Kamis, 18 Juli 2024


Pertanian dalam Islam, Fondasi Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Umat

26 Jun 2024, 13:29 WIBEditor : Gesha

Pesantren Pomasda Nganjuk Jawa Timur | Sumber Foto:Soleman

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor--Pertanian bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi dalam Islam, tetapi juga merupakan bagian integral dari kehidupan yang mencerminkan ketaatan kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam Islam, ada lima kebutuhan esensial yang dikenal sebagai dharuriyat al-khamsah: 1) Memelihara agama, 2) Memelihara jiwa, 3) Memelihara akal pikiran, 4) Memelihara keturunan, dan 5) Memelihara harta/properti.

Keberadaan kelima kebutuhan pokok ini bergantung pada seberapa baik mereka dipelihara. Dalam menetapkan hukum, kebutuhan-kebutuhan ini diberi peringkat sebagai dharuriyat atau kebutuhan mendesak.

Misalnya, memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan untuk mempertahankan hidup termasuk dalam kategori dharuriyat dalam memelihara jiwa, karena jika diabaikan, akan mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kita mengenal beberapa istilah terkait pangan: pangan, kedaulatan pangan, kemandirian pangan, keamanan pangan, dan ketahanan pangan.

Menurut UU No 18 Tahun 2012, ketahanan pangan adalah kondisi di mana kebutuhan pangan terpenuhi bagi negara hingga ke tingkat individu.

Hal ini tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik dari segi jumlah maupun mutu, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau.

Selain itu, pangan tersebut tidak boleh bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, sehingga masyarakat dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Sementara itu, dalam konsep Islam, ketahanan pangan merupakan kondisi di mana umat Islam memiliki akses yang aman dan berkelanjutan terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan terjangkau.

Ketahanan pangan sangat penting untuk menjaga kehidupan dan kesehatan umat manusia. Dengan mengupayakan ketahanan pangan, kita secara tidak langsung berkontribusi dalam hifzun nafs (menjaga jiwa) dan hifzud diin (menjaga agama).

Hal ini dapat dipahami dari perspektif bahwa dalam Islam, kebutuhan dasar seperti pangan merupakan hak yang harus terpenuhi bagi setiap individu.

Ketika seseorang tidak dapat mengakses pangan yang cukup, ini seringkali berarti bahwa mereka hidup dalam kemiskinan atau kefakiran.

Kemiskinan dapat mempengaruhi kondisi spiritual seseorang karena tekanan ekonomi yang berat dapat mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan atau bahkan melanggar ajaran agama dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dalam kondisi ekstrem, ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan secara layak, hal ini dapat mengarah pada situasi di mana mereka meragukan atau bahkan meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan mereka untuk mempertahankan hidup mereka.

Oleh karena itu, menjaga ketahanan pangan bukan hanya masalah fisik dan ekonomi, tetapi juga memiliki implikasi yang dalam terhadap kesejahteraan spiritual dan keagamaan individu dalam masyarakat Islam.

Konsep Jaman Nabi

Konsep ketahanan pangan dalam Islam telah dimulai oleh Nabi Yusuf, seperti yang dicatat dalam Al-Qur'an Surat Yusuf (ayat 46-49), saat beliau menafsirkan mimpi Raja Mesir Ar-Rayyan bin Al-Walid, yang diberikan wahyu dari Allah SWT.

Konsep tersebut mencakup: 1) produksi pangan, dengan fokus pada produksi massal gandum sebagai makanan pokok di Mesir; 2) aksesibilitas pangan, dengan manajemen stok untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang; dan 3) pemanfaatan pangan, dengan mendorong gaya hidup hemat dalam konsumsi makanan.

Pertanian, yang ditekankan dalam Islam sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an Surat Yaasin (ayat 34-35) dan praktik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, memegang peran sentral dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Misalnya, kaum Anshar di Madinah membantu kaum Muhajirin dengan menyediakan tanah untuk tempat tinggal dan lahan pertanian.

Bahkan Abu Hurairah, yang dikenal sebagai perawi hadis utama, terlibat aktif dalam kegiatan berladang.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren harus kembali mengikuti prinsip-prinsipnya untuk menjaga ketahanan pangan dengan cara yang sederhana, yaitu menghidupkan kembali kegiatan pertanian atau bercocok tanam.

Hal ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan untuk operasional pesantren.

Selain itu, penting juga untuk membudayakan hidup hemat dalam mengonsumsi makanan, sesuai dengan ajaran seperti yang diajarkan dalam bulan Ramadan untuk mengendalikan diri dan mendapatkan derajat taqwa di hadapan Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

Reporter : Dr. Aldi Kamal Wijaya
Sumber : Opini
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018