Wednesday, 04 November 2026


Konservasi Sapi Pasundan di Pulau Kalimantan

04 Jun 2026, 10:57 WIBEditor : Herman

Penggembalaan Sapi Pasundan di Daerah Pesisir Pantai Selatan Jawa Barat

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Swasembada daging sapi Indonesia merupakan target kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri dengan mengandalkan sumber daya ternak lokal. Permasalahan ketersediaan daging sapi di Indonesia berada pada sektor hulu, yaitu pembiakan. Jika Indonesia ingin memiliki sistem pembiakan sapi yang baik, maka kualitas dan kuantitas induk sapi harus diperhatikan sehingga cita-cita swasembada daging sapi dapat terwujud.

Untuk mencapainya, pemerintah berfokus pada optimalisasi populasi dan kualitas genetik sapi asli Indonesia. Pemerintah perlu lebih memprioritaskan pengembangbiakan sapi-sapi lokal. Pasalnya, sapi lokal terbukti lebih tangguh. Sapi lokal memiliki keunggulan berupa daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, tahan terhadap penyakit tropis terutama parasit, mampu memanfaatkan pakan yang tersedia, serta memiliki siklus reproduksi yang pendek.

Sapi Pasundan merupakan salah satu jenis sapi lokal yang banyak dibudidayakan di daerah pedesaan Jawa Barat. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1051/Kpts/RI/SR.10/2014, Sapi Pasundan merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang memiliki sebaran geografis asli di Provinsi Jawa Barat. Sapi ini merupakan hasil adaptasi lebih dari sepuluh generasi antara Sapi Bali, Sapi Jawa, Sapi Madura, dan Sapi Sumba Ongole. Sejarah panjang sapi ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat telah memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari pertanian, transportasi, hingga konsumsi daging.

Ciri-ciri Sapi Pasundan antara lain memiliki tubuh berbentuk segi empat dengan kaki yang panjang dan kecil serta tanduk yang umumnya pendek. Ternak ini memiliki ciri kualitatif sebagai sapi bangsa Bos sondaicus, yaitu berwarna merah atau merah bata, memiliki garis belut berwarna merah tua atau hitam, serta kaki berwarna putih dengan batas yang tidak kontras pada bagian carpus sampai metacarpus dan tarsus sampai metatarsus. Pada ternak jantan dapat terjadi perubahan warna dari merah menjadi hitam seiring dengan perkembangan kelenjar penghasil hormon androgen.

Rumpun sapi lokal ini memiliki banyak keunggulan, di antaranya tahan terhadap penyakit tropis terutama parasit, tahan haus, mampu memanfaatkan pakan yang tersedia, tahan terhadap cekaman perubahan cuaca, serta memiliki siklus reproduksi yang pendek. Selain itu, sebagai sapi penghasil daging, Sapi Pasundan memiliki keunggulan berupa efisiensi pemeliharaan, persentase karkas yang tinggi, dan kualitas daging yang baik. Sapi ini memiliki potensi sebagai sapi potong unggul karena bobot hidup dewasa dapat mencapai 200–250 kg dengan persentase karkas sebesar 53%.

Menurut laporan Johar Arifin, dosen dan peneliti Sapi Pasundan dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, telah terjadi penurunan populasi Sapi Pasundan yang sangat signifikan di wilayah pesisir selatan Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi sebagai basis utama populasinya. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Bidang Produksi dan Peternakan DKPP Jawa Barat, populasi Sapi Pasundan saat ini diperkirakan hanya sekitar 13.500 ekor yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Penurunan jumlah populasi ternak dapat berakibat fatal terhadap konservasi sumber daya genetik ternak. Lebih lanjut dijelaskan bahwa salah satu penyebab penurunan populasi tersebut adalah menurunnya daya dukung wilayah penggembalaan. Sapi Pasundan umumnya dipelihara dengan pola semiintensif dan ekstensif sehingga sangat bergantung pada sumber daya lain, seperti lahan perkebunan dan kehutanan sebagai area penggembalaan. Namun, banyak lahan penggembalaan yang telah mengalami alih fungsi. Perubahan fungsi lahan tersebut mengubah area penggembalaan yang biasa digunakan untuk melepas ternak menjadi kawasan nonpeternakan, seperti permukiman, kawasan industri, pertambangan, atau lahan pertanian tanaman pangan.

