudah naik kelas menjadi makanan superior ditandai dengan masuknya singkong ke Horeka (Hotel, Restoran, Kafe) dan supermarket kelas atas.
Kota Salatiga yang berada Jawa Tengah memiliki iklim yang mendukung untuk budidaya singkong. Meskipun tanaman singkong dapat tumbuh dimana saja, namun singkong dapat tumbuh maksimal pada iklim tropis dengan curah hujan 1500-2500 mm/tahun, suhu minimal 10 derajat Celcius, derajat keasaman berkisar 4,5-5,5, ketinggian 10-700 mdpl, dengan masa tanam 9 bulan.
Karena itu, singkong dapat tumbuh dengan baik di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Pengolahan singkong tersebar dibeberapa kecamatan di Salatiga, antara lain Sidorejo, Tingkir, dan Argomulyo dengan produksi 20-100 kg per hari. Hal ini tentu saja dapat menyerap tenaga kerja UMKM yang cukup banyak rata-rata 2-10 orang untuk menghasilkan berbagai varian olahan singkong yang lezat.
Tidak heran, Kampung Singkong di Salatiga dapat meraup keuntungan hingga Rp 23 miliar per tahun. Singkongnya naik kelas, petaninya pun makmur.