Thursday, 22 October 2026


Noni Amilasasi, Memupuk Kemandirian Lewat Bertani Sayuran

22 Aug 2017, 12:14 WIBEditor : Gesha

Menjadi anggota keluarga miskin di desa bukanlah suatu pilihan. Namun berkat keteguhan hati  dan keinginan merubah keadaan, Noni Amilasasi kini mampu hidup mandiri  dan meraih keberhasilan sebagai petani hortikultura.

Masih teringat jelas oleh Noni bagaimana menderita hidupnya saat tinggal bersama kakek neneknya di Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kakek hanya petani kecil dan nenek sehari-hari  menjual kayu kering yang dihargai Rp 2.000 per ikat. Ibu sudah lama meninggal sewaktu melahirkan saya. Sedangkan ayah sudah berkeluarga lagi. Otomatis saya harus banting tulang untuk membiayai kebutuhan sekolah sampai SMA,” ungkapnya.

Dirinya juga sempat prihatin  melihat kenyataan banyak teman-teman sebayanya  yang harus menjadi ibu saat usianya masih belasan, lantaran tidak ada pilihan kehidupan yang harus mereka jalani. “Saya juga sempat dipaksa untuk menikah agar tidak menjadi beban keluarga. Padahal, cita-cita saya ingin  bisa kuliah di Yogya,” tuturnya.

Di tengah kebimbangan diri beruntung  di tahun 2015 Noni berkenalan dengan Plan Internasional Indonesia yang fokus menggerakkan dan melindungi wanita usia produktif untuk mandiri.

Pendampingan Petani

Adapun salah satu program dari LSM tersebut  adalah melaksanakan  pendampingan petani muda dan Noni tertarik untuk bisa ikut bergabung. “Kalau dulu memang saya sering bertanam sayur mayur di halaman rumah. Tetapi hanya untuk kebutuhan sendiri saja, belum kepikiran untuk dijual,” tuturnya.

Berkat program pendampingan, dirinya bisa meningkatkan kemampuan bertani dan pertanian organik serta hortikultura menjadi pilihannya. “Saya bertanam sawi, kol dan kangkung karena cepat bisa dipanen,” kata Noni.

Kini dari semua usahanya itu ia bisa mengantongi Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu setiap dua minggu. Bahkan sebagian pendapatannya bisa disisihkan untuk bisa melanjutkan pendidikan yang selama ini tertunda.

Sembari menunggu tabungannya cukup, dirinya berusaha menularkan ilmu bertaninya kepada perempuan-perempuan sebayanya yang kini berstatus ibu rumah tangga. “Bertanam hortikultura khususnya organik bisa dilakukan di pekarangan rumah. Minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Jika ada lebihnya bisa dijual ke pasar ,” cerita Noni.

Di masa depan, Noni bercita-cita menjadi kepala desa wanita pertama di desanya. Serta berkeinginan untuk menggerakkan wanita menjadi petani muda nan mandiri sehingga bisa memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih gemilang. gsh/Ira/planinternasional

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018