Sunday, 24 October 2021


Kiprah Zulfan, Pak Tani Muda dan Penyuluh Swadaya di Aceh Timur

13 Oct 2021, 18:14 WIBEditor : Gesha

Zulfan sang Pak Tani Muda | Sumber Foto:Zulfan

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Timur --- Saat orang lain sibuk dan melirik menjadi pegawai negeri, Pak Tani Muda dari Aceh Timur ini justru berobsesi menjadi penyuluh swadaya disamping menjadi petani bergengsi. Dirinya bahkan mengajak petani untuk bertanam padi semi organik.

“Bertanam padi semi organik itu, hasilnya bisa mencapai 9,1 ton per hektarnya. Sedangkan full kimiawi, hanya bisa menghasilkan 7-8 ton per hektar saja. Tanam semi organik juga bisa menghemat 60  persen pupuk kimiawi,” ujarnya membuka percakapan.

Zulfan yang akrab disapa Pak Tani ini berkisah, dirinya bekerjasama penanaman padi semi organik dengan Danrem 011/ Lilawangsa Lhokseumawe. Atas keberhasilannya tersebut, dirinya juga dipercaya Danrem untuk menanam jagung pada lahan masam seluas 100 hektar di Kecamatan Bandar Baru, Aceh Utara.

Nama Zulfan memang bukanlah sosok yang baru di Aceh Timur. Dirinya memang dikenal sebagai penyuluh swadaya yang getol membagikan pengalamannya bertani. Zulfan juga kerap memberikan materi pelatihan sekaligus demplot sehingga petani bisa melihat secara langsung teknis pertanaman semi organik yang selama ini dilakukannya.

“Dalam satu hektar penggunaan pupuk organik hanya menghabiskan 40 liter seharga Rp 1.200.000. Sedangkan pestisida nabati diberikan gratis dan dilakukan pendampingan seminggu sekali. Bagi yang berminat boleh menghubungi WA 0852-7629-1415. Jika hasilnya merosot maka saya bersedia mengganti kekurangan produktivitas diluar bencana alam," sebutnya promosi.

Zulfan selalu membagikan kegiatannya mendampingi petani di akun Facebook Rakan Paktani yang kini memiliki 5.000 teman. Dirinya kerap menegaskan, kehadirannya selama ini bukan menjadi saingan, tapi menjadi mitra penyuluh dan selalu berkoordinasi.

Dirinya dalam memperkenalkan pupuk organik kepada petani, sesuai komoditi yang diinginkan petani. Dalam pendampingan, dirinya juga tidak pernah memaksa petani dengan suatu teknologi. Namun ketika panen hasilnya meningkat barulah mengajak mereka dengan adopsi inovasi teknologi untuk skala pengembangan.

Kini dia tengah berinovasi dengan teknologi pupuk organik dari jongkos sawit untuk menghemat penggunaan pupuk kimia. "Bahkan melalui limbah cair kolam ketiga diolah kembali menjadi pupuk organik. Laboratorium saya gunakan dengan mengaplikasikan di lahan demplot sendiri," bebernya.

Zulfan mengaku tengah terobsesi untuk menggalakkan benih padi lokal untuk penyelamatan sehingga menjadi ikon di Kabupaten Aceh Timur. Menurutnya berbagai jenis padi lokal yang saat ini hampir punah, seperti Sigantang Sira, yang perlu disertifikasi dan tersedia dalam bank benih saat dibutuhkan. Dengan adanya benih lokal dan hamparan lahan yang luas, bisa mandiri sehingga masyarakat bisa bersanding dengan VUB nasional lainnya.

Selain pendampingan langsung, Pak Tani ini juga telah membangun Balai Tani di Gampong Seuneubok Simpang, Kecamatan Darul Aman yang dilengkapi sumur bor. Di lahan seluas 1000 meter persegi tersebut, ditanam cabai rawit dan menjadi demplot petani sekitar.

Ditempat itulah dirinya berekspresi dengan mengundang guru dan siswa MAN Insan Cendikia memberikan pelatihan pertanian secara gratis. Dalam waktu dekat dirinya juga akan memperkenalkan pertanian organik bagi guru dan anak TK Pembina Darul Aman. “Mereka nanti dibiarkan asyik bermain lumpur. Disitulah kita kenalkan pertanian akuaponik dan lainnya,” tambahnya.

