Thursday, 22 October 2026


Maria Loretha, Mama Sorgum dari NTT

11 Oct 2016, 12:19 WIBEditor : Kontributor

Sorgum telah lama dikenal sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. Sayangnya, pengembangannya masih jalan di tempat. Petani sorgum pun harus berjuang sendirian. Satu di antaranya adalah Maria Loretha, sang Mama Sorgum dari Nusa Tenggara Timur.

Sejak tahun 2004 Maria memilih hidup sederhana dengan menjadi petani di Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perempuan keturunan Dayak Kanyatan ini mengikuti jejak sang suami untuk tinggal di Flores.

“Di sini saya tinggal bersama anak-anak setelah pindah dari Malang, Jawa Timur. Di daerah terpencil ini saya harus bisa memulai hidup baru. Tapi yang saya lihat hanya tanah kering. Sempat terbersit pertanyaan tanaman apa yang bisa hidup di tanah kering seperti ini?,” tuturnya.

Perkenalan Maria dengan sorgum, berawal dari tetangganya yaitu Maria Helen. Dari tetangganya itu ia mendapatkan sepiring sorgum yang diberi parutan kelapa. Setelah ia coba ternyata rasanya gurih dan sedap.

Dari situ, Maria pun tertarik mencari benih untuk ditanam di kebun milik keluarga. Maria begitu rajin berburu benih sorgum yang terbilang masih langka hingga ke beberapa desa. Niat dan jerih payahnya tak sia-sia. Ia berhasil mendapat benih sorgum pertamanya dari Desa Nobo, Kecamatan Ilebura.

Pada tahun 2007 Maria mulai menanam sorgum di lahan miliknya. Dengan mempelajari dan mengenali karakter sorgum, Maria kian bersemangat untuk terus bertanam sorgum dan menularkannya kepada banyak warga di desanya untuk bertanam dan mengkonsumsi pangan lokal ini.

Kesulitan Awal

“Awalnya mereka enggan mengkonsumsi biji sorgum karena bentuknya yang seperti biji jagung. Di sini sudah terbiasa makan beras, padahal tanah di Adonara ini tidak cocok untuk ditanami padi sawah. Jadinya, beras didatangkan dari luar kota. Otomatis harganya pun sangat mahal,” ungkapnya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018