Thursday, 22 October 2026


Intip Pengalaman Magang Menjadi Petani di Jepang

10 Feb 2021, 16:59 WIBEditor : Gesha

Mencoba magang menjadi petani milenial di Jepang

TABLOIDSINARTANI.COM, Nagano --- Program Magang menjadi petani di Jepang kembali dibuka Kementerian Pertanian hingga 19 Februari 2021 mendatang. Sebelum ikutan, kita bayangkan dahulu yuk suka dukanya pengalaman magang menjadi petani di Jepang !

"Saya bekerja di bidang pertanian. Dan bekerjanya memang di ladang. Walaupun programnya satu tahun, tapi fullnya kerja hanya 7 bulan saja, karena kalau memasuki musim dingin tidak bisa bercocok tanam. Sebelum mulai bekerja, di sana belajar lagi bahasa Jepang selama 3 minggu," ungkap Tama, salah satu milenial Indonesia yang magang menjadi petani di Prefekture Nagano, Jepang.

Milenial asal Cimahi Jawa Barat ini sebenarnya merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dari jurusan Kepelatihan Olahraga. Dirinya mengakui memang dari awal sangat tertarik ingin belajar ke Jepang dan mengikuti Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) kemudian magang di Jepang dan memilih sektor pertanian.

Di Prefektur Nagano, Tama diajari cara menanam sayur, nyemai bibit, panen juga mengirimkan sayuran ke pengepul. Jika memasuki musim panen, jam kerjanya bisa melebihi standar jam kerja biasanya. "Di Jepang, usaha petani masuknya perusahaan perorangan dan memiliki beberapa ladang. Waktu itu bos saya memiliki 7 ladang. Satu ladang sebesar 4x lapang bola dan yang lainnya sebesar lapang voli. Semua proses sudah menggunakan mesin, dari membuat gundukan, menyiram, sampai pemberian vitamin juga. Yang manual hanya menanam dan panen saja," jelasnya.

Untuk diketahui, Jepang memiliki 4 musim berbeda dalam setiap tahunnya. Padahal tanaman pertanian hanya dapat tumbuh padda suhu yang cukup hangat. Karena itu para peserta magang akan sibuk pada periode bulan April sampai Oktober, karena di periode itu suhu udara cukup untuk pertumbuhan tanaman.

Saat itu, peserta magang akan mempersiapkan lahan, menanam, merawat, kemudian memanennya di periode itu. Tapi perusahaan pertanian di jepang yang memiliki fasilitas “house” yaitu pelindung plastik di area pertaniannya dapat berproduksi sepanjang tahun. Karena house itu akan melindungi suhu area pertanian. Sehingga peserta magang tidak perlu khawatir tentang sepinya pekerjaan, karena setahun penuh peserta magang dapat beraktifitas bekerja sambil belajar.

"Jika di musim tanam, saya mulai kerja jam 7 sampai jam 4 sore. Tapi kalau di musim panen kadang mulai kerja jam 12 malam atau jam 2 malam. Saya kerja tiap hari dan tidak ada hari libur. Terutama musim panen di bulan Juli, Agustus, September nyaris tidak ada hari libur, paling libur setengah hari," tuturnya.

Kenapa harus sampai malam?Tama menjelaskan, karena bekas sayuran yang dipotong itu tidak boleh terkena matahari langsung dan sayuran hasil panen juga tidak boleh terkena matahari. "Setelah sayuran dipotong langsung disiram supaya getah yang menempel tidak membuat sayur jadi kuning, karena hal ini bisa menurunkan harga jual. Selain itu, sayuran di packing di tempat itu juga setelah dicuci untuk kemudian siap didistribusikan ke setiap supermarket," bebernya.

