Thursday, 22 October 2026


Wahyu Widodo, Berbekal Informasi Internet, Sukses Bisnis Jahe Merah

26 Jan 2016, 10:00 WIBEditor : Kontributor

Jika kalangan pemuda lain menjauhkan profesi menjadi petani. Tidak dengan Wahyu Widodo yang justru menjelma menjadi petani sukses.

Berbekal informasi dari internet, dia mengembangkan tanaman jahe. Semangat kemandirian dan keinginan mengubah nasib menjadi modal utama dari salah satu petani muda asal Wonorejo, Wahyu Widodo. “Bapak ibu saya seorang petani. Tahun lalu selepas SMA saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Hanya bantu orangtua di sawah,” ujarnya ketika dihubungi Sinar Tani.

Keluarganya saat itu selalu mendesak dirinya bekerja di pabrik, profesi yang sama dengan beberapa kawan-kawannya. Namun ia tetap bersikeras dan ingin membuka usaha sendiri. "Saya ingin punya usaha, tapi bingung. Ilmu saya nggak tinggi. Kalau bantu orangtua di sawah, ya begitu-begitu saja. Malah saya dimarahi diminta kerja di pabrik terus," tuturnya.

Pengetahuannya yang terbatas hanya di dunia pertanian menjadikan dirinya haus akan ilmu berbudidaya produk pertanian yang baik, benar dan menghasilkan. Dalam pencariannya, Wahyu tertarik jenis tanaman jahe merah. Tanaman ini terbilang laris di pasaran, karena banyak pabrik atau perorangan yang mencari jahe merah sebagai bahan dasar jamu, dan minuman hangat.

Informasi yang ada di daerahnya pun masih terbatas sehingga pada awal mencoba berbudidaya jahe merah dirinya mengaku gagal total.  “Bibitnya saya beli dari kawan, tapi karena saya kira tinggal tanam, ternyata gagal. Bukannya untung malah buntung. Seharusnya sudah panen, jahe merahnya malah mati semua,” kenangnya saat itu.

Ikut Pelatihan

Akhirnya, ada pengelola perpustakaan desa (Perpusdes) yang mengajaknya ikut pelatihan di Perpusdes Sragen. Awalnya, dia menolak karena bayangannya perpustakaan yang berdebu, kumuh, gelap dan membosankan. Namun, orangtuanya mendesak ikut dari pada seumur hidup hanya menjadi petani kecil. “Waktu itu orangtua saya bilang mungkin pelatihan di perpustakaan bisa membuka jalan menjadi wirausahawan,” tuturnya.

Ucapan orangtuanya pun ternyata benar adanya, di Perpusdes Sragen, Wahyu dilatih komputer dan menggunakan internet. Tak hanya itu, Wahyu juga dicekoki video motivasi dari wirausahawan yang sukses. Sejak itu dia rajin mencari cara budidaya jahe merah yang benar dengan memanfaatkan internet di Perpusdes.

Sepulangnya dari pelatihan dia lalu meminjam modal sebanyak Rp 200 ribu dari kakaknya. Ditambah sisa uang jajan, akhirnya terkumpul Rp 400 ribu sebagai modal membeli bibit jahe merah secara online. “Tapi bibit ini lagi-lagi gagal untuk tumbuh. Akhirnya saya cari lagi bagaimana caranya untuk membuat bibit jahe merah sendiri,” ceritanya.

Berbekal informasi di internet, dirinya mempelajari cara menyemai bibit yang baik dan menanam. “Ternyata hasilnya bagus. Saya nggak nyangka bisa punya bibit yang bagus. Saya memang fokus ke bibit, karena lebih laku, tapi merawatnya susah," tutur Wahyu menceritakan perjuangannya.

Untuk menghasilkan bibit tanaman jahe merah, Wahyu mengakui, memerlukan waktu tanam lebih lama. Setidaknya sekitar 5-10 bulan jahe merah baru bisa menghasilkan buah untuk dikonsumsi. Sedangkan bibit jahe merah perlu waktu budidaya sampai satu tahun.

Dalam pemasaran benih jahe, Wahyu pun memanfaatkan jejaring media sosial. Pembeli pertamanya dari Purwodadi, setelah itu pesanan datang dari Solo. Dari dua pelanggan pertamanya tersebut, Wahyu sudah bisa kembali modal Rp 400 ribu.

Sejak Januari 2015 hingga sekarang dia sudah melayani pesanan, tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga Sumatera.  “Orderan mulai banyak, saya sering kirim ke Purwodadi, dan Purworejo. Belakangan malah kirim juga ke Garut, Subang, Jepara, Jember. Belum lama ada yang memesan dari Jambi, dan Pekanbaru. Alhamdulillah sekarang omzet bisa mencapai Rp 10 juta,” ungkapnya.

Dalam memproduksi Wahyu memanfaatkan lahan seluas 30 meter miliknya. Produksinya kini sebanyak 100 kg bibit jahe merah. Menariknya, pola tanam yang diterapkan Wahyu seratus persen organik, tanpa bahan kimia, dan pestisida.

Wahyu yang semula tidak bisa kuliah, kini sudah mampu membiayai kuliah di jurusan Agribisnis di Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta. Tak ingin sukses sendiri, Wahyu berniat menularkan semangat kemandirian kepada rekan-rekan di kampusnya dan memberdayakan pemuda di daerahnya agar tidak bekerja di pabrik agar memiliki penghasilan sendiri. Gsh/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018