Usianya baru 44 tahun, namun Ahmad petani asal Bima NTB yang merantau ke Kalimantan Barat mampu mendulang kesuksesan, meski berusahatani di lahan gambut.
Berawal dari usaha bertanam jagung, sejak tahun 2012 Ahmad memberanikan diri untuk bertanam sayur-sayuran karena termotivasi dari teman-teman seprofesinya yang sudah terlebih dahulu bertani sayur.
“Soalnya kalau kita hanya mengandalkan dari bertani jagung, penghasilannya tidak bisa setiap saat. Karena tanaman jagung hanya sekali panen, sudah selesai. Berbeda dengan tanaman sayur. Kita bisa panen dan mendapat uang setiap saat,” tutur Ahmad.
Beragam jenis sayuran telah dibudidayakan mulai dari kangkung, cabai, timun, tomat, labu, pare, kacang panjang hingga gambas. Namun belakangan ia lebih fokus untuk membudidayakan tiga jenis sayuran yaitu pare, gambas dan labu air.
“Gambas, pare dan labu air harganya paling stabil daripada sayuran yang lain. Makanya saya fokus di tiga sayur itu,” jelas Ahmad.
Masing-masing jenis sayuran dibudidayakan pada sebidang lahan dengan luasan 1.000-1.500 m2. Ia menerapkan model tanam rotasi. Misalnya pada petak pertama ditanami labu air sampai menjelang panen. Baru kemudian gambas di lokasi lahan kedua sampai menjelang panen lagi, setelah itu di lokasi lahan ketiga ditanami pare. Selesai panen pare. Ahmad menyelingi dengan menanam jagung. Begitu juga yang Ahmad lakukan dengan lahan kedua dan ketiga.
Karena itulah Ahmad dapat menikmati panen sayuran hampir tiap dua hari sekali. Dengan menanam gambas dan labu air, Ahmad mendapatkan penghasilan kotor sebesar 6 juta dalam waktu 3 bulan tanam dengan luas lahan sekitar 1.000-1.500 m2. Dengan menanam gambas dan labu air ia memperoleh penghasilan bersih lebih dari 3 juta. Sedangkan dari bertani pare, Ahmad mampu menghasilkan sebesar 12 juta dalam kurun waktu 4 bulan tanam.
Dalam melakukan budidaya sayuran, Ahmad mempekerjakan 2 orang ditambah dengan tenaganya sendiri dan istrinya. Besaran upah untuk tenaga kerja wanita sebesar Rp. 50.000 dan untuk tenaga kerja laki-laki sebesar Rp. 70.000 per hari. Mereka mulai bekerja dari pukul 06.00 sampai 11.00 WIB.
Sejak bertani sayur, Ahmad pernah mengalami beberapa kali gagal panen. Biasanya terjadi saat musim kemarau. Namun menurut pengakuannya belum pernah sampai mengalami gagal total. Yang paling sering terjadi yaitu penurunan produksi sayuran dan balik modal saja.
“Tapi kadang saling menutup antara hasil sayuran yang satu dengan lainnya. Nah, itu keuntungan yang saya rasakan karena melakukan rotasi dalam bertanam sayur,” tandasnya.
Kunci Keberhasilan
Menurut Ahmad untuk mencapai kesuksesan bertani di lahan gambut, petani harus sungguh-sungguh dalam menjalankan usahanya harus tertanam dalam hatinya bahwa bertani adalah sebagai mata pencaharian, sehingga harus dikerjakan dengan optimal. Ketika suatu saat petani mendapat pendampingan maupun bantuan program dari pemerintah dengan cuma-cuma, sebagai petani yang ingin sukses tidak boleh terlena. Petani harus senantiasa berpikir, bagaimana dengan adanya pendampingan atau program bantuan tersebut, ke depannya mampu lebih maju.
Kesulitan dalam permodalan, seharusnya tidak boleh menjadi alasan untuk mudah menyerah. Petani dapat dengan mudah mendapatkan pinjaman modal, baik dari kas kelompok tani, koperasi atau bank. Petani harus memiliki prinsip jangan mudah menyerah ketika kesuksesan belum menghampiri. Petani harus menggunakan akalnya, lalu berupaya menemukan solusinya.
Petani juga dapat meminta bantuan kepada PPL yang menurut Ahmad, pendampingan dari PPL selama ini cukup baik (hampir setiap hari PPL turun ke petani). Akan tetapi perlu diintensifkan lagi pendampingannya supaya petani semakin termotivasi.
“Selama ini kami belajar sendiri terkait teknis-teknis bertani dan saling tukar pikiran sesama petani. Sebenarnya kami perlu program pendampingan dari pemerintah terkait pasca panen. Dari panen, packing sampai cara pemasarannya,” papar bapak tiga anak itu. M. Syahri Mubarok.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto