
Wamentan Alim Setiawan menyoroti pentingnya menyiapkan generasi muda untuk masa depan pertanian Indonesia. Ada pesan khusus yang perlu menjadi perhatian mahasiswa.
TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan – Wamentan Alim Setiawan menyoroti pentingnya menyiapkan generasi muda untuk masa depan pertanian Indonesia. Ada pesan khusus yang perlu menjadi perhatian mahasiswa.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan mengungkap empat kunci penting untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu mendorong kemajuan sektor pertanian Indonesia.
Keempat kunci tersebut meliputi karakter, kompetensi, kontribusi, dan kesehatan.
Menurut Alim, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, mekanisasi, maupun inovasi hasil penelitian.
Kemajuan sektor pertanian juga membutuhkan SDM berkualitas yang mampu mengembangkan dan menerapkan berbagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas serta menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Ia menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang harus diperkuat untuk membangun pertanian berkelanjutan.
Pertama adalah inovasi unggul yang dihasilkan melalui penelitian dan pengembangan teknologi. Kedua, kualitas SDM yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan inovasi tersebut.
Berbagai hasil penelitian dari perguruan tinggi dan lembaga riset, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga riset di lingkungan Kementerian Pertanian, perlu terus didorong agar menghasilkan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian.
Inovasi tersebut dapat berupa pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian, serta teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi.
Dengan demikian, petani dapat memperoleh hasil optimal tanpa harus mengeluarkan biaya produksi yang semakin besar.
Namun, menurut Alim, berbagai inovasi tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak didukung tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai.
"Untuk pertanian Indonesia yang lebih maju dan lebih modern, agar kita bisa mencapai swasembada, kita membutuhkan inovasi unggul dan kita membutuhkan SDM," ujar Alim.
Ia juga mengingatkan bahwa regenerasi sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan penting dalam pembangunan pertanian.
Karena itu, mahasiswa, khususnya yang menempuh pendidikan di bidang pertanian, perlu mempersiapkan diri agar dapat mengambil peran dalam transformasi sektor tersebut.
Alim meminta mahasiswa memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas diri.
Menurutnya, pendidikan tinggi merupakan kesempatan berharga yang harus digunakan untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan, serta membangun karakter.
Dalam pesannya, Alim memperkenalkan empat K yang perlu dimiliki generasi muda untuk menjadi SDM unggul.
Kunci pertama adalah karakter. Ia menilai karakter menjadi fondasi utama dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Pengetahuan dan kecerdasan akademik harus berjalan beriringan dengan etika, integritas, serta sikap yang baik.
"Karakter ini penting karena merupakan kunci sukses. Bung Karno pernah bilang bahwa karakter itu lebih penting daripada pengetahuan. Dalam agama Islam juga dikenal prinsip adab sebelum ilmu," katanya.
Alim juga mengingatkan bahwa kehilangan karakter dapat berdampak jauh lebih besar dibandingkan kehilangan materi.
Sebab, karakter menjadi landasan seseorang dalam mengambil keputusan, berinteraksi, dan menjalankan tanggung jawab.
Kunci kedua adalah kompetensi. Mahasiswa harus terus meningkatkan kemampuan teknis atau hard skill maupun keterampilan nonteknis atau soft skill.
Menurut Alim, perubahan dunia pada abad ke-21 menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi, kreatif, inovatif, tangguh, komunikatif, dan mampu bekerja sama.
Kemampuan bernegosiasi, kepemimpinan, serta kewirausahaan juga perlu diasah selama menjalani pendidikan tinggi.
Kompetensi tersebut menjadi bekal penting agar generasi muda mampu menghadapi persaingan sekaligus menciptakan peluang baru.
Ia menegaskan, keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari nilai indeks prestasi kumulatif (IPK).
Kemampuan komunikasi, negosiasi, kreativitas, dan kepemimpinan juga memiliki peran penting dalam menentukan kualitas seseorang.
Alim menilai nilai akademik yang tinggi perlu diimbangi keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk ketika mahasiswa memasuki dunia kerja maupun membangun usaha.
Kunci ketiga adalah kontribusi. Ia mendorong mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga mulai memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Kontribusi tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mahasiswa dapat memulainya melalui kegiatan sederhana yang memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.
"Mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, berusaha untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan maupun masyarakat. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat," ujarnya.
Dalam pembangunan pertanian, kontribusi generasi muda dapat diwujudkan melalui pengembangan teknologi, penelitian, pendampingan petani, maupun penciptaan inovasi yang menjawab berbagai persoalan di lapangan.
Sementara itu, kunci keempat adalah kesehatan. Alim mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan kesehatan fisik di tengah kesibukan menjalani pendidikan dan berbagai aktivitas.
Ia menyoroti kebiasaan anak muda yang kerap begadang, mengonsumsi minuman manis, serta terlalu sering mengonsumsi makanan yang kurang sehat.
Menurutnya, kesehatan merupakan modal penting untuk menunjang produktivitas. Kondisi fisik yang baik memungkinkan seseorang menjalankan aktivitas secara optimal, baik ketika belajar, bekerja, maupun berkontribusi kepada masyarakat.
Ia bahkan mengingatkan bahwa kesehatan dapat menjadi salah satu aspek yang diperiksa ketika seseorang mengikuti proses seleksi pekerjaan. Karena itu, pola hidup sehat perlu dibangun sejak masih muda.
Empat kunci tersebut, yakni karakter, kompetensi, kontribusi, dan kesehatan, menjadi bekal penting dalam menyiapkan generasi penerus pembangunan pertanian.
Alim berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pertanian Indonesia.
Dengan perpaduan inovasi unggul dan SDM berkualitas, sektor pertanian diharapkan semakin modern, produktif, efisien, dan berkelanjutan sehingga mampu memperkuat kedaulatan pangan nasional.