Kedatangan Suprapto dari Pulau Jawa ke Kalimantan Tengah, khususnya ke Palangka Raya, tak lain ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Menjadi transmigran, dia ditempatkan di daerah lahan gambut yang wilayahnya di Pal 16 atau sekitar 3 KM dari Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya Kalimantan Tengah.
“Awalnya saya penasaran bagaimana bisa menaklukkan lahan gambut agar bisa ditanami,” kata Suprapto yang saat ini berusia 45 tahun. Dengan modal penasaran tersebut, dia ingin mencoba bertani di lahan gambut yang tergolong tanah marginal.
Catatan Kementerian Pertanian di Indonesia potensi pengembangan pertanian di lahan gambut sekitar 3-4 juta hektar (ha). Dengan ketersediaan cukup luas tersebut, lahan gambut cukup potensial untuk mendukung ketahanan pangan. Fakta lapang hampir 15-20% lahan gambut sudah dimanfaatkan dan umumnya sangat produktif, serta menguntungkan.
Namun di sisi lain, pemanfaatan lahan gambut untuk usaha pertanian masih menimbulkan pro dan kontra. Aktifis lingkungan menolak keras pemanfaatan lahan gambut karena alasan pemanasan global.
Meski ada pro dan kontra, bagi Suprapto dengan tekad dan keinginan yang kuat, dia mulai menggarap lahan gambut tersebut. Pertama yang dia lakukan adalah membuka lahan yang awalnya hutan. Lalu dia membudidayakan berbagai macam tanaman, seperti jagung, sawi, kacang panjang, timun, seledri, kangkung, cabe, tomat, terong, melon dan berbagai jenis sayuran.
Pembukaan lahan ini dilakukan kurang lebih tiga bulan. Setelah itu tanah diolah dan diberikan pupuk kandang dan kapur dolomit agar tanah tersebut dapat ditanam dengan baik. Dari hasil keja keras, Suprapto bersama teman-temannya, akhirnya membuahkan hasil.
Hasil panen, dia jual ke pasar dan sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dari pada beli lebih baik mengambil hasil tanaman sendiri. Lebih hemat dan malahan menguntungkan,” kata Suprapto sambil memanen hasil sayuran yang ditanaminya.
Menata Air
Dengan usaha yang gigih, Suprapto yang dinobatkan sebagai Ketua Kelompok Tani Berkah Mandiri Gemilang ini mampu menaklukkan tanah gambut. Dia menata air agar air tidak tergenang dan membuat petak-petakan atau bedengan-bedengan agar air tidak langsung mengenai tanaman.
Air yang tergenang di lahan gambut memang menimbulkan pirit atau racun. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk mengurangi risiko racun, Suprapto memberikan pupuk kandang yang terdiri dari kotoran ayam, sapi dan kambing.
“Tanah gambut tergolong tingkat keasamannya tinggi, maka dengan pemberian pupuk kotoran ternak akan menaikkan pH tanah dan menambah nutrisi tanah, sehingga tanah tersebut tidak terlalu masam dan dapat ditanami,” katanya.
Suprapto mengakui, banyak petani yang belum pernah tersentuh penyuluh pertanian, sehingga tidak mengerti dalam mengelola lahan gambut. Bermodalkan pengetahuan yang minim dan dengan cara yang hanya berasal dari pengalaman sendiri, petani mengelola lahan gambut tersebut. Tapi dengan keuletan dan kegigihan anggota kelompok tani, tanah gambut dapat disulap menjadi tanah yang subur dan gembur.
Meski telah mampu menaklukkan lahan gambut, Suprapto berharap, pemerintah melalui penyuluh pertanian tetap memberikan bimbingan cara bertani yang baik di lahan gambut.
“Kami berharap agar ke depannya dapat dibimbing lebih dalam lagi dalam bertani baik itu dari segi pengetahuannya maupun cara-cara bertanamnya. Kita akan menyambut baik dan sangat senang dengan kedatangan penyuluh BPTP Kalteng ke sini, untuk memberikan masukan dan pengetahuan tentang pertanian agar kita dapat lebih maju lagi dalam bertanam,” tutur Suprapto.
Dalam pemanfaatan lahan gambut, Kementerian Pertanian telah membuat kebijakan, bahwa lahan gambut yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan ialah gambut dangkal (di bawah 100 cm). Alasannya, gambut dangkal memiliki tingkat kesuburan relatif lebih tinggi dan memiliki risiko lingkungan lebih rendah dibandingkan gambut dalam.
Tanaman pangan yang mampu beradaptasi antara lain padi, jagung, kedelai, ubikayu, kacang panjang dan berbagai jenis sayuran. Sedangkan lahan gambut dengan ketebalan antara 1,4-2 meter tergolong cocok untuk beberapa tanaman tahunan seperti karet dan kelapa sawit. Dewi Ratnasari (BPTP Kalteng)/Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto