Monday, 28 September 2020


Wilayah Awas Kekeringan Meningkat, Kementan Anjurkan Petani Waspada

09 Sep 2020, 16:56 WIBEditor : Ahmad Soim

Pompa air untuk antisipasi kekeringan | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

 

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta –  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  menyebut jumlah wilayah yang berstatus 'awas' kekeringan di Indonesia meningkat dari 21 jadi 23. Kementan meminta petani menjaga lahan dengan asuransi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan peringatan dari BMKG harus disikapi dengan serius, khususnya oleh insan pertanian. Apalagi, di bulan ini musim kemarau diprediksi sedang berada di fase puncak.

“BMKG telah mengeluarkan peta peringatan dini kekeringan. Kondisi ini jelas tidak bersahabat dengan pertanian. Karena muncul potensi ancaman gagal panen. Masih ada waktu, kita antisipasi hal itu dengan memaksimalkan water management dan menjaga lahan dengan asuransi,” tutur Mentan SYL, Rabu (9/9/2020).

BACA JUGA:

Ratusan Pompa Turun Siagakan Kekeringan Indramayu

Korporasi Petani Sleman Hasilkan Benih Tahan Kekeringan untuk Tanam MK

Imbauan serupa disampaikan Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy.

“Water management langkah yang baik untuk memastikan ketersediaan air selama kemarau. Tapi, mengingat bulan ini diprediksi sebagai puncak kemarau, kita sarankan petani untuk menjaga lahan pertanian dengan memanfaatkan asuransi,” tuturnya.

Sarwo Edhy menambahkan, asuransi merupakan salah satu komponen dalam manajemen usahatani untuk mitigasi risiko bila terjadi gagal panen. Dengan adanya asuransi, perbankan lebih percaya dalam menyalurkan kredit.

“Dengan asuransi, petani tidak perlu khawatir mengalami kerugian. Karena, lahan yang mengalami gagal panen segera diklaim asuransi. Sehingga petani tetap memiliki modal untuk kembali menanam,” terangnya.

Berdasakan peta peringatan dini kekeringan meteorologis yang dirilis BMKG, jumlah wilayah yang berstatus 'awas' kekeringan di Indonesia meningkat dari 21 jadi 23. Penyebabnya, musim kemarau sedang berada di fase puncak.

Wilayah berstatus 'awas' terbanyak (14) ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai dari Kabupaten Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang. Lalu Kabupaten Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, hingga Kabupaten Timor tengah Timur.

Sedangkan wilayah berstatus 'awas' terbanyak kedua (5) adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Mulai dari Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga Kabupaten Sumbawa.

Selanjutnya dua wilayah di Provinsi Maluku, yakni Kab. Maluku Barat Daya dan Kab. Maluku Tanimbar. Dua terakhir adalah Kabupaten Buleleng di Bali dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo mengatakan, peningkatan itu terjadi karena musim kemarau di Indonesia sedang berada di fase puncaknya (Agustus-September). Kini, sebanyak 87 persen wilayah Indonesia masih dilanda kemarau.

Penyebab lainnya adalah pola aliran udara yang masih berupa aliran udara timuran dari Australia yang kering. "Sehingga potensi hujan di wilayah-wilayah (seperti) NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur belum banyak," kata Mulyono.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018