Pak Tani Zulfan menambahkan, kedepan ia akan berkolaborasi dengan badan dayah untuk meningkatkan ekonomi melalui santri milenial.

Petani Tulen

Mengulik latar belakang, Zulfan memang sejak lama terobsesi menjadi petani tulen. Zulfan alias Pak Tani merupakan anak keempat dari enam bersaudara pasangan M. Diah (alm 2009) dan Zuariah. Zulfan muda selain dikenal tegar dan berani berkeringat, ia juga tahan banting dan selalu aktif dalam berusaha.

Setelah menamatkan MAN 1 Aceh Timur tahun 2002, dirinya pernah melanjutkan kuliah diploma 3 jurusan informatika komputer. Setahun kemudian dia pergi merantau dan menjadi nelayan di Lampulo, Banda Aceh mengikuti jejak sang ayah di kampung.

Merasa kurang cocok menjadi nelayan akhirnya dia minta restu Ibunda untuk melanjutkan kuliah D2 PGSD Universitas Al Muslim Bireuen dan selesai  tahun 2007. Kemudian melanjutkan program S1 di Universitas Terbuka (UT). Zulfan sempat menjadi guru kontrak selama setahun. Sambil mengajar, ia juga meracik dan meneliti pupuk organik secara mandiri dan mengaplikasikan pada lahan demplotnya seluas 1000 meter persegi.

Tepat setahun setelah ayahnya wafat, yaitu tahun 2010 dirinya menjadi tulang punggung keluarga. Dengan modal Rp 20 juta ia belajar berbisnis menjual pakaian. Namun setelah itu berjalan lancar, semua aset diserahkan kepada Ibu untuk mengisi aktifitas beliau sehari - hari. "Saya yakin dan percaya tempat mustajabah doa selain di Masjidil Haram (makam Nabi Ibrahim) juga ada doa sang Ibu," ungkapnya terbata dan penuh haru.

Dirinya pun kembali berkecimpung di dunia pertanian dan fokus menjadi petani tulen serta memberdayakan petani  di desanya dengan temuan pupuknya. Sejak tahun 2016 dia tidak hanya membina petani di kampungnya, melainkan hingga ke  Aceh Barat dan kabupaten Nagan Raya. Selanjutnya pada tahun 2017 ia melakukan pengembangan pupuk organik di Aceh Timur.

Pada tahun 2018 ia berkesempatan membagi pengalamannya di Pondok Tafis Quran, Negara Malaysia dan sempat melancong ke Singapura. Semua biaya ditanggung oleh salah seorang pengusaha. Tak lama berselang masih dalam bulan yang sama dia pun berangkat ke Thailand untuk melakukan studi terkait manajemen dan pemasaran.

Kini, dari semua jerih payah menjadi petani sekaligus penyuluh swadaya, Zulfan sudah bisa  membangun rumah, membeli 1 hektar kebun sawit dan melunasi cicilan mobil yang sudah berjalan 5 tahun untuk operasional. "Kuncinya dengan bersilaturahmi rezeki yang kita peroleh tidak akan pernah tertukar," tuturnya berfilosofi.

Kepada generasi milenial Zulfan mengajak persiapkan diri sejak dini, kuliah hanya untuk menambah keilmuan. Namun harus pula ditempa dengan berbagai pengalaman di lapangan agar bisa menciptakan pekerjaan sendiri, sehingga tidak lagi dijajah akibat ketergantungan pangan.

Tidak semua lulusan sarjana bisa menjadi PNS, kalaupun bekerja janganlah menjadi buruh. Manfaatkan lahan yang sedikit yang bisa menghasilkan uang. Ia mencontohkan, walaupun luas lahan petani di Brastagi relatif kecil, tapi anaknya bisa kuliah dan sukses menjadi dokter dan TNI dari hasil lahan pertanian.

Makanya saya ingin mengajak kaum muda agar pro aktif membangun desa. "Saya punya motto Tanom keudroe, pajoh keudroe, meunyo na leubeh baro tapubloe (Tanam sendiri, makan sendiri, kalau ada lebih baru kita jual)," timpalnya. 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018