Saturday, 23 January 2021


Belajar di Sumatera, Milenial ini Buktikan Bawang Merah Tumbuh di Gede Pangrango

07 Jan 2021, 16:21 WIBEditor : Gesha

Pertanaman bawang Merah Firdaus Agustian | Sumber Foto:Diat

TABLOIDSINARTANI.COM,Sukabumi ---Rencana Tuhan memang selalu terbaik, itulah yang dirasakan oleh Firdaus Agustian yang sebelumnya tak pernah lolos tes Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan gagal menjadi pegawai swasta. Suratan takdir justru membawanya menjadi petani bawang merah di dataran ketinggian Sukabumi yang bukan main suburnya karena belajar langsung ke Sumatera Barat.

Dilahirkan dan dibesarkan di bawah kaki Gunung Gede Pangrango Sukabumi menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Ketika orang orang kota meluangkan waktu satu atau dua hari saja untuk main main ke pegunungan, Firdaus bisa melihat pemandangan dan menghirup udara sejuknya  setiap hari. Mayoritas penduduk daerah ini bermata pencaharian adalah petani. Namun, sebagian besar menanam sayuran dan penjualannya bergantung kepada tengkulak. Sehingga, penghasilannya tidak bisa menyokong ekonomi keluarga.

Setelah banyak melihat hasil pertanian yang dirasa tidak menguntungkan untuk petani, muncul ide liar Firdaus untuk bisa menanam jenis tumbuhan hortikultura yang harganya tidak terlalu murah dengan kualitas yang bagus. "Sebagai anak muda yang memang ingin fokus di dunia pertanian, otak dipaksa untuk mencari solusi dan akhirnya memilih untuk menanam bawang merah di dataran tinggi. Menariknya, sebagian orang bilang rencana saya tidak mungkin akan berhasil," tutur Firdaus mengawali cerita dirinya kepada tabloidsinartani.com.

Dirinya mencoba menambah paradigma masyarakat bahwa tanaman bawang merah tidah hanya bisa di tanam di dataran rendah seperti daerah Brebes. Namun di daerah dataran tinggi pun bawang merah ini bisa di budidayakan dengan kualitas yang sama baik. 

Maka dengan tekad yang sudah kotak, dirinya memutuskan belajar langsung dengan terbang ke pulau sumatera, tepat nya di Kecamatan Lemah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Wilayah tersebut memang dikenal sebagai sentra bawang merah dataran tinggi yang memiliki kualitas terbaik.

"Selama di Solok saya belajar tata cara mengolah tanah yang baik untuk tanaman bawang merah. Saya diberitahu kalau bawang merah memerlukan tanah yang benar benar gembur dan terjaga kesuburannya. Seorang teman asal Solok yang mengajarkan saya. Ia memiliki luas hampir 7 hektar. Saya diyakinkan kalau bawang merah juga bisa ditanam di dataran tinggi," tuturnya.

Dari hasil belajar pula, dirinya mengetahui kelebihan menanam bawang merah. Ketika tanaman hortikultura seperti tomat, cabai, sayuran yang hanya dapat bertahan 3-4 hari, bawang merah bisa bertahan sampai 3 bulan bahkan lebih, tentunya dengan tata cara penyimpanan yang baik dan benar. "Keunggulan lainnya adalah ketika bawang merah disimpan atau di-dormansi-kan, bawang tersebut bisa kembali ditanam untuk benih. Manfaat ya ketika suatu saat harga bawang anjlok, kita bisa menyimpannya untuk benih tanaman selanjutnya,dan untuk konsumsi pun masih bisa layak di pergunakan," jelasnya.

Dari segi harga, nilai bawang merah tetap stabil di Sukabumi, karena memang jarang yang menanamnya. Jadi, ketika hanya ada satu orang yang menanam otomatis harga akan lebih tinggi. Orang pasar biasanya mengambil dari daerah lain untuk mencukupi stok bawang merah di Sukabumi dengan ongkos operasional yang lebih besar.

Meski begitu, pertanian tanaman bawang merah bukan tanpa kendala. Kendala menanam bawang merah di dataran tinggi adalah adalah faktor air sangat mengandalkan cuaca hujan. Jika cuaca kemarau, Firdaus menyiasati dengan cara menampung air hujan ketika musim hujan datang. "Sedangkan kendala lain dari segi penjualan selalu berbenturan dengan para tengkulak yang ingin membeli bawang merah dengan harga semurah-murahnya. Jadi,  harus berinisiatif menjualnya secara mandiri dengan cara pintu ke pintu, dan menggunakan media sosial untuk daerah Sukabumi," tambahnya.

Persoalan utama yang sering menghantui petani muda adalah ketiadaan lahan pertanian sendiri. Untuk mengatasinya, dirinya menyewa lahan per tahun. Perlu diketahui seperti daerah lainnya, lahan pertanian semakin hari semakin sulit, ada lahan yang berubah menjadi permukiman dan berubah dijadikan fasilitas jalan. Sehingga, semaksimal mungkin memanfaatlah lahan yang tidak begitu luas, tetapi bisa digarap dengan maksimal. 

"Dari perhitungan harga yang kadang kurang berpihak untuk petani, bawang merah bisa memiliki harga yang di rasa cukup stabil dan cukup menguntungkan bagi petani. Saya bangga bisa menjadi andalan orang tua dan bisa meningkatkan ekonomi petani di daerah saya saat ini. Anak muda juga bisa unjuk cangkul di lahan petanian," tuturnya.

Jadi contoh

Upaya dirinya bergelut menanam bawang merah rupaya dilirik oleh petani lain. Kini, jumlah petani bawang merah yang bertambah menjadi 5 orang. Mayoritas penduduk setempat sekitar lahan saya. Mereka melihat saya berhasil panen dan menjualnya tidak membutuhkan waktu yang lama.

Apalagi pengolahan dalam menanam bawang tidak terlampau sulit, di luar pekerja harian yang memelihara tanaman bawang merah, rumput harus dicabuti setiap hari, meloseh hasil panen, dan menjemur bawang. Lokasi kebun bawang saat ini berada di Kampung Kalapa Condong, Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.

"Begitulah pengalaman saya yang sudah memutuskan menjadi petani di usia muda. Dari masa belajar dua tahun di pulau seberang dengan segudang pengalaman tata cara menanam dan memperlakukan tanaman bawang merah di daerah ketinggian, saya bisa di implementasikan pola penanamannya di tanah kelahiran saya," tuturnya.

Firdaus berpesan, Kalau anak-anak muda mau pasti bisa bekerja sebagai petani, namun harus mau belajar dan terjun langsung di sektor pertanian. "Saya membuktikan dari kaki Gunung Gede Pangrango Sukabumi bisa menghadirkan komoditas baru yaitu bawang merah. Sedangkan dulu, hanya ada sayur mayur, tomat, cabe rawit, dan lain-lain," tuturnya.

Reporter : Diat Sudjatman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018