Wednesday, 04 November 2026


Dukungan HDDAP, Poktan Hijau Muda Siap Berkembang Lebih Besar

03 Nov 2026, 16:36 WIBEditor : Yulianto

Ketua Poktan Hijau Muda, Aditya Reza Kusuma

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Proyek Horticulture Development of Dry Land Area Project (HDDAP) membuka peluang bagi Kelompok Tani (Poktan) Hijau Muda untuk mengembangkan usaha hortikultura yang lebih produktif dan bernilai ekonomi. Melalui pengembangan alpukat varietas Miki, pembangunan sumur bor, jaringan irigasi perpipaan, hingga rencana laboratorium mikrobiologi tanah, kelompok petani milenial ini bersiap memperkuat usaha tani di lahan kering.

Ketua Poktan Hijau Muda, Aditya Reza Kusuma mengatakan, HDDAP memberikan kesempatan bagi kelompoknya untuk mengembangkan komoditas buah secara lebih terarah. Program Kementerian Pertanian yang didukung Asian Development Bank (ADB) tersebut diharapkan dapat membantu petani membangun usaha tani yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memiliki prospek pasar dan keberlanjutan ekonomi.

Menurut Aditya, dukungan HDDAP menjadi modal penting untuk meningkatkan skala usaha kelompok. Terlebih, petani di wilayahnya telah memiliki pengalaman mengembangkan sejumlah komoditas hortikultura, teknologi budidaya, serta jejaring pemasaran yang dapat mendukung pengembangan alpukat Miki.

Kelompoknya kemudian memilih hortikultura sebagai salah satu bidang usaha yang dikembangkan. Pada tahap awal, mereka menggarap sayuran bernilai ekonomi tinggi sebelum memperluas kegiatan ke berbagai komoditas buah.

Bagi Aditya, modernisasi pertanian tidak cukup dilakukan dengan mengganti peralatan atau menggunakan teknologi terbaru. Perubahan mendasar justru terletak pada cara petani mengelola usaha dan menentukan keputusan berdasarkan pengamatan serta data.

Pendekatan tersebut menjadi bekal bagi Poktan Hijau Muda untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan HDDAP. Dengan perencanaan yang lebih terukur, kelompok berharap pengembangan komoditas dapat memberikan hasil yang lebih baik sekaligus memperkuat pendapatan anggota.

Alpukat Miki

Salah satu dukungan utama HDDAP bagi Poktan Hijau Muda adalah pengembangan alpukat varietas Miki. Sebelum program tersebut berjalan, petani di wilayahnya sebenarnya sudah menanam alpukat. Namun, budidayanya belum dilakukan secara intensif dan sebagian masih sebatas tanaman hobi.

Melalui HDDAP, kelompok memperoleh kesempatan memperluas penanaman menggunakan varietas yang kualitasnya telah mereka kenal. Keyakinan terhadap potensi komoditas tersebut mendorong petani menyiapkan pengembangan dalam skala lebih besar. “Kami sudah tahu kualitasnya, makanya berani menanam 2.000 bibit dan akan terus bertumbuh,” ujar Aditya.

Poktan Hijau Muda menargetkan perluasan kebun alpukat dari sekitar 9 hektare menjadi 16 hektare. Luasan tersebut diharapkan terus bertambah seiring perkembangan usaha dan kesiapan petani mengelola tanaman secara lebih intensif.

Pengembangan alpukat Miki juga menjadi bagian dari upaya mengubah pola usaha tani. Jika sebelumnya alpukat belum menjadi sumber pendapatan utama, kelompok kini berupaya menjadikannya komoditas komersial dengan pengelolaan kebun yang lebih terencana.

Namun Aditya menilai, keberhasilan pengembangan tidak hanya ditentukan jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan tanaman, ketersediaan air, kondisi tanah, dan pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan menjadi faktor penting agar kebun dapat tumbuh sehat dan menghasilkan buah sesuai harapan.

Satu hal yang menjadi tantangan budidaya tanaman di lahan kering adalah persoalan air. Sebab, tanaman buah membutuhkan pengelolaan air yang memadai, terutama selama fase pertumbuhan awal hingga memasuki masa produksi.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Poktan Hijau Muda merencanakan pembangunan sumur bor pada akhir tahun ini. Air dari sumber tersebut nantinya dialirkan melalui jaringan pipa irigasi yang terhubung dengan kebun alpukat milik anggota kelompok.

Aditya menilai, dukungan infrastruktur air dapat menjadi fondasi bagi pengembangan kebun secara lebih terukur. Ketersediaan air yang dikelola dengan baik akan membantu petani menyesuaikan kebutuhan tanaman dan mengurangi ketergantungan pada kondisi hujan.

Bagi kelompok tani, infrastruktur irigasi bukan sekadar fasilitas pendukung. Keberadaannya menjadi bagian dari sistem produksi yang perlu dipersiapkan sejak awal agar pengembangan komoditas dapat berjalan secara berkelanjutan.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018