Friday, 18 June 2021


Bisakah Usahatani Tebu Semanis Rasa Gula?

09 Mar 2019, 06:27 WIB

Petani tebu gembira karena produksinya diserap pasar | Sumber Foto:dok tabloidsinartani.com

Oleh Ahmad Soim – Pemimpin Redaksi Tabloid Sinar Tani

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Biasanya, pada bulan Maret ada saja Pabrik Gula (PG) yang sudah menggiling tebu. Para petani tebu pun selalu berharap, pendapatan mereka bisa meningkat pada giling tebu tahun ini.

Biaya produksi tebu petani antara Rp 9.500- 11.000 untuk per kg gula yang dihasilkan. Namun, ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah untuk gula sebesar Rp 12.500 per kg pada tahun lalu, membayangi tekanan pembatasan pendapatan petani tahun ini. Apalagi kalau banyak gula rafinasi yang merembes ke pasar gula konsumsi.

Dalam sepuluh tahun terakhir kondisi agribisnis gula nasional tidak mampu memberikan insentif kepada para petani untuk menggenjot usahataninya. Sebaliknya dalam 10 tahun terakhir produksi gula nasional menurun. Pada tahun 2008, produksi gula nasional sebesar 2,8 juta ton, pada tahun 2018 produksinya menurun menjadi 2,1 juta ton gula.

Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis pada tahun 2019 produksi gula nasional dapat mencapai 2,45 juta ton, atau naik 12,90 persen dari produksi musim giling 2018 yang sebesar 2,17 juta ton. Meski disadari, luas lahan tebu nasional tahun mengalami penyusutan, dari sebelumnya 425-427 ribu hektare (ha) pada 2018 menjadi 413.432 ha pada 2019.

 

Ancaman Daya Saing

Harga dan pendapatan petani tebu adalah insentif terbaik buat para petani untuk tetap dan mau menanam tebu.  Dengan biaya produksi gula dan HET seperti saat ini, keuntungan petani tebu sangatlah tipis. 

Pendapatan petani tebu dapat ditingkatkan bila harga jual gula petani jauh di atas biaya produksinya. Namun dengan banyaknya gula rafinasi yang merembes ke pasar konsumen rumah tangga, menjadi sulit bagi petani tebu untuk mendapatkan harga gula yang tinggi.

 Terbukti,   berdasarkan data Badan Pusat Statistik impor gula Indonesia periode Januari-Oktober 2018 mencapai 4,07 juta ton dengan nilai US$ 1,47 miliar atau setara Rp 20,6 triliun.

Total konsumsi gula Indonesia, untuk rumah tangga dan Industri berkisar 5 juta ton per tahun. Dengan angka produksi gula nasional 2,1 juta ton ditambah impor periode Januari-Oktober 2018 sebesar 4,07 juta ton, sudah ada kelebihan pasokan gula di pasaran Indonesia. Kondisi ini membanyangi nasib buruk petani gula Indonesia pada tahun ini.

Kepada Presiden RI Joko Widodo,   Ketua Dewan Pembina APTRI Arum Sabil (5/3) meminta pemerintah untuk menelisik  berdirinya pabrik-pabrik gula baru yang terindikasi  hanya kedok untuk impor gula mentah. Bila hal ini terjadi justru akan merugikan petani, karena membuat harga jual gula petani tertekan.

Daya saing usahatani tebu petani Indonesia termasuk yang rendah dibanding negara-negara lain. Rendemen gula Indonesia masih berkisar 7-8. Bahkan di beberapa tempat rendemennya ada yang di bawah 5. Di negara-negara lain, seperti China, Australia, Brasil, Thailand, rendemen gula berkisar di atas 10, bahkan banyak yang 13 dan 14.

Yang menjadi kekhawatiran petani tebu dari perbedaan rendemen yang signifikan (nyata) itu adalah nasib daya saing gula Indonesia di pasar bebas. Dengan rendemen 13 dan 14, maka biaya produksi (harga pembelian pemerintah/HPP) gula bisa di bawah Rp 6.000/kg. Namun bila rendemennya hanya 7 maka HPP gulanya menjadi tinggi yakni di atas Rp 10.000/kg.

