
Kementan mendorong generasi muda terjun ke sektor pangan dan pertanian modern yang dinilai paling prospektif dan menjanjikan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Kementan mendorong generasi muda terjun ke sektor pangan dan pertanian modern yang dinilai paling prospektif dan menjanjikan.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian modern.
Pemerintah menilai bisnis pangan dan pertanian saat ini menjadi salah satu sektor usaha paling prospektif di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional maupun global.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan keterlibatan anak muda menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional.
Menurutnya, melalui program Young Ambassador Agriculture (YAA), Duta Brigade Pangan Inspiratif, hingga Duta Polbangtan/PEPI, Kementan terus membangun regenerasi petani sekaligus mencetak pengusaha muda di bidang pertanian.
“Tentu saja. Dan saat ini memang kegiatan usaha yang paling prospektif adalah pertanian. Jadi kita lihat dari semuanya, bisnis yang memang cukup prospektif saat ini adalah bisnis pertanian dan bisnis pangan,” ujar Arsanti di sela kegiatan pemilihan YAA dan Duta Brigade Pangan Inspiratif 2026 di BBPMKP Ciawi, Bogor, Rabu (20/05).
Ia mengatakan kebutuhan pangan menjadi kebutuhan utama masyarakat sehingga sektor pertanian dinilai memiliki peluang usaha yang terus berkembang.
“Karena tentu saja kebutuhan pangan ini mutlak atau utama. Jadi itulah yang kita dorong,” katanya.
Arsanti menjelaskan, program penguatan generasi muda pertanian yang dijalankan Kementan selama ini memiliki target berjenjang.
Target tertinggi dari program tersebut adalah menciptakan efek berantai di kalangan anak muda agar semakin banyak yang tertarik masuk ke sektor pertanian.
“Target paling tinggi adalah mereka bisa mengajak anak-anak muda di sekitarnya. Misalnya satu orang bisa mengajak 100 orang lainnya untuk tertarik di sektor pertanian,” jelasnya.
Selain itu, para duta pertanian muda juga didorong aktif melakukan sosialisasi di kampus, komunitas, hingga organisasi kepemudaan untuk mengubah pandangan lama terhadap dunia pertanian.
“Kita ingin sosialisasikan bahwa pertanian itu oke, pertanian itu mengarah ke pertanian modern. Jadi mindset lama tentang pertanian itu bisa berubah,” ujarnya.
Tak hanya melalui kegiatan langsung, Kementan juga mendorong generasi muda pertanian aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan aktivitas dan peluang usaha di sektor pertanian.
Menurut Arsanti, media sosial menjadi sarana efektif untuk menginspirasi lebih banyak anak muda agar tertarik menjadi petani milenial maupun pelaku usaha pangan.
“Harapannya mereka ikut mengunggah kegiatan pertanian mereka di media sosial. Ketika anak-anak muda melihat bahwa pertanian itu bisa menghasilkan dan menyenangkan, itu bisa menginspirasi yang lain,” katanya.
Meski belum mencapai target maksimal, Arsanti menyebut program regenerasi petani mulai menunjukkan perkembangan positif.
Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah anak muda yang mulai tertarik dan sadar terhadap peluang di sektor pertanian.
“Paling tidak sudah ada pergerakan. Kita sudah bisa melihat jumlah anak-anak muda yang aware terhadap pertanian semakin bertambah,” tuturnya.
Ia mengatakan salah satu indikator keberhasilan program regenerasi petani adalah meningkatnya jumlah anak muda yang memilih menjadi petani milenial maupun wirausahawan pertanian.
Selain itu, efektivitas program juga diukur dari luasnya sosialisasi yang dilakukan para duta pertanian muda kepada generasi muda lainnya.
Menurut Arsanti, tren keterbatasan lapangan kerja formal juga menjadi salah satu alasan anak muda mulai melirik sektor pertanian sebagai peluang usaha baru.
“Ketika lapangan pekerjaan kantoran terbatas, mereka mencoba berusaha di bidang pertanian dan ternyata bisa mendapatkan penghasilan,” katanya.
Meski demikian, Arsanti menegaskan pemerintah tidak hanya mendorong anak muda untuk bertani, tetapi juga membangun ekosistem usaha pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Ia menyebut salah satu fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat hilirisasi dan jaminan pasar agar petani muda memiliki kepastian usaha.
“Kita tidak hanya mendorong mereka menjadi petani, tapi hilirnya juga harus jelas, harus ada pasarnya,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan pemerintah seperti penetapan harga gabah Rp6.500 per kilogram dan harga jagung Rp5.500 per kilogram menjadi salah satu bentuk dukungan untuk memberikan kepastian usaha bagi petani.
“Dengan begitu mereka semangat, karena sudah ada pasar dan ada kepastian usaha yang bisa memberikan keuntungan,” kata Arsanti.