
Madu Bunga Ningrum, anak petani dari Polbangtan Kementan, bikin geger Istanbul usai raih Juara 1 di ajang bisnis internasional bergengsi dunia!
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Madu Bunga Ningrum, anak petani dari Polbangtan Kementan, bikin geger Istanbul usai raih Juara 1 di ajang bisnis internasional bergengsi dunia!
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor.
Madu Bunga Ningrum, mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan semester 4, berhasil meraih Juara 1 (Champion) pada ajang International Business Case Competition 2025 yang diselenggarakan oleh Istanbul University, Turki, awal tahun ini.
Kompetisi bergengsi tingkat dunia ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai negara dan menjadi ajang adu strategi bisnis dengan kasus-kasus nyata berskala global.
Madu menjadi satu-satunya perwakilan dari perguruan tinggi vokasi pertanian Indonesia yang berhasil masuk dalam tim lintas universitas bersama mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Binus University, Universitas Pelita Harapan, dan Prasetiya Mulya.
“Awalnya saya hanya ingin mencoba, setelah ikut seleksi internal akhirnya terpilih mewakili tim. Saya tidak menyangka bisa bergabung dengan mereka, tapi saya yakin tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Madu penuh semangat.
Langkahnya dalam kompetisi internasional ini tidak main-main. Ia menjalani persiapan yang sangat intens bersama tim, mulai dari mempelajari kasus bisnis internasional, latihan analisis pasar dan strategi pemasaran global, hingga simulasi presentasi dan diskusi rutin lintas negara.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah perbedaan bahasa dan budaya kerja dalam tim internasional, serta tekanan waktu untuk mengolah data bisnis yang kompleks. Namun semua itu terbayar lunas ketika nama timnya diumumkan sebagai pemenang.
“Rasanya luar biasa, bangga, dan terharu karena kerja keras kami akhirnya membuahkan hasil. Bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional adalah pengalaman yang tak ternilai,” kata Madu.
Selain mendapatkan sertifikat resmi, tim pemenang juga memperoleh hadiah uang sebesar TRY 47.000 (empat puluh tujuh ribu Lira Turki), atau sekitar Rp24 juta.
Prestasi ini pun mendapat sambutan hangat dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti nyata bahwa lulusan pendidikan vokasi Kementan mampu bersaing di level global.
“Ini bukti bahwa lulusan pendidikan vokasi Kementan mampu bersaing di level global. Mahasiswa Polbangtan tidak hanya belajar teknis pertanian, tetapi juga memiliki wawasan bisnis dan kepemimpinan yang kuat. Prestasi ini harus menjadi motivasi bagi generasi muda pertanian lainnya untuk berani bermimpi besar.”
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga tak kalah bangga atas capaian tersebut.
“Polbangtan adalah rumah bagi calon wirausaha muda pertanian. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita siap menjadi petani milenial yang tidak hanya mahir di lapangan, tetapi juga cakap dalam bisnis dan manajemen global, " sebutnya.
Keikutsertaan Madu dalam ajang internasional ini bermula dari informasi yang ia dapatkan melalui program internasional kampus, hasil kerja sama dengan sejumlah universitas di Turki. Rasa penasarannya yang besar membawa langkahnya sampai ke Turki.
Setelah memenangkan kompetisi, Madu berencana untuk terus mengasah kemampuan bisnis dan komunikasi internasionalnya.
Ia juga bertekad mengikuti kompetisi lain serta memperluas pengalaman melalui program magang. Saat ini, ia telah menjalani magang di Diaspora Unggul, memperkuat jaringan dan kemampuan profesionalnya.
Kisah Madu Bunga Ningrum bukan hanya menjadi kabar membanggakan bagi keluarga besar Polbangtan, tetapi juga menjadi inspirasi nasional.
Ia membuktikan bahwa anak petani dari lembaga pendidikan vokasi pun bisa berdiri sejajar di panggung dunia.
Dari desa menuju dunia, dari tanah tumbuh harapan. Kini Madu telah menunjukkan bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul tanah, tapi juga menggenggam peluang dan menciptakan solusi bisnis global.


