Wednesday, 21 October 2026


Pasar Menggiurkan, Petani Jawa Tengah Lirik Talas Beneng

04 Feb 2022, 09:45 WIBEditor : Yulianto

Talas beneng banyak ditanam petani di Pandeglang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Talas beneng (besar dan koneng/kuning) selama ini hanya dikenal di Provinsi Banten. Dengan potensi pasar yang cukup menggiurkan, kini banyak petani di Jawa Tengah mulai melirik tanaman tersebut.

Talas Beneng ini merupakan Sumber Daya Genetik (SDG) lokal dari Banten yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 981/HK.540/C/10/2020 pada 13 Oktober 2020.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Supriyanto mengatakan, Talas Beneng sudah banyak dibudidayakan petani di Jawa Tengah pada lahan petani di beberapa kabupaten dan kota. “Pada tahun 2021 ada sekitar 94,53 hektar lahan pertanaman yang tersebar di 10 kabupaten dan 2 kota.

“Data yang kami peroleh Kabupaten Purworejo merupakan kabupaten dengan luasan pertanaman tertinggi di Jawa Tengah dengan 30 hektar diikuti dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Wonogiri dengan masing-masing terdapat 15 dan 13 hektar lahan pertanaman Talas Beneng,” kata Supriyanto saat Bimbingan Teknis Sosialisasi Daring (BTS) Propaktani  Prospek Talas Beneng di Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, Provinsi Jawa Tengah pada Desember tahun 2021 lalu telah melakukan ekspor daun talas beneng sebanyak 3,3 ton ke Australia melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tak hanya itu, ke depan pihaknya terus berupaya agar ekspor daun talas (beneng) tetap berjalan dan meningkat tonnasenya di kemudian hari.

“Ya dengan cara mendorong agar Talas Beneng tetap ditanam secara baik sesuai dengan standar budidaya tidak hanya kepada petani namun juga ke masyarakat,” sebut Supriyanto.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, pemerintah saat ini mendorong diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal yang tertuang dalam Cara Bertindak 2 (CB 2) Pembangunan Pertanian. Komoditi pangan lokal Indonesia harus digenjot memasuki pasar konsumsi internasional. 

Karena itu, kata Suwandi, pangan lokal harus dipersiapkan sebaik mungkin dan diperkenalkan dengan baik, sehingga mampu menggaet perhatian pasar ekspor. Momentum perubahan iklim di berbagai belahan dunia membuat ruang bagi produk olahan kita dapat masuk ke pasar internasional. “Jadi ketika negara lain mengalami stag dalam mencukupi kebutuhan dalam negerinya kita mampu hadir untuk menutupinya,” ujarnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018