Thursday, 22 October 2026


Kanta Bangun Rumah dari Beternak Sapi

16 Mar 2017, 18:35 WIBEditor : Pimpinan Redaksi

Kanta (55) menjadi peternak sapi secara turun temurun. Meski demikian, Kanta merasa keterampilannya belum cukup untuk mengelola ternaknya. Sebab itulah, Kanta membuka diri untuk  masukan teknologi pengelolaan ternak dan kelembagaan taninya.

 

“Saya menjadi peternak sapi karena keturunan. Orang tua kami, juga saya bisa bangun rumah dari beternak sapi,” jelas Kanta Ketua Kelompok Ternak Mekar Tani II Desa Singosari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor kepada Sinar Tani.

Jumlah sapi yang dikelola Kanta pernah mencapai 15 ekor. “Sekarang tinggal 4 ekor. Dalam setahun, minimal saya dapat anak 2 ekor. Sapi umur 1,5 – 2 tahun, laku dijual Rp 27 juta untuk sapi jantan dengan berat sekitar  7 kuintal. Harga jual paling mahal saat lebaran kurban. Pada bulan lain, harganya Rp 20 juta per ekor sapi jantan,” tambahnya.

Ada 22 petani yang bergabung dalam kelompok ternak Mekar Tani II. Mereka memiliki ternak sapi antara 2-3 ekor yang dikandangkan di tempat masing-masing.

Kelompok Ternak ini tergolong kelompok yang sudah menerapkan teknologi budidaya modern. Karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor memberikan bantuan induk sapi bunting 20 ekor pada tahun 2015.  

 

Penyuluhan

Jajang SP Penyuluh Pertanian (PPL) di Singosari adalah salah satu sosok yang punya andil dalam meningkatkan kemampuan Kanta dan peternak dalam kelompok ternak ini, dalam menerapkan teknologi maju untuk memilihara kesehatan ternak.

“Kita secara rutin melaksanakan rapat kelompok, kita diskusikan dengan PPL bagaimana agar ternak kita sehat dan produktif,” kata Kanta.

Secara rutin, ternak sapi di kelompok ternak ini disuntik , dan diberi minum jamu. Kalau ada keluhan tentang kesehatan yang tidak bisa ditangani peternak dan PPL, maka mereka akan datang ke Kantor UPTD Poskeswan (Pos Kesehatan Hewan). Manajamen kesehatan hewan seperti ini sudah dilakukan kelompok tani ini sejak tahun 2009.

Jajang juga mengajari para peternak praktek membuat konsentrat.   Dengan keterampilan bisa membuat konsentrat sendiri, peternak bisa menghemat biaya dan ternaknya cepat besar.  Sapi-sapinya juga diberikan pakan rumput.

Dengan perawatan kesehatan yang baik, Jajang menjelaskan peternaknya biasa melakukan kawin suntik setelah  3 bulan indukan sapinya  beranak. “Kawin suntik (IB) diberikan Pemda Kabupaten Bogor secara  gratis. Sekitar 9,15 bulan sejak bunting, indukan sapi betina sudah melahirkan.

Kelompok ini juga memiliki keterampilan mengolah kotoran ternak sapi menjadi pupuk. Jajang PPL yang mendampingi Kelompok Ternak ini pada tahun 2014 terpilih sebagai PPL  terbaik tingkat kabupaten. Pada tahun 2015, meraih Juara 1 pelayanan ketahanan pangan.

Pada tahun 2017, Pemda Kabupaten Bogor menjadikan daerah Jonggol ini menjadi daeah yang  mandiri daging (sentra). Produksi ternaknya bisa dipasarkan di  Pasar Hewan Jonggol dan mencukupi kebutuhan daging di wilayah ini.

 

Pelayanan Keswan

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bogor Siti Farikah mengatakan untuk membantu para peternak dinas memberikan pelayanan kesehatan hewan. Di Kabupaten Bogor tingkat keguguran ternak sapi masih di atas 2 persen. “Target kita bisa nol persen,” jelasnya.

Untuk mendekatkan pelayanan kesehatan hewan itu, Pemda Kabupaten Bogor memiliki UPTD Pos Kesehatan  Hewan. “Tugasnya adalah memberikan pelayanan keswan kepada kelompok ternak yang sudah dibantu maupun yang akan dibantu. Juga memberikan pelayanan keswan di luar kelompok,” tambahnya.

Semua peternak sapi di Kabupaten Bogor menurutnya harus dilayani, caranya dengan mengoptimalkan sumberdaya manusia yang ada, diantaranya adalah PPL, tenaga harian lepas, petugas medis dan para madis.

Tentang keberhasilan program ini menurutnya sudah dirasakan peternak, namun kalau dilihat datanya belum begitu terlihat karena lalu lintas ternak yang tinggi di Kabupaten Bogor,” jelasnya. Som/Humas BPPSDM Pertranian

 

 

Editor : Pimpinan Redaksi

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018