Thursday, 22 October 2026


H Saupi Bantu Petani Tanpa Uang

24 Mar 2017, 06:31 WIBEditor : Pimpinan Redaksi

“Saya merasakan beratnya jadi petani. Kasihan lihat petani. Saya jalan keliling persawahan. Bila melihat tanaman padi terserang penyakit, saya berhenti dan cari petaninya, sampai ketemu. Saya ajak petani mengobati tanamannya agar berhasil panen,” kata H Saupi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Renteng, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, NTB.

 

Bapak dua putri  dan dua cucu ini, seringkali berkeliling sawah dengan mengendari mobil bak terbuka L300. Sejak kecil dia sudah bertani bersama ayahnya. Meski tidak tamat sekolah dasar, H Saupi punya banyak keterampilan bertani dan mengikuti teknologi terbaru.

“Saya sudah coba varietas-varietas padi terbaru seperti Inpari 22, Inpari 30 dan Inpari 31. Saya juga sudah tanam sistem jajar legowo 2:1 dan 3:1.  Akhirnya saya pilih Inpari 22 dan Inpari 31. Sistem jajar legowonya saya pilih yang 3:1,” jelasnya kepada Sinar Tani di saung taninya di  lahan milik Pemda seluas 6 ha yang disewanya sebagai learning center (pusat pembelajaran) para petani bercocok tanam padi.

Untuk mengelola pusat pembelajaran petani itu, H Saupi bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB dan perusahaan swasta yang bergerak di bidang proteksi tanaman Syngenta.

“Lahan ini adalah khusus kami gunakan untuk learning center, kalau ada sisa dari hasil produksi padinya Alhamdulillah, itu rezeki kami,” ungkapnya.

H Saupi juga melakukan kunjungan ke para petani dan berdiskusi kepada mereka. H Saupi menawarkan kepada para petani sebuah teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas padi sawah petani hingga 10 ton Gabah Kering Panen (GKP) lebih per ha. “Saya jamin bila produksinya kurang dari yang kita targetkan, selisih kekurangannya kami ganti,” tambahnya.

H Fadil Akbar (40), Ketua Gapoktan Penginang Kuning  di Desa Penuja, Kecamatan Praya Barat adalah salah satu petani padi yang belajar sistem tanam padi dari H Saupi. Dia meninggalkan pekerjaannya menjadi kontraktor bangunan dan memilih menjadi petani padi serta membuka kios sarana produksi pertanian.

“H Saupi membagi ilmu teknologi bertaninya kepada kami secara gratis. Kami pun meniru beliau. Kami keliling persawahan padi, termasuk yang bukan anggota kami,” tambahnya.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih Permana yang pernah menjadi Kepala Dinas Pertanian di NTB mengatakan Gapoktan Bismillah adalah gapoktan yang mandiri. “Kami membina Gapoktan ini bukan hanya untuk membesarkan Gapoktan ini, melainkan juga agar mereka menjadi penyuluh pertanian swadaya yang punya komitmen besar untuk mengembangkan sistem budidaya pertanian,” tambahnya kepada Sinar Tani di Praya.

Dadih berharap para PPL pegawai negeri sipil atau yang organik bisa mencontoh apa yang dilakukan H Saupi bahkan lebih dari H Saupi. Som

Editor : Pimpinan Redaksi

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018