Soal pengepul di Jepang, mungkin sama dengan di Indonesia, tapi di Jepang lebih ketat dan sangat memperhatikan kualitas. Para pengepul ini memiliki kontrak dengan petani, dan hasil panennya dinilai oleh pengepul ini. "Misalkan tahun ini penjualannya berapa. Setiap dus antara satu petani dengan petani yang lain berbeda, masing-masing punya nomornya sendiri yang telah terdaftar di pengepul. Itu sebabnya bos saya paling cerewet ketika pemotongan sayur. Jika sayurnya tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan bisa menurunkan report, jika nilainya jelek, berarti kuotanya dibatasi, misal dari yang awalnya 300 dus jadi 200 dus, dan hal ini tentunya mempengaruhi penghasilan." jelasnya.

Bahkan tanaman yang lewat batas panen bisa menurunkan harga sayuran. "Berat perdus tidak boleh kurang atau lebih dari takaran yang sudah ditentukan. Misalnya untuk sawi putih beratnya harus 16 kg perdus," tambahnya. 

Digaji

Berbeda dengan magang di dalam negeri, magang menjadi petani di Jepang ternyata digaji !. Tama menjelaskan di tahun 2019 dirinya digaji perbulan tergantung musim. "Kalau hujan kan tidak kerja, otomatis tidak ada penghasilan juga. Dan di sana saya dibayar perjam. Perbulan saya bisa dapat 180.000 yen tapi belum dipotong ini itu. Jika musim panen di bulan agustus, saya bisa dapat 280.000 yen," tuturnya.

Tama menambahkan, di Jepang semakin berat pekerjaannya semakin mahal bayarannya. Meskipun begitu, gaji untuk pegawai magang akan berbeda dengan warga Jepang umumnya. "Bayaran yang magang 750-800, sedangkan orang Jepang 1200-2000 yen," ungkapnya. Lahan pertanian lokasi Tama magang tersebut memproduksi letuce dan sawi putih. Bersama Tama ada 3 orang Indonesia yang bekerja di perusahaan sayur. 

Meskipun cukup berat menjadi petani magang di Jepang, Tama mengaku enjoy. "Kalau di luar rutinitas kerja saya biasanya jalan-jalan pakai sepeda, karena daerah saya ini di pegunungan seperti Lembangnya Bandung jadi sangat enak sekali untuk bersepeda. Atau kadang saya main ke apato teman atau sekedar jalan-jalan ke kota, terutama waktu liburan saya pergi ke Tokyo, Asakusa, Shinjuku dan lain-lain," tuturnya. 

Mengenai kendala selama menjalani kehidupan di sana, Tama menjelaskan ada kesempatan untuk rutin Shalat Jumat. "Kendala saya sebagai laki-laki muslim adalah sulitnya melaksanakan juma’tan, jadinya saya tidak jumatan. Tapi kalau peserta magang yang lain yang ada dekat masjid, bisa sempat shalat saat waktu istirahat. Sebetulnya kalau untuk shalat saya bisa curi-curi waktu. Walaupun kembali lagi ke pribadinya masing-masing. Kalau saya sengaja bawa sejadah ke ladang. Dari apato saya ke ladang sekitar 15 menit, biasanya setelah makan siang langsung shalat," ungkapnya. 

Bahkan kendala paling berat adalah lama puasa hingga 16 jam. Apalagi ketika ketahuan puasa, saya suka dimarahi orang Jepang. "Sebenarnya mereka hanya khawatir dengan kesehatan. Jika kamu puasa, ya kamu mati dan saya juga sempat bertengkar dengan mereka gara-gara membahas hal ini. Akhirnya saya cari ide, jadi makanan bekal siang saya berikan ke teman saya tanpa sepengetahuan bos saya," kenangnya.

Karenanya, Tama berpesan jika ada yang ingin mengikuti program magang menjadi petani di Jepang, harus siap kuatkan niat, mental dan fisik dan yang paling utama adalah bahasa. "Kalau kalian bisa menaklukkan pertanian, kamu bisa menaklukkan program magang lainnya, karena menurut saya tidak ada pekerjaan yang seberat di pertanian. Dan satu lagi, jangan takut karena kita dilindungi pemerintah Jepang, karena mereka sangat bertanggung jawab," pesannya. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018