
HDDAP menjadi langkah konkrit membangun kemandirianperbenihan
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Pengembangan benih hortikultura menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP). Tidak sekadar memenuhi kebutuhan petani, program ini diarahkan untuk memperkuat perbenihan nasional.
Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi mengatakan, HDDAP menjadi langkah konkret untuk membangun sistem perbenihan yang lebih kuat dalam tiga tahun ke depan. Potensi sumber daya genetik lokal akan menjadi perhatian, didukung investasi penelitian dan pengembangan (R&D), infrastruktur, serta penguatan kelembagaan perbenihan.
“Melalui proyek HDDAP ini, dalam tiga tahun ke depan kita akan berupaya bagaimana menduniakan benih hortikultura Indonesia. Kita akan fokus secara optimal di 12 kabupaten/kota, dengan sumber daya genetik lokal menjadi perhatian utama,” ujarnya saat webinar Penguatan Perlindungan dan Perbenihan dalam Ekosistem Hulu-Hilir Hortikultura di HDDAP yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Kamis (29/10).
Menurut Agung, pengembangan benih harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Penguatan dimulai dari Balai Benih Hortikultura (BBH), pengawasan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT), kemudian melibatkan penangkar hingga kelembagaan ekonomi petani (KEP) sebelum benih sampai ke tangan petani.
“Jadi, kita tidak hanya bicara produksi benih. Balai benih harus diperkuat, penangkar harus berkembang, dan kelembagaan petani juga harus terlibat. Dengan begitu, benih yang dihasilkan benar-benar bisa sampai kepada petani,” jelasnya.
Varietas yang dikembangkan juga harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim. Karena itu, HDDAP diarahkan untuk menghasilkan varietas yang adaptif terhadap cekaman iklim dan tahan terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT), sekaligus memenuhi standar mutu nasional maupun internasional.
“Varietas yang kita kembangkan harus adaptif terhadap cekaman iklim dan resisten terhadap OPT. Standar mutu juga harus kita penuhi, bukan hanya standar nasional, tetapi juga internasional,” tegas Agung.
Penguatan produksi juga harus diikuti perluasan pasar. Pemerintah mendorong pembangunan jejaring distribusi dan pemasaran luar negeri, pemanfaatan e-commerce, serta kolaborasi riset dan pembiayaan. Dengan demikian, produksi benih dapat dilakukan dalam skala memadai, mutu terjaga, dan biaya produksi maupun distribusi lebih efisien.
Tiga Strategi
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Pertanian menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, memperkuat layanan pendaftaran varietas hortikultura melalui penyederhanaan regulasi, transparansi pelayanan, dan pendampingan pengujian varietas unggul.
Pendaftaran varietas merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap varietas hasil pemuliaan dalam negeri maupun introduksi. Prosesnya dilakukan melalui uji adaptasi atau uji observasi untuk mengetahui deskripsi dan keunggulan varietas sebelum diterbitkan tanda daftar varietas hortikultura.
Kedua, memperkuat pengawasan mutu benih melalui sertifikasi dan pengawasan peredaran benih. Ketiga, meningkatkan penyediaan benih bermutu dengan memperkuat kelembagaan perbenihan serta kolaborasi untuk menjamin ketersediaan benih komoditas strategis.
Strategi tersebut menjadi penting karena ketersediaan benih bermutu merupakan fondasi pengembangan hortikultura yang berdaya saing dan berkelanjutan. Melalui komponen perbenihan HDDAP, pemerintah memberikan dukungan berupa peralatan laboratorium BBH, benih sumber kentang, bawang merah, dan jahe, serta peningkatan kompetensi petugas dan produsen benih.
Fasilitasi BBH mencakup sejumlah wilayah.Di Sumatera Utara berada di Kutagadung dan Gedung Johor, BBH Jawa Tengah di Surakarta, Semarang, dan Banyumas, serta BBH Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Bimbingan teknis Training of Trainers (TOT) bagi petugas perbenihan telah dilaksanakan pada November 2025 dan Mei 2026. Selanjutnya, pelatihan sertifikasi Sistem Manajemen Mutu Produksi Benih Hortikultura berdasarkan SNI ISO 9001 direncanakan berlangsung pada Februari 2027 di 10 BBH.
“Tidak hanya petugas, produsen benih juga mendapatkan pendampingan melalui bimbingan teknis produksi dan sertifikasi. Komoditas yang menjadi sasaran meliputi bawang merah, kentang, kunyit, mangga, salak, alpukat, pisang, manggis, dan durian,” tutur Agung