Penurunan populasi Sapi Pasundan harus menjadi perhatian bersama untuk melakukan upaya konservasi dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan populasinya agar tidak mengalami kepunahan. Konservasi ternak lokal merupakan upaya pelestarian sumber daya genetik hewan asli suatu daerah agar tidak punah. Upaya ini bertujuan mempertahankan keanekaragaman plasma nutfah, melindungi ketahanan biologis hewan terhadap iklim tropis, serta menjaga nilai ekonomi dan budaya masyarakat.

Jawa Barat merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Akibatnya, sebagian lahan pertanian dan perkebunan beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perkantoran. Pertambahan jumlah penduduk yang membutuhkan tempat tinggal dan pangan juga turut mendorong perubahan fungsi lahan. Lahan penggembalaan berubah menjadi lahan pertanian, sedangkan lahan pertanian berubah menjadi kawasan permukiman.

Di sisi lain, banyak wilayah di Indonesia memiliki lahan yang sangat luas dan berpotensi mendukung ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia, salah satunya Pulau Kalimantan. Daya dukung pakan sapi di Pulau Kalimantan sangat besar, terutama melalui integrasi sawit-sapi, pemanfaatan limbah pertanian, kawasan kehutanan, perkebunan nonkelapa sawit, serta padang penggembalaan alami yang dapat menyediakan hijauan pakan ternak. Bahkan, lahan potensial di Kalimantan Barat saja diperkirakan mampu menampung hingga 2,9 juta ekor sapi. Optimalisasi potensi tersebut tentu memerlukan pengelolaan dan manajemen pemberian pakan yang tepat.

Data statistik menunjukkan bahwa populasi Sapi Bali telah berkembang pesat di Pulau Kalimantan dan menjadi salah satu komoditas sapi potong yang tersebar merata serta menjadi ternak andalan masyarakat. Populasinya mendominasi jumlah sapi potong di pulau tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Sapi Bali sebagai sumber daya genetik lokal Indonesia mampu berkembang biak dengan baik di wilayah yang bukan habitat aslinya. Bahkan, jumlah populasinya melampaui berbagai jenis sapi potong lainnya. Sapi Bali sangat diminati karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, tahan terhadap penyakit, serta memiliki persentase karkas yang tinggi.

Sebagai ternak lokal, Sapi Pasundan juga memiliki berbagai keunggulan dalam bidang produksi yang berpotensi menarik minat peternak untuk memeliharanya. Selain itu, Sapi Pasundan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan serta mampu memanfaatkan pakan lokal secara optimal, sebagaimana halnya Sapi Bali. Sapi Pasundan juga memiliki sebagian genetik Sapi Bali yang terbukti mampu berkembang biak dengan baik di luar habitat aslinya. Kondisi ini menjadi modal penting sekaligus membuka peluang besar bagi upaya konservasi dan pengembangan Sapi Pasundan di Pulau Kalimantan.

Namun demikian, apabila peluang tersebut ingin dimanfaatkan, diperlukan regulasi khusus yang diterbitkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Regulasi tersebut diperlukan agar pelaksanaannya tidak terkendala oleh berbagai persoalan teknis maupun administratif, mengingat konservasi di luar habitat asli memerlukan persyaratan tertentu.

Selain itu, dibutuhkan kerja sama antarpemerintah daerah, terutama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai daerah asal Sapi Pasundan dan pemerintah provinsi di Pulau Kalimantan sebagai wilayah pengembangan baru. Keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga sangat diperlukan agar proses konservasi dapat berjalan sesuai harapan serta perkembangan populasi Sapi Pasundan dapat dipantau secara berkelanjutan.

Oleh : Iman Hernaman (Dosen Fakultas Peternakan dan Program Studi Profesi Insinyur, Universitas Padjadjaran)

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018