
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah saat berkunjung ke pabrik gula di Cirebon
TABLOIDSINARTANI.COM, Cirebon--- Untuk mengakselerasi swasembada gula, Kementerian Pertanian melaui Ditjen Perkebunan mendorong kemitraan pekebun dengan pabrik gula, serta pelaku usaha lainnya. Salah satu contoh kemitraan yang telah berjalan adalah petani tebu di Cirebon.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengakui, pengembangan gula tebu dihadapkan berbagai tantangan. Diantaranya, distabilitas harga tebu di tingkat petani, keterbatasan lahan, minimnya investasi industri gula berbasis tebu, ditambah lagi dengan adanya perubahan iklim.
Untuk optimalisasi produksi gula, SYL meminta, perlu pemanfaatan teknologi, ketersediaan varietas unggul baru yang adaptif di lahan kering, dukungan pengolahan, peningkatan kuantitas SDM. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan berupaya membuat regulasi yang mendukung hubungan yang harmonis antara pabrik gula dan pekebun tebu.
”Dengan sinergi ini dapat meningkatkan semangat pekebun untuk mengoptimalkan dan mendorong produktivitas, mutu tebu, dan rendemennya," ujar SYL didampingi Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah saat panen tebu di Desa Sidamulya, Kecamatan Astanajapura, Cirebon, Barat, Selasa (11/7).
Seusai panen tebu, SYL bersama Dirjen Perkebunan serta rombongan jajaran lingkup Kementerian Pertanian meninjau pabrik gula di Sindanglaut dan melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).
Kementan melalui Ditjen Perkebunan terus berupaya meningkatkan produktivitas tebu dan pengembangan lahan tebu rakyat. Selain dengan pola ekstensifikasi dan intensifikasi tebu, Ditjenbun juga bersinergi atau berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Untuk itu, pemerintah mendorong pekebun agar bermnitra guna mendukung dan memperkuat percepatan swasembada gula konsumsi.
Dalam hal ini Menteri Pertanian sangat mengapresiasi kerjasama antara Direktorat Jenderal Perkebunan dan Direktorat Jenderal PSP dengan PT Corin dalam menginisiasi model taksi alat mesin perkebunan (TITAN). Program ini diharapkan dapat menekan biaya usaha tebu seminimal mungkin.
Paket TITAN menyediakan alsintan mulai dari pengolahan lahan, tanam, budidaya, panen yang dapat di akses oleh pekebun dan disediakan oleh Pabrik Gula (PG) melalui mekanisme kemitraan. "Pada kesempatan kali ini, Saya juga sangat mengapresiasi PT PG Rajawali II karena telah mendorong revitalisasi PG Sindanglaut untuk mulai giling pada tahun 2023 yang telah idle sejak 2020," ujar SYL.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengungkapkan, tahun 2023 ini pihaknya telah mengalokasikan program peningkatan produksi dan produktivitas berupa intensifikasi seluas 4.700 ha. Terdiri dari Satker Pusat seluas 4.350 ha dan 350 ha di satker daerah (provinsi). Untuk Kab. Cirebon dialokasikan kegiatan rawat ratoon dengan luas 100 ha.
Melalui program tersebut, Andi Nur menambahkan, Kementerian Pertanian memberikan bantuan sarana produksi natura kepada pekebun. Adapun sarana produksi yang diberikan yakni, pupuk majemuk sebanyak 300 kg/ha, pembenah tanah 8 liter/ha dan pupuk Silika 5 kg/ha.
Data angka tetap, produksi produksi gula nasional Tahun 2022 mencapai 2,4 juta ton atau naik 2,1 persen dibandingkan Tahun 2021 yang sebesar 2,35 juta ton. Sedangkan kebutuhan gula konsumsi sebesar 3,2 juta ton, sehingga masih dibutuhkan tambahan produksi untuk swasembada sebesar 850 ribu ton.