
Petani Adonara Ujicoba metode PM AAS
TABLOIDSINARTANI.COM, Adonara – Upaya meningkatkan produktivitas padi sawah terus dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih modern dan efisien.
Salah satu inovasi yang kini mulai diperkenalkan kepada petani adalah Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), sebuah metode budidaya yang mengedepankan efisiensi, mekanisasi, dan pengelolaan tanaman secara presisi.
Penerapan metode PM-AAS dilaksanakan di Dole, Desa Sagu Wlibin, wilayah kerja BPP Waibolen, Kecamatan Adonara. Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara penyuluh pertanian dan petani demonstrator, Antonius Sebelas Koten, yang menerapkan teknologi tersebut pada lahan sawah seluas 0,5 hektare.
Dalam pelaksanaannya, penyuluh pertanian berperan sebagai pendamping teknis sekaligus fasilitator, sementara petani menjadi pelaku utama dalam mengadopsi dan menerapkan inovasi di lahan usahataninya.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai konsep dan keunggulan metode PM-AAS kepada petani. Selanjutnya dilakukan Demonstrasi Cara (Demcar) penggunaan alat tanam benih langsung (drum seeder) dengan pola tanam 6:1. Demonstrasi ini menjadi media pembelajaran praktis agar petani dapat memahami sekaligus mempraktikkan langsung teknik budidaya modern tersebut.
Semangat dan antusiasme para penyuluh pertanian terlihat dalam setiap tahapan pendampingan. Bahkan, mereka secara swadaya berinisiatif membuat alat tanam benih langsung guna mempercepat transfer inovasi kepada petani. Langkah ini diharapkan mampu memperluas adopsi teknologi PM-AAS di tingkat lapangan.
Pada kegiatan demonstrasi tersebut digunakan varietas padi unggul Inpari 42 sebanyak 40 kilogram. Seluruh proses dilakukan secara partisipatif sehingga petani tidak hanya memperoleh materi teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengoperasikan alat tanam modern.
Metode PM-AAS menawarkan sejumlah keunggulan yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi. Sedikitnya terdapat lima karakteristik utama dalam sistem budidaya ini.
Pertama, penerapan tanam benih langsung (Tabela) menggunakan alat tanam seperti drum seeder, sehingga tidak lagi memerlukan proses persemaian maupun pindah tanam.
Kedua, penggunaan pola tanam rapat dan teratur, seperti pola 4:1 atau 6:1, untuk mengoptimalkan populasi tanaman sekaligus meningkatkan penangkapan cahaya matahari.
Ketiga, pemanfaatan mekanisasi pertanian mulai dari proses tanam hingga panen, sehingga mampu menghemat tenaga kerja, waktu, dan biaya produksi.
Keempat, penerapan pengelolaan air secara efisien melalui sistem Alternate Wetting and Drying (AWD) atau basah-kering berselang pada lokasi yang sesuai.
Kelima, penerapan pemupukan berimbang dan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara presisi berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.