Sabtu, 01 Oktober 2022


Tanah Sehat, Panen Berlipat

31 Agu 2022, 11:33 WIBEditor : Yulianto

Webinar Tanah Sehat, Hasil Panen Berlipat yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama FMC | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sebagian lahan pertanian di Indonesia bisa dibilang kini tengah ‘sakit’. Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi ganjalan dalam upaya mempertahankan produksi pangan.

Kritisnya lahan pertanian diakui, Admansyah Lubis, salah seorang Penyuluh Swadaya Indonesia yang tinggal di Aceh. Banyak lahan