Monday, 08 August 2022


Guru Besar ini Mengabdi untuk Kejayaan Singkong  

05 Jan 2022, 17:39 WIBEditor : Yulianto

Ahmad Subagio, Guru Besar Universitas Jember | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong menjadi komoditas pangan lokal yang mempunyai potensi besar sebagai sumber karbohidrat. Sayangnya selama ini ada kesan miring terhadap panganan tersebut.

Bahkan ada sebuah lagu yang membandingkan antara anak singkong dan anak keju. Meski ada kesan inferior terhadap singkong, namun Achmad Subagio, Guru Besar Universitas Jember, Jawa Timur ini justru mengambdikan dirinya untuk kejayaan singkong.

Ia berupaya membawa singkong naik kelas. Bahkan Subagio tak mau mematenkan hak cipta dari hasil penelitian tepung mocafnya agar masyarakat luas dapat mengadaptasi dan mengembangkannya.

Tak hanya bertujuan mengangkat derajat singkong, Subagio yang mendapat julukan sebagai ‘profesor singkong’ itu juga berupaya memberdayakan lahan kritis atau lahan yang cenderung kurang subur menjadi hidup kembali dengan menanam singkong.

Subagio juga menciptakan beras cerdas yakni beras analog berbahan dasar tepung mocaf dan berbagai olahan turunan dari mocaf lainnya.  Dengan pengoahan menjadi bentuk tepung dengan cita rasa dan aroma singkong yang tidak terlalu kuat akan lebih mudah diterima pasar. “Bahkan lebih fleksibel untuk diolah menjadi bentuk apa pun,” katanya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, tantangan terhadap pengembangan pangan lokal adalah kompetisi dengan produk komoditas lain yang harganya lebih tinggi ataupun umur lebih pendek seperti jagung. Karena itu, perlu upaya meningkatkan produktivitas singkong serta meningkatkan nilai  tambah melalui berbagai produk olahan.

Untuk itu, menurutnya perlu penanganan model korporasi karena di korporasi terintegrasi menjadi satu inputnya. Dengan korporasi yang memanfaatkan mekanisasi dan bekerjasama menjadi off taker industri, petani akan mendapat kemudahan sumber pendanaan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kunci selanjutnya menurut Suwandi adalah teknologi pengolahan. Ada sekitar 28 produk turunan yang bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan ke pasar maupun supermarket dengan branding yang bagus.

“Makanan lokal kuncinya ada di hilir market driven, bagaimana menciptakan pasar supaya pangan lokal jadi gaya hidup. Bangun market drivennya, pasar dibangun, baru produksi mengikuti. Kalau pasar bagus petani akan mengikuti berproduksi,” kata Suwandi

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018