
Porang
TABLOIDSINARTANI.COM, Alor --- Kabupaten Alor kini memiliki komoditas unggulan baru yang kian menjanjikan bagi perekonomian masyarakat, yakni porang (Amorphophallus). Tanaman yang dahulu dikenal sebagai ubi gatal ini kini bertransformasi menjadi primadona pertanian dengan nilai ekonomi tinggi.
Secara geografis, Kabupaten Alor memiliki wilayah daratan yang bergunung-gunung serta kawasan kepulauan. Kondisi ini menciptakan variasi iklim yang sangat mendukung pengembangan beragam komoditas pertanian, perkebunan, dan kehutanan, termasuk porang.
Selama ini, Alor dikenal memiliki kekayaan komoditas seperti kemiri, kenari, cendana, vanili, kopi, kelapa, cengkeh, kakao, rambutan, jeruk manis, mangga, hingga porang.
Bahkan, beberapa komoditas telah menjadi ciri khas daerah, seperti Mangga Alor (mangga kelapa) dan Kenari Alor yang populer dengan sebutan Alor Nusa Kenari. Selain itu, masyarakat juga mulai membudidayakan tanaman lain seperti durian dan stroberi.

Di antara berbagai komoditas tersebut, porang menjadi tanaman yang paling menyita perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Tanaman ini sebelumnya tumbuh secara alami di hutan-hutan, namun kini telah berkembang menjadi komoditas unggulan daerah.
Dukungan pemerintah daerah pun semakin nyata dengan dibangunnya pabrik pengolahan porang oleh Wakil Bupati Alor, Rockhy Winario.
Sejak saat itu, minat petani untuk membudidayakan porang meningkat pesat. Selain memiliki nilai jual tinggi, porang juga dikenal mudah dibudidayakan dan dipanen. Umbinya tidak tertanam terlalu dalam, bahkan sebagian berada di permukaan tanah, sehingga memudahkan petani saat panen dibandingkan tanaman umbi lainnya.
Salah satu sentra penghasil porang terbesar di Pulau Pantar berada di Desa Lalafang/Tonte, sebuah desa pegunungan yang kini menjadi tujuan utama para pedagang. Baik di musim hujan maupun kemarau, pembeli datang setiap hari untuk mendapatkan porang dari desa tersebut.
Meski tanaman ini memiliki efek gatal saat diolah, nilai ekonominya yang tinggi membuat porang semakin diminati. Padahal, di masa lalu, porang justru dianggap tanaman pengganggu dan sering dimusnahkan dari lahan pertanian karena belum memiliki nilai pasar.