Bahkan di beberapa pabrik gula (PG) yang sudah direvitalisasi, ternyata rendemen gulanya masih rendah, yakni di bawah 10. Padahal di jaman Belanda, dalam satu hektar kebun tebu bisa menghasilkan gula rata-rata 15 ton. Waktu itu Indonesia dengan lahan seluas 200 ribu hektar bisa menghasilkan gula 3 juta ton.

 

Menerapkan Inovasi Terbaru

Selain faktor PG, rendahnya rendeman gula petani bisa juga karena teknis budidaya, teknis tebang dan proses pengangkutan dari kebun hingga ke pabrik.  Hasil penelitian yang dilakukan Rosihan Asmara dkk tentang Tingkat Penerapan Teknologi Petani dalam Usahatani Tebu di Malang Jawa Timur, tahun 2012 yang dimuat Jurnal Perhepi, didapati capaian petani dalam produktivitas setara gula kristal baru mencapai 76?ri yang seharusnya.

Faktor penyebabnya adalah petani tebu dalam budidayanya masih   berorientasi pada bobot tebu tanpa memperhatikan tujuan peningkatan rendemen. Tebu yang diusahakan telah mencapai keprasan hingga 12 kali tanpa pernah bongkar ratoon, dan penggunaan pupuk Nitrogin petani sangat berlebihan.

Kesenjangan produksi dan pendapatan hasil produksi tebu petani pun  cukup tinggi. Dengan produksi tebu sebanyak  1500 kuwintal, namun kadar gulanya rendah yakni hanya 6.15%.  Pendapatan yang dicapai petani dalam usahatani tebu baru mencapai 44 persen dari potensi yang seharusnya bisa dicapai oleh mereka.

Penggunaan bibit varietas unggul tebu berdaya saing bisa menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan petani tebu. Pusat Penelitian Perkebunan Kementan misalnya sudah memiliki beberapa varietas tebu yang bisa menghasilkan produksi tebu antara 100-200 ton per ha dengan rendeman antara 11-13 persen dan hablus gula 10-20 ton per ha. Varietas tebu itu di antaranya yaitu: AAS Agribun, ASA Agribun, AMS Agribun, dan CMG Agribun.

Kesadaran akan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan daya saing usahatani tebu petani perlu diwujudkan sebagai program nasional. Pengantian tanaman keprasan dengan varietas baru harus terus dimasyarakatkan dan disuluhkan.

 

Hati-Hati dengan PG Baru

Hingga tahun 2019, ditargetkan pabrik gula baru   bisa bertambah sebanyak 11 pabrik. Empat pabrik gula baru di antaranya sudah terbangun yakni di Blora, Lamongan, Dompu, dan Lampung. Tujuh pabrik gula baru lainnya direncanakan terbangun di Sumba Timur, Ogan Komering Ilir, Timor Tengah Selatan, Indramayu, Blitar, Kotawaringin, dan Timor Tengah Utara.

Luas lahan tebu  saat ini pada kisaran 450.000 hektare (ha) yang setara 2,1 juta ton-2,2 juta ton gula. Jumlah lahan ini terus berkurang karena petani tebu makin meninggalkan komoditas tebu karena produktivitas masih rendah di 5 ton-6 ton per ha dan harga tidak bersaing. 

Bila sembilan pabrik gula ini akan menghasilkan kapasitas maksimal 2,35 juta ton, artinya pemerintah harus menambah lahan tebu seluas 400.000 ha lagi dengan syarat rendemen naik jadi 7%.

Kementerian Pertanian sebagai kementerian teknis harus memastikan adanya pembangunan lahan tebu yang terarah untuk mendukung kebutuhan pabrik tersebut. Atau PG baru tersebut haruslah bermitra dengan para petani tebu. Kalau tidak,  PG baru itu akan giling raw sugar dan jadinya impor lagi.

 

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018