Sunday, 19 April 2026


Gede Deny Kharisman, Penangkar Benih yang Satukan Ilmu, Teknologi, dan Jaringan

30 Dec 2025, 14:43 WIBEditor : Herman

Gede Deny Kharisman, Pengkar Benih Tjap Bukitma

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Di saat banyak generasi muda memilih bekerja di balik meja kantor atau mengejar karier di kota besar, Gede Deny Kharisman justru mengambil jalan berbeda. Lulusan Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memutuskan turun ke lahan, berkotor tangan, dan menekuni dunia pembenihan.

Dari Bogor, Jawa Barat, Deny membangun usaha benih yang kini dikenal dengan merek “Tjap Bukitmas” di bawah naungan PT Bukitmas Agritech International.

Deny, pria kelahiran Singaraja, Bali, ini tidak serta-merta terjun ke dunia pertanian. Perjalanannya bermula pada 2018, saat ia mengelola usaha ekspedisi di kawasan Merdeka dan Cibinong, Bogor. Dari dua outlet ekspedisi tersebut, ribuan paket dikirim setiap hari, terutama pada masa pandemi Covid-19. Di antara berbagai jenis kiriman, Deny kerap menangani pengiriman benih edamame dari BB Biogen ke berbagai daerah di Indonesia.

“Setiap hari saya lihat benih edamame terus dikirim ke banyak daerah. Dari situ saya mulai berpikir, ini benih pasti punya prospek besar,” ujar Deny.

Rasa penasaran itu mendorong Deny mempelajari dunia perbenihan secara serius. Ia belajar secara otodidak, berdiskusi dengan praktisi, serta bertanya langsung kepada pihak-pihak yang memahami teknis pembenihan. Di waktu yang sama, Deny juga aktif di sektor pertanian organik sebagai agen EM4 di Kabupaten Bogor.

“Saya melihat bisnis benih akan sangat kuat kalau dikombinasikan dengan pupuk organik. Pertanian itu harus dibangun sebagai satu ekosistem,” katanya.

Keputusan besar diambil pada 2021. Deny menyewa lahan seluas 3.000 meter persegi di Cibinong dan mulai melakukan pembenihan edamame. Langkah ini terbilang berani, mengingat latar belakang pendidikannya yang jauh dari pertanian. Namun Deny memiliki keyakinan kuat terhadap masa depan sektor ini.

“Saya lulusan ITB, tapi saya percaya pertanian justru punya prospek jangka panjang. Apalagi saya melihat sendiri besarnya pergerakan produk pertanian lewat bisnis ekspedisi saya,” ungkapnya.

Dari lahan awal tersebut, Deny berhasil melakukan lima kali panen benih. Modal itulah yang menjadi pondasi pengembangan usaha. Kesempatan berkembang datang ketika seorang petani di Tapos, Bogor, membeli benih produksinya dan menginformasikan adanya lahan seluas 1 hektare yang dapat disewa. Deny pun memutuskan memindahkan pusat pembenihannya ke wilayah tersebut.

Memasuki awal 2023, Deny mulai memperluas jenis benih yang diproduksi. Tidak hanya edamame, tetapi juga buncis, jagung, kacang tanah, tomat, cabai, pare, hingga pepaya Kalina. Diversifikasi dilakukan untuk menekan risiko serangan hama akibat penanaman satu komoditas secara terus-menerus sekaligus menyesuaikan kebutuhan pasar.

“Kalau satu varietas ditanam terus, hama pasti datang. Petani harus adaptif dan cerdas membaca pasar,” jelas Deny.

Dalam menjalankan usaha, Deny memegang prinsip bahwa produksi benih harus berbasis pasar. Ia menolak memproduksi benih jika belum ada kepastian penyerapan. Menurutnya, petani kerap menjadi pihak yang paling dirugikan jika produksi tidak disertai jaringan pemasaran.

“Saya kasihan melihat petani, apalagi petani milenial. Jangan sampai mereka sudah capek di lahan, tapi bingung menjual hasilnya,” ujarnya.

Filosofi bertani Deny terangkum dalam konsep “tiga mas kawin petani”, yakni ilmu, teknologi, dan jaringan. Konsep ini kerap ia sampaikan saat menjadi pembicara di berbagai kegiatan pertanian.

“Kalau mau jadi petani, harus punya tiga mas kawin itu. Tanpa ilmu, teknologi, dan jaringan, bertani pasti berat dan rawan rugi,” tegasnya.

Nama Bukitmas sendiri sarat makna. Diambil dari nama banjar asal Deny di Bali, Bukit Telu, yang bermakna tiga bukit, serta kata “emas” sebagai simbol harapan.

“Bukitmas itu doa. Harapan saya, petani menanam dan memanen emas—bukan cuma hasil panen, tapi juga kesejahteraan,” katanya.

Kini, Bukitmas Agritech memiliki ratusan mitra pembenihan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Dengan penerapan teknologi, pengelolaan lahan 1 hektare cukup dilakukan oleh tiga tenaga kerja. Meski demikian, Deny mengakui tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan tenaga kerja, sementara kendala teknis seperti hama masih dapat diatasi.

Deny juga tidak menutup mata terhadap kegagalan. Ia mengaku pernah berada di titik impas, meski tidak sampai merugi. Seiring berkembangnya bisnis pembenihan, Deny pun menutup usaha ekspedisinya dan memilih fokus sepenuhnya di sektor pertanian.

“Gagal itu pasti ada. Tapi dari situlah kita belajar supaya ke depan bisa lebih baik,” tuturnya.

Bagi Deny, menjual benih bukan sekadar transaksi. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi kepada petani dan konsumennya.

“Saya ingin petani bertani dengan bahagia, menyenangkan, dan menguntungkan. Itu tujuan utama saya,” pungkasnya.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018