Wednesday, 21 October 2026


Keluar dari BUMN, Edi Sukses Beternak Sapi

07 Dec 2021, 16:26 WIBEditor : Yulianto

Edi Herwanto keluar dari BUMN beternak sapi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hidup adalah pilihan. Begitu juga dalam menekuni sebuah pekerjaan adalah sebuah pilihan hidup bagi seseorang. Keputusan nekat diambil Edi Herwanto (49) yang keluar dari pekerjaan lamanya yang nyaman di salah satu BUMN dan beralih menjadi peternak.

Edi justru  sukses menekuni dunia peternakan. Peternak sapi yang tinggal di Desa Pagerluyung Kecamatan Gedek, Kabupaten Mojokerto ini sukses mengembangkan intergrasi pertanian dan peternakan.

“Saya dulu pegawai BUMN di Jasa Marga, terus saya mengundurkan diri tahun 2004 karena ingin terjun di dunia pertanian. Saya melihat anak-anak muda tidak ada yang mau bertani, saya prihatin sekali. Akhirnya saya mengundurkan diri terus bertani,” tutur Edi kepada tabloidsinartani.com

Edi awalnya fokus pada pengembangan tanaman tebu. Namun kemudian secara otodidak membuat alat pertanian yang dilirik PTPN 10. Setelah mengikuti seleksi dirinya diminta belajar bertani dan beternak ke Thailand dan Moridus. Sepulang dari luar negeri, ia memiliki ide bertenak dan menghasilkan bahan pakan untuk ternaknya dari limbah pertanian.

“Selama ini limbah pertanian tidak termanfaatkan. Lalu  saya manfaatkan untuk menjadi pakan ternak. Limbah dari ternaknya olah menjadi pupuk kompos yang kemduian saya kembalikan ke lahan pertanian untuk menyuburkan tanaman,” ujar Edi yang juga menanam tebu, jagung, padi, kangkung, serta porang. Luas lahan yang dimilikinya sekitar 11 ha dan lahan yang disewa 24 ha.

Edi sempat mendapat bantuan sapi Pogasi sapi Peranakan Ongola Gratik Hasil Seleksi Agrinak sebanyak 10 ekor pada 2018 (9 ekor betina dan 1 ekor pejantan). Kini sudah berkembang menjadi 24 ekor ini dan sudah bunting 6 ekor.

Sapi Pogasi adalah Peranakan Ongole Grati Hasil Seleksi Agrinak. Sapi tersebut merupakan galur baru hasil penelitian pemuliaan selama lebih dari 13 tahun (sampai empat generasi) yang telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi).

Soal omset, Edi mengaku, belum pernah menghitung secara detail. Namun pada tahun 2018 pernah mencapai Rp 15 juta/bulan. “Saya punya cita-cita membentuk pertanian yang terpadu dan terintegrasi jadi ada peternakan, perikanan. Jadi, semua ada,” tambahnya.

Bagi Edi yang merupakan Sarjana Ekonomi memilih berternak dan bertani setelah keluar dari BUMN menjadikan dirinya memiliki pengalaman banyak. Selain mendapat teman banyak, ia juga bisa keliling Indonesia.

Karena itu Edi berharap kepada generasi muda semangat terus bertani. Jangan meremehkan bidang pertanian dan peternakan. Sebab, jika kita mengabaikan, maka akan ketinggalan dan akan dijajah negara lain.

“Saya berharap anak-anak muda Indonesia mau bertani disitu banyak peluang besar kalau ada terjun disitu inshaa Allah ada bisa sukses bekerja sendiri mandiri dan terus berinovasi,” ujarnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018