Wednesday, 21 October 2026


Sempat Bergejolak, Harga Pangan Mulai Jinak Usai Lebaran

09 Apr 2026, 13:02 WIBEditor : Herman

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Setelah sempat bergejolak selama Ramadan dan Idulfitri, harga pangan pokok kini mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.

Pemerintah bergerak cepat memastikan kondisi ini tetap terjaga, tidak hanya di tingkat konsumen, tetapi juga bagi para petani dan peternak sebagai produsen.

Melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), berbagai langkah strategis terus diperkuat. Kebijakan seperti Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) menjadi instrumen utama untuk menjaga agar harga tetap terkendali di pasaran.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyebut stabilitas yang mulai tercapai ini tidak lepas dari respons cepat pemerintah dalam menghadapi dinamika harga di lapangan.

“Pergerakan harga pangan sangat dinamis. Ketika terjadi fluktuasi di tingkat konsumen, pemerintah langsung melakukan intervensi. Ini yang membuat kondisi bisa segera terkendali,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4).

Di lapangan, pengawasan juga diperketat melalui Satgas pengendalian harga dan mutu pangan. Langkah ini dinilai efektif dalam meredam lonjakan harga sekaligus memastikan distribusi berjalan lancar.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menguatkan tren positif tersebut. Dalam pekan pertama April 2026, sejumlah komoditas utama tercatat mengalami penurunan harga di banyak daerah.

Daging ayam ras, misalnya, turun di 125 kabupaten/kota—melonjak dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada telur ayam ras di 116 wilayah.

Sementara itu, cabai merah dan cabai rawit masing-masing turun di 198 dan 161 daerah. Harga daging sapi pun ikut melandai di lebih dari 100 kabupaten/kota.

Meski kondisi di tingkat konsumen mulai membaik, perhatian pemerintah tidak berhenti di sana. Nasib petani dan peternak tetap menjadi fokus utama, terutama setelah munculnya tekanan harga di tingkat produsen, seperti turunnya harga ayam hidup pasca Lebaran.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), termasuk distribusi jagung pakan dengan harga terjangkau. Program ini diharapkan dapat membantu peternak menekan biaya produksi.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 678 miliar untuk menyalurkan 242 ribu ton jagung pakan. Penyaluran akan difokuskan pada wilayah yang tidak sedang mengalami panen raya, agar tidak mengganggu harga di tingkat petani jagung.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kebijakan pangan saat ini dirancang untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

Menurutnya, program yang dijalankan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama.

“Program ini tidak hanya menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat, tetapi juga memastikan petani dan peternak mendapatkan keuntungan yang layak,” kata Amran.

Indikator kesejahteraan produsen pun menunjukkan tren positif. BPS mencatat indeks harga yang diterima petani padi tetap tinggi, berada di atas 140 poin sejak pertengahan 2025. Pada Maret 2026, angkanya mencapai 144,52—lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hal serupa terjadi pada peternak unggas. Indeks harga yang mereka terima pada Maret 2026 mencapai 138,19, menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan kondisi ini, pemerintah optimistis stabilitas pangan nasional dapat terus terjaga. Keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen menjadi kunci, agar roda ekonomi pangan tetap bergerak dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018