Saturday, 15 August 2020


Koperasi Pangan Dipersiapkan Untuk Naikkan Level Petani

13 Jul 2020, 15:30 WIBEditor : Gesha

Koperasi Pondok Pesantren menjadi contoh berjalannya koperasi pangan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---  Kementerian Koperasi dan UKM dalam waktu dekat akan membuat pilot project Koperasi Pangan. Diharapkan dengan adanya koperasi ini bisa menaikkan level petani menjadi pebisnis.

"Hingga saat ini, koperasi yang bergerak di sektor hulu seperti pangan masih sangat sedikit. Kebanyakan koperasi yang hadir di Indonesia, yakni koperasi konsumen, karyawan dan simpan pinjam," ungkap Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki. 

Padahal, sesuai dengan amanat dan peran sebagai sokoguru perekonomian nasional, koperasi setidaknya harus menjadi leading dalam perekonomian, terutama pangan. Teten sendiri mencontohkan beberapa koperasi pangan yang sudah sukses di luar negeri. 

"Contohnya koperasi susu Fonterra dari Selandia Baru, yang sukses menguasai 30 persen pasar susu dunia. Dan masih banyak lagi contoh sukses koperasi pangan dari negara lain yang berhasil menembus pasar dunia," jelasnya.

Dari segi pinjaman modal, Koperasi Pangan akan melibatkan Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Syariah. Petani juga bisa mendapatkan pembiayaan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena koperasi harus memiliki dana untuk membeli produk anghota sehingga bisa dipasarkan. "Kita tentu harus gaet juga bank Himbara atau Bank Jabar kalau di Jawa Barat agar mau membiayai produk petani," tambahnya.

Jika ada pihak yang menjamin membeli produk petani maka pembiayaan tidak begitu tinggi. "Kalau pihak swasta tidak mau, maka saya akan minta BUMN pangan untuk membeli," imbuhnya.

Hulu Hilir

Menkop UKM, Teten juga akan membuat perencanaan pangan yang terintegrasi dari hulu hingga ke industri hilir. Sehingga sektor pangan Indonesia bisa jauh lebih efisien.

Di sektor hulu, dirinya mengusulkan melalui program kehutanan sosial, masyarakat bisa meminjam 2 hektare (ha) tanah per Kartu Keluarga (KK) selama 35 tahun. Periode waktu tersebut bisa diperpanjang menjadi 35 tahun lagi, sehingga totalnya menjadi 70 tahun.

Untuk mencapai skala bisnis, pengembangan tanah garapan tersebut akan dikonsolidasikan. Maka untuk proses produksi, hasil panen, dan pemasaran akan lebih efisen serta memberikan hasil yang maksimal.

"Sistemnya konsolidasi dalam skala bisnis, misalnya 100 sampai 200 hektare. Di Jawa, kami sudah melakukan pemetaan dengan Perhutani dan akan membuat koperasi yang cukup besar, untuk komoditas padi, jagung, dan garam untuk substitusi impor," tuturnya.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018