Thursday, 22 October 2026


Indonesia Kuasai 80 Persen Pasar Gambir Dunia, Hilirisasi Bisa Hasilkan Rp 516 Triliun!

14 Jan 2026, 08:44 WIBEditor : Gesha

Indonesia menguasai 80 persen pasar gambir dunia, tapi hampir semuanya diekspor mentah. Kalau diolah lebih lanjut, daun gambir bisa menyumbang nilai ekonomi hingga Rp 516 triliun per tahun!

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Indonesia menguasai 80 persen pasar gambir dunia, tapi hampir semuanya diekspor mentah. Kalau diolah lebih lanjut, daun gambir bisa menyumbang nilai ekonomi hingga Rp 516 triliun per tahun!

Indonesia kembali menunjukkan dominasinya di panggung komoditas global. Kali ini, giliran daun gambir, yang produksinya diklaim mencapai lebih dari 80 persen pasokan dunia. Namun, sayangnya hampir seluruhnya diekspor sebagai bahan mentah ke India, sementara nilai tambahnya justru dinikmati negara lain.

 

Staf Khusus Menteri Pertanian, Sam Herodian, menyoroti potensi ekonomi besar yang bisa diraih jika Indonesia menggarap hilirisasi gambir. “Gambir ini luar biasa, produksinya tinggi, tapi hampir 100 persen diekspor mentah. Padahal kalau diolah, nilainya bisa ratusan kali lipat,” kata Sam saat konferensi pers Jakarta Food Security Summit di Gedung Kadin, Jakarta, Selasa (13/1).

Data Kementan menunjukkan, produksi nasional gambir pada 2022 mencapai 18.061 ton dengan nilai ekspor sekitar USD 36,6 juta atau setara Rp 608 miliar. Sumatera Barat menjadi sentra utama dengan kontribusi 64 persen produksi dunia, atau sekitar 14.000 ton per tahun, senilai Rp 486 miliar.

 

Meski angka tersebut terlihat besar, Sam menekankan bahwa ini baru nilai dari ekspor daun gambir mentah. “Nilai ekonomi masyarakat yang langsung diperoleh dari ekspor daun gambir sekitar Rp 54 miliar per tahun. Masih jauh dari potensi sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Sam, masalah utama gambir Indonesia bukan produksi, tapi kurangnya pengolahan di dalam negeri. Saat ini, sebagian besar daun gambir langsung dikemas dan dijual sebagai bahan mentah ke India. Padahal, gambir memiliki potensi luar biasa jika diolah menjadi produk turunan, seperti obat-obatan, suplemen kesehatan, kosmetik, dan bahan industri farmasi.

 

“Nilai tambahnya luar biasa. Pasarnya ada di Jepang, China, bahkan India sendiri, tapi mereka ambil bahan baku dari kita dan mengolahnya sendiri,” kata Sam. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di posisi pemasok bahan mentah, bukan sebagai negara pengolah yang menikmati nilai ekonomi maksimal.

Hilirisasi gambir bisa menjadi game changer bagi perekonomian lokal. Jika produk turunannya diolah dan diekspor, potensi nilai ekonomi bisa mencapai Rp 516 triliun per tahun, meningkat drastis dari nilai ekspor saat ini yang hanya Rp 1,27 triliun. Dengan strategi hilirisasi yang tepat, gambir tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga sumber devisa besar dan penggerak ekonomi rakyat di daerah penghasil, terutama di Sumatera Barat.

 

Sam menambahkan, hilirisasi juga membuka peluang bagi industri farmasi dan kosmetik nasional. Produk seperti Marker-API (Active Pharmaceutical Ingredient) dari gambir memiliki nilai yang sangat tinggi di pasar global, sementara di Indonesia sendiri masih jarang dimanfaatkan. Potensi ini tentu menjadi alasan kuat bagi pemerintah dan pelaku industri untuk serius mengembangkan sektor hilirisasi.

Untuk mewujudkan potensi ini, Sam menyebut bahwa diperlukan kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku industri. Pemerintah bisa mendorong investasi pengolahan, memperluas penelitian produk turunan gambir, dan membangun regulasi yang mendukung hilirisasi. Sementara petani dan produsen lokal perlu mendapatkan pendampingan agar bisa memproduksi bahan baku berkualitas tinggi yang siap diolah menjadi produk bernilai tambah.

“Gambir bisa jadi obat, bisa jadi bahan industri, dan nilai tambahnya luar biasa. Ini saatnya Indonesia tidak hanya jadi pemasok bahan mentah, tapi juga pengolah utama yang menikmati keuntungan ekonomi maksimal,” tegas Sam.

 

Dengan potensi pasar yang begitu besar, hilirisasi gambir bukan sekadar strategi ekonomi, tapi juga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan menegaskan posisi Indonesia di panggung perdagangan global.

 
 
Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018