Monday, 18 May 2026


Ini Cara K-Smart Farm Bangun Mindset Petani Milenial

18 Nov 2025, 13:17 WIBEditor : Gesha

Greenhouse pintar saja tak cukup, K-Smart Farm fokus membentuk mindset petani milenial agar percaya diri, inovatif, dan panen untung besar.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Greenhouse pintar saja tak cukup, K-Smart Farm fokus membentuk mindset petani milenial agar percaya diri, inovatif, dan panen untung besar.

Pertanian di Indonesia kini sedang mengalami transformasi besar. Lewat proyek K-Smart Farm, bukan hanya dibangun greenhouse pintar, tapi yang lebih penting adalah membangun mindset para petani milenial agar percaya diri dan siap menghadapi era pertanian modern.

“Yang kita bangun bukan hanya greenhouse, tapi mindset petani milenial,” tegas Idha Widi Arsanti, Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian. 

Selama beberapa tahun terakhir, K-Smart Farm telah melibatkan ratusan petani muda, mengajarkan mereka bagaimana teknologi bisa menjadi teman kerja, bukan lawan.

Mulai dari sensor digital hingga irigasi otomatis, semua diajarkan agar mereka bisa bertani lebih efisien, cerdas, dan menguntungkan.

Regenerasi petani menjadi tantangan besar. Banyak petani tradisional berusia di atas 50 tahun, sementara generasi muda cenderung lebih tertarik ke kota atau pekerjaan berbasis teknologi. Dengan mindset yang tepat, mereka bisa melihat pertanian sebagai peluang usaha, bukan sekadar rutinitas menanam dan menunggu panen.

K-Smart Farm awalnya dibangun dengan greenhouse pintar di Ketindan, Jawa Timur, dan Polbangtan Bogor, Jawa Barat. Tapi tujuan utamanya bukan cuma gedung atau teknologi, melainkan transfer pengetahuan dan mentalitas baru.

Idha menyebutkan, Ahmad Raufi dan Yati Haryati bahkan berhasil mereplikasi konsep smart greenhouse di kebun mereka masing-masing. Mereka sempat pelatihan langsung ke Korea untuk memahami bagaimana teknologi bisa meningkatkan kualitas, kontinuitas, dan harga jual hasil panen.

“Mindset itu paling penting. Teknologi bisa diajarkan, tapi kalau mental dan cara berpikir tidak siap, hasilnya tetap biasa-biasa saja,” ujar Yati Haryati. “Sekarang saya merasa bisa bersaing dengan siapa saja, karena punya cara berpikir modern tentang bertani.”

Dengan mindset yang tepat, efeknya langsung terasa. Produktivitas meningkat karena panen lebih banyak berkat teknik tanam modern, sementara kualitas hasil panen tetap terjaga sehingga produk bisa dijual dengan harga premium.

Pendapatan pun bisa naik hingga lebih dari tiga kali lipat dibanding bertani secara tradisional, dan yang tak kalah penting, para petani muda kini lebih percaya diri untuk mengambil risiko dan berinovasi.

“Bukan hanya soal greenhouse atau sensor digital,” kata Idha. “Kalau mindset para petani milenial sudah terbentuk, mereka bisa mengembangkan usaha sendiri, menjual produk ke pasar nasional maupun internasional, bahkan membuka lapangan kerja untuk orang lain.”

Hingga saat ini, K-Smart Farm sudah melatih 133 petani milenial dalam tiga batch pelatihan. Para peserta belajar mulai dari pengelolaan lahan, penggunaan teknologi, hingga strategi marketing agar hasil panen bisa optimal.

Selain itu, proyek ini menyiapkan sertifikasi resmi agar kegiatan pertanian profesional dan diakui. Targetnya, hingga 2031, K-Smart Farm akan mencetak generasi petani milenial yang kompeten dan siap bersaing di pasar global.

“Kalau mindset ini sudah tertanam, teknologi apapun bisa mereka gunakan untuk berkembang,” jelas Idha. “Maka fokus kami bukan hanya pada greenhouse, tapi membangun cara berpikir yang tepat.”

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018