Friday, 07 May 2021


Kisah Safa Lupakan Ganja, Dapatkan Ratusan Juta dari Bawang Merah

11 Apr 2021, 16:23 WIBEditor : Ahmad Soim

Safa menyerahkan hasil panen di kebun Lamteuba kepada Kadistanbunnak Aceh Tamiang Yunus SP bersama tim | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Safaruddin alias Safa (34) adalah seorang pemuda asal Lhoknibong, Aceh Timur, yang dulunya menanam Ganja, akhirnya sadar. Dia pergi tinggalkan kampung halamannya, untuk mengadu nasib dan merantau ke Lamteuba, Aceh Besar.

Alhamdulillah, akhirnya tahun 2006 dia bertemu dengan orang yang tepat, namanya Muslahuddin Daud banking yang resign dari World Bank, beralih profesi menjadi pemerhati lingkungan dan aktivis bidang pertanian.

Safa adalah sosok pemuda milenial, yang pernah terjerumus ke jalan yang salah. Namun dari kepribadiannya dia berperilaku baik dan sangat sopan. Itu terlihat dari gerak geriknnya maupun saat dia bertutur kata.

Pada usianya yang mulai beranjak dewasa (26 tahun), dia mempersunting seorang gadis kampung yang berhasil memikat hatinya... Kini pernikahannya sudah berjalan hampir lima tahun. Dari hasil pernikahannya, sekarang Safa sudah dikaruniai dua orang anak. "Istri saya tidak bekerja Bang, hanya sebagai ibu rumah tangga biasa namun bisa mengurus anak", timpalnya.

"Waktu kenal dengan Pak Muslahuddin Daud sejak 2006, dan mulai tahun 2008 diajak Pak Mus membuka kebun di Lamteuba", kenang dia mulai bercerita...

Pertama sekali dia belajar sebagai petani, diajak menanam Pepaya Merah Delima (MD), yang beritanya sempat viral di media masa lokal, Website BPTP Aceh dan juga di Web Balitbu Solok. Karena judulnya sangat heboh dan provokatif "Pepaya MD, Bukan Muslahuddin Daud".

Dia bekerja tidak sendiri, ada tujuh orang lagi temannya yang tinggal di lokasi tersebut. "Disini ada teman teman saya juga, Dahrun, Nazar, Farhan, Mirza, Syahnin dan Hakim", sambungnya.

Dirinya yang ditunjuk sebagai ketua kelompok, menjawab bahwa semuanya rajin. "Tidak ada temannya yang bermalas-malasan, karena semua sudah tau dengan tugasnya masing-masing", bebernya.

Bangun tidur tidak perlu dibangunkan lagi dan bahkan tidak perlu diatur apalagi diperintah. Karena katanya, setiap bangun tidur mereka langsung bekerja tanpa tunggu aba-aba lagi.

Setelah mandi dan sarapan, setiap harinya mulai pukul 8 pagi, semua turun ke lapangan dan bekerja hingga pukul 11 siang. Kemudian beristirahat, makan dan sholat. Selanjutnya jam 15.00 bekerja kembali hingga sore pukul 17.00 wib.

Kalau teman temannya yang lain, tetap tidur dan tinggal di lokasi dengan fasilitas yang ada. Sementara Safa, seminggu sekali pulang kerumah bertemu anak dan keluarganya di desa Lambada, dekat dengan tempatnya bekerja.

Dengan mengenal Pak Mus kami sangat senang, karena semua kebutuhan setiap harinya bisa terpenuhi dari kebun. Hal ini dilakukan semata demi menjemput masa depan yang lebih baik. "Untuk itu, kita harus sabar dan disiplin dalam menaungi hidup dan kehidupan ini", ingatnya.

Dia mengaku selama tinggal dan bekerja di lokasi P4S Lamteuba sangat banyak perubahan ke hal hal positif. Dia juga mengimbau agar remaja tidak terlibat dalam kehidupan Narkoba yang merajalela. Kita hidup jangan mencari masalah lagi, karena masalah kita sendiri sudah banyak. Dari itu kata dia, jangan membuat masalah lagi, untuk apa kita banyak duit, sementara tidur tak nyenyak dan hidup pun tak tenang.

"Apalagi kalau sudah berkeluarga dan punya anak, sayangi keluarga dan jaga anak yang dititipkan sama kita", tambahnya.

Dari raut wajah dan bola matanya terpancar kesedihan yang mendalam. Dirinya terkenang kembali masa remajanya, yang ditinggal sosok ayah tercinta tahun 2002.

Tidak kurang, 50 petani milenial yang mengelola lahan seluas 30 hektar. Untuk kegiatan sehari hari mereka mendapat insentif sebesar Rp.100.000 per hari. Namun kalau ingin berekspresi dan mengembangkan usaha sendiri akan mendapat hasil jauh lebih besar lagi.

Menurut pengakuan Safa panggilan akrabnya, "sewaktu menanam ganja dirinya walaupun tidak pernah di tahan, tapi selalu dikejar kejar oleh aparat berwenang dan selalu gelisah, hidup pun tidak pernah tenang", ungkitnya.

Dengan bekerjasama dengan BNN dan Baitulmal, Muslahuddin merekrut anak anak muda yang salah jalan untuk dibina menjadi lebih berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat sekitar.

