
Bantuan untuk bencana banjir bandang untuk Aceh
TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh---Barangkali di sana ada jawabnya.. mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Sebait lirik lagu Ebiet G. Ade tersebut seharusnya menggugah hati nuraini setiap orang agar mau bersahabat dengan alam bukan justru mengekploitasinya. Dampaknya luar biasa, ribuan warga tak berdosa ikut merasakan akibatnya.
Dalam sebulan terakhir, Aceh sedang berduka dengan peristiwa banjir yang telah meluluhlantakkan prasarana jalan, jembatan, rumah penduduk bahkan korban ratusan jiwa yang menyisakan beban psikologis dan trauma.
Banyak warga yang mengungsi karena rumahnya terendam dan hilang, banyak ternak yang mati dan tanaman ikut rusak. Ribuah hektar lahan sawah ikut rusak dengan sedimen setinggi 1 meter lebih.
Kita paham, terjadinya banjir dan musibah lainnya karena hukum sebab akibat (kausalitas). Boleh jadi alam semakin tidak bersahabat dengan manusia karena keserakahan manusia itu sendiri dalam memperlakukan alam.
Keseimbangan alam terganggu akibat ekploitasi secara massif. Hutan yang berfungsi sebagai penyangga, tak henti-hentinya dirambah sehingga gundul tak mampu lagi menahan air saat turun hujan dengan intensitas tinggi. Gara-gara ulah segelintir orang atau oknum perambah hutan, membuat derita bagi rakyat jelata yang tidak berdosa.
Dampak banjir terutama sangat dirasakan oleh warga pemukiman yang tinggal dekat sungai seperti selama ini terjadi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Tamiang sampai Aceh Tenggara.
Sungai tidak mampu menampung debit air yang besar, sehingga menggenangi perkampungan dan lahan pertanian. Sedangkan Aceh bagian Tengah, musibah dalam bentuk banjir dan longsor sehingga merusak dan menutup badan jalan dan beberapa jembatan putus. Banyak orang yang terperangkap bahkan terancam kelaparan akibat susahnya akses jalan.
Kesadaran untuk melestarikan alam
Allah SWT dalam banyak ayat telah menyampaikan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk melestarikan alam, bukan justru merusak alam. karena itu perlu kesadaran yang paripurna dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan dan alam.
Bukankah bumi yang sebelumnya asri penuh keseimbangan yang diwariskan oleh pendahulu kita yang kemudian harus kita wariskan kembali kepada anak cucu. Bayangkan jika bumi yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang berupa bumi yang rusak (Aceh : fak luyak), tentu kita akan menanggung dosa besar. Karena itu, kesadaran ini perlu ditanamkan kepada segenap pihak.
Terkait dengan upaya manusia melestarikan alam, banyak ayat dalam Al Quran yang berbicara tentang kewajiban untuk mempertahankan dan membatasi kerusakan lingkungan. Karena itu, alam semesta dan segala potensinya yang terkandung di dalamnya diberikan kepada manusia untuk dikelola dan digunakan dengan baik. Untuk mengelola dan memanfaatkan membutuhkan usaha dan kerja keras.
Ditinjau dari perspektif Islam, Al Quran telah menyatakan bahwa segala jenis kerusakan yang terjadi di permukaan bumi merupakan akibat dari ulah tangan manusia dalam berinteraksi terhadap lingkungan hidupnya. Menurut kajian Uṣūl Fiqh, ketika Allah melarang melakukan sesuatu berarti Allah juga memerintahkan untuk melakukan sebaliknya.
Misalnya kita dilarang merusak alam, berarti kita diperintahkan untuk melestarikan alam. Adapun status perintah tersebut tergantung status larangannya, misalnya status larangan merusak alam adalah haram, maka status melestarikan alam hukumnya wajib seperti firman Allah dalam Surat Al A’raf ayat 56.
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.
Islam telah melarang segala bentuk pengrusakan terhadap alam sekitar, baik pengrusakan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga diharapkan manusia harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam.
Aksi Cepat Membantu Korban
Banjir yang melanda Aceh bukan sekadar bencana musiman, melainkan ujian serius bagi kita melindungi kehidupan manusia. Ribuan warga yang kini terpaksa mengungsi menghadapi situasi yang kian memprihatinkan. Bahan pangan semakin menipis, air bersih sulit didapatkan, dan akses jalan banyak yang terputus. Jika tidak ada langkah cepat dan sistematis, ancaman kelaparan serta penyakit dapat menjadi bencana susulan yang lebih fatal.
Dalam kondisi darurat seperti ini, seharusnya tidak ada yang lebih prioritas selain memastikan bahwa setiap warga mendapatkan makanan yang cukup. Bantuan pangan langsung dan pendirian dapur umum bukan hanya solusi klasik, tetapi fondasi utama penyelamatan nyawa.
Makanan siap saji, beras, telur, dan susu untuk bayi harus segera diantar ke titik-titik pengungsian. Dapur umum harus hadir di desa-desa yang terdampak agar warga tidak dibiarkan bertahan hidup tanpa jaminan persediaan yang memadai.
Namun, pangan saja tidak cukup. Air bersih dan obat-obatan adalah kebutuhan dasar yang sama pentingnya. Kita tidak boleh menunggu sampai diare, ISPA, atau infeksi kulit merebak akibat sanitasi yang buruk.
Mobil tangki air, obat-obatan dasar, dan posko kesehatan keliling perlu dikerahkan tanpa menunggu perintah panjang. Keterlambatan berarti mempertaruhkan nyawa balita, lansia, dan ibu hamil yang tidak mungkin bertahan dalam kondisi ekstrem.
Pemulihan akses jalan juga menjadi kunci vital. Selama jalur distribusi logistik belum pulih, bantuan tidak akan pernah sampai tepat waktu. Alat berat, relawan, dan pemerintah daerah harus bergerak dalam satu komando untuk membuka jalur yang tertutup lumpur, sampah, atau pohon kayu yang hanyut dari hulu. Tetapi semua langkah darurat ini harus diiringi kesadaran bahwa bencana tidak selesai ketika air surut.
Bencana ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, memperbaiki tata kelola lingkungan, dan menciptakan sistem perlindungan yang lebih kokoh bagi semua warga Aceh.
Saatnya kita bergerak bersama, cepat, dan terarah agar tidak ada lagi warga yang harus bertahan dalam kelaparan dan ketidakpastian. Cukup beralasan jika status bencana Aceh kali ini menjadi bencana dan darurat nasional, karena sifatnya yang massif dan korban yang terus bertambah,
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Forsikal Aceh