Tuesday, 18 August 2026


HKTI Sebut Muncul Banyak Champion Petani Muda, Regenerasi Pertanian Makin Nyata

21 May 2026, 00:44 WIBEditor : Gesha

HKTI menyebut kemunculan champion petani muda jadi bukti regenerasi pertanian mulai nyata dan makin diminati generasi muda.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – HKTI menyebut kemunculan champion petani muda jadi bukti regenerasi pertanian mulai nyata dan makin diminati generasi muda.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai kemunculan banyak petani muda inspiratif menjadi sinyal positif bagi masa depan sektor pertanian Indonesia.

Regenerasi petani yang selama ini menjadi tantangan besar kini dinilai mulai menunjukkan hasil nyata.

Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI yang juga Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Tani HKTI, Suroyo, saat menghadiri Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA), Duta Brigade Pangan Inspiratif dan Duta Polbangtan/PEPI 2026. 

Menurutnya, kehadiran anak-anak muda yang tertarik masuk ke dunia pertanian menjadi kabar menggembirakan di tengah kekhawatiran menurunnya jumlah petani muda di Indonesia.

“Kalau saya melihatnya jelas dengan adanya teman-teman anak-anak muda baru yang memiliki minat dalam dunia pertanian, tentu kita happy banget. Artinya kegiatan pertanian ini minatnya mulai tumbuh. Anak-anak muda mulai melirik dunia pertanian,” kata Suroyo.

Ia mengatakan, berbagai program yang dijalankan Kementerian Pertanian kini mulai berhasil memunculkan figur-figur muda yang bisa menjadi contoh nyata keberhasilan di sektor pertanian.

Menurutnya, para peserta yang hadir dalam berbagai ajang pengembangan SDM pertanian saat ini merupakan “champion” atau jagoan-jagoan muda yang diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi lain.

“Nah, dengan adanya program-program dari Kementerian Pertanian seperti ini, mereka yang hadir di sini ini champion-champion, juara-juara, jagoan-jagoannya. Harapannya jagoan-jagoan ini bisa meng-influence dan menginspirasi anak-anak muda lainnya,” ujarnya.

Suroyo menilai selama ini banyak anak muda yang sebenarnya tertarik dengan pertanian, tetapi kekurangan panutan dan contoh sukses yang dekat dengan kehidupan mereka.

Ia mengatakan, narasi sukses di sektor pertanian juga masih kalah dibanding sektor lain karena jarang mendapat perhatian besar di media maupun ruang digital.

“Kadang anak-anak muda di luar sana kekurangan inspirasi, kekurangan panutan. Mereka hanya melihat di YouTube. Sementara program-program pertanian sukses ini jarang diperdengarkan media,” tuturnya.

Karena itu, ia menyambut positif semakin banyaknya ruang publikasi terhadap kisah sukses petani muda dan program pertanian yang dinilai mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap profesi petani.

“Nah Alhamdulillah dengan adanya program ini, media juga punya hal yang bisa dipotret dan disebarkan. Sehingga anak muda jadi banyak tertarik. Oh ternyata jadi petani itu ada prospek kehidupannya, ada penghidupan yang lebih baik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa munculnya banyak petani muda sukses harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat regenerasi pertanian nasional.

Menurutnya, figur-figur muda yang berhasil di sektor pertanian akan lebih mudah diterima generasi sebaya dibanding narasumber dari kalangan senior.

“Nah makanya lewat program-program ini kita bikin anak-anak muda jadi champion-champion, jagoan-jagoan, supaya bisa menginspirasi anak muda lainnya,” jelasnya.

HKTI sendiri, lanjut Suroyo, sudah menyiapkan langkah kolaboratif untuk memperkuat regenerasi petani melalui organisasi Pemuda Tani yang menjadi badan otonom di bawah HKTI.

Ia mengatakan Pemuda Tani selama ini aktif menjalankan berbagai program regenerasi, mulai dari turun ke kampus hingga menyasar desa-desa untuk memperkenalkan peluang usaha di bidang pertanian.

“Kalau baik dari HKTI, dari Pemuda Tani, jelas bakal ada kolaborasi. Di HKTI sendiri bahkan sampai bikin divisi khusus, badan otonom khusus namanya Pemuda Tani untuk program-program regenerasi petani,” katanya.

Menurutnya, keberadaan banyak figur muda sukses membuat proses edukasi dan kampanye pertanian menjadi lebih mudah diterima.

“Kalau sekarang bikin program atau diskusi, orang nggak bingung lagi. Narasumbernya bukan orang-orang tua lagi, tapi anak muda yang sukses di pertanian. Nah itu kan lebih nyambung,” ujar Suroyo.

Ia menilai pendekatan seperti itu jauh lebih efektif karena generasi muda bisa melihat langsung contoh konkret keberhasilan dari orang-orang seusia mereka.

“Anak muda jadi merasa, ‘oh ternyata bisa ya’. Banyak yang belum tahu kalau jadi pemuda di pertanian itu juga bisa sukses,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Suroyo mengatakan Kementerian Pertanian saat ini sudah memiliki banyak “champion” muda yang siap dilibatkan dalam berbagai program pengembangan SDM pertanian.

Menurutnya, langkah berikutnya adalah mempertemukan para champion tersebut dengan organisasi tani, kampus, maupun komunitas pemuda agar dampaknya semakin luas.

“Kementerian Pertanian sudah menyiapkan champion-championnya. Tinggal bagaimana organisasi tani, lembaga kampus, kemudian komunitas itu mengajak mereka untuk menginfluence dan menginspirasi pemuda lainnya,” jelasnya.

Ia optimistis jika gerakan regenerasi ini terus diperkuat, maka sektor pertanian Indonesia akan semakin diminati generasi muda dalam beberapa tahun ke depan.

Menurutnya, perubahan pola pikir terhadap profesi petani saat ini mulai terlihat, terutama karena semakin banyak anak muda yang melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan sektor usaha modern yang memiliki masa depan menjanjikan.

“Sekarang anak-anak muda mulai melihat bahwa pertanian itu punya prospek. Ada masa depan, ada peluang usaha, bahkan bisa jadi jalan sukses,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018