Kebun seluas 30 hektar, ditanam beraneka ragam jenis tanaman seperti Pisang, Alpukat, Bawang Merah, Cabai Merah dan Jagung.

Untuk penanaman Jagung menggunakan benih Pioner 35, binaan BNN 30 ha, dapat menghasilkan rata-rata 8,1 ton/ha. Kemudian Baitulmal juga ada sekitar 30 hektar. Pemberian pupuk hanya NPK 100 kg/ha ditambah pupuk bio organik stimulant (BOS) dan pupuk organik cair (POC). Sementara kalau yang pertama benih Jagungnya Bisi 226.

BACA JUGA:

Muslahuddin sejak membuka lahan secara intensif di Lamteuba lima tahun lalu, selama ini terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak baik dinas/instansi terkait juga pernah melibatkan polisi belajar berkebun.

Dari mulai membuka lahan sampai saat ini, pihaknya melibatkan tenaga kerja milenial yang selama ini memilih jalan salah (menanam ganja).

Menanam Bawang Merah

Pengalaman taninya yang menyenangkan yaitu saat Safa menanam Bawang Merah. Karena hasil usahanya yang bisa meraup keuntungan luar biasa hingga mencapai Rp 150 juta.

"Hasil itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun diperoleh karena kesabaran, kegigihan berkat kerja keras penuh perjuangan dan doa", ungkapnya terharu.

Dengan menggunakan bibit umbi sebanyak satu kilogram sambungnya, kita juga harus merawat tanaman dengan baik. Sehingga hasilnya bisa sepuluh kali lipat (1 : 10).

"Dari hasil bibit Bawang yang kami tanam pada lahan tersebut  memperoleh hasil hingga 10 ton dan harga Bawang saat itu berkisar Rp 35.000 - 45.000", ungkapnya bangga.

Waktu diminta fotonya dengan Bawang merah, dengan gamblang dia menjawab, fotonya ada dalam Instagram Pak Mus @muslahuddindaud. "Kalau saya hanya ada Facebook dengan akun Jafaruddin Us", ujarnya.

Dia sendiri mendapat hasil 3 ton per hektar dan mendapatkan uang penjualan Bawang sebanyak Rp 150 juta. Benih yang digunakan berasal dari umbi, Namun ada juga yang dari biji, tapi harus disemai terlebih dahulu. "Bahkan temannya Nazar pernah memperoleh hasil hingga 8 ton, karena luasnya mendekati dua hektar", tambahnya bersemangat. Pupuknya   Urea, NPK Mutiara dan kotoran ternak Ayam yang sudah dijadikan kompos, perbandingan  1 : 5.

Hasil jerih payahnya itu digunakan selain untuk membuat rumah dan membeli lima ekor Sapi serta Emas untuk istri kesayangannya.

Mendengar kisah Safa itu, membuat Kadistanbunnak Aceh Tamiang Yunus SP sempat tercengang dan  terharu. Melalui benaknya yang diutarakan secara langsung memberi apresiasi serta respon yang sangat positif.

Keberadaan Safa ini perlu ditiru oleh anak muda dan milenial lainnya. Dirinya juga bertekad akan menyebarluaskan informasi ini. 

Dalam hidup ini katanya, kita tidak harus bergelimangan harta dan kemewahan dunia semata. "Tidak perlu kenikmatan sesaat itu, apalagi ditempuh dengan jalan yang salah", cetusnya.

Untuk mencapai kenikmatan yang lebih indah kedepan sambungnya, selain kita harus bekerja keras dan berjuang juga harus diiringi dengan doa. "Seperti halnya Safa dan teman temannya, berani berkorban dengan meninggalkan keluarga dan anak isteri. Tentu  hasilnyapun tak sia sia, dan penuh sejuta makna", ujarnya berfilosofi.

"Artinya dengan pembinaan dan bimbingan yang dilakukan Pak Mus, telah terbukti memberikan jalan terbaik bagi petani milenial", ujarnya.

Apalagi dari kegiatan berkebun selain setiap minggunya bisa menghasilkan 100 tandan pisang Barangan, ada juga Pepaya, Alpukat, Pinang, Kemiri, Serai dan Jeruk Bali. Kegiatan ini perlu ditiru dan dicontoh khususnya untuk masyarakat Tamiang dan Aceh pada umumnya.

Untuk itu, dia mengajak agar pemuda milenial tidak lagi duduk diam berpangku tangan saja... Mari kita bangkit untuk mewujudkan Aceh yang lebih bermutu, hebat dan semakin bermartabat. Sehingga kita akan menuju masyarakat yang lebih sejahtera.

"Semoga pemuda pemuda milenial di Lamteuba ini bisa menjadi penyemangat untuk menggarap dan memanfaatkan lahan lahan marginal dan terlantar", pungkasnya.

Sinar Tani mendapat informasi awal dari Sri Novita, SST Koord BPP Lembah Seulawah. Selanjutnya bersama Kadiatanbunnak Aceh Tamiang, Yunus, SP dan Kabid, serta didampingi Fauzan dan Albishri PPL Seulimum menuju ke lokasi.

Direncanakan di lokasi P4S ini, Yayasan Institut Sosial Pemberdayaan Masyarakat Aceh, akan dibangun asrama untuk menampung 1000 petani milenial, sehingga dapat dilakukan pembinaan dan bimbingan secara intensif.

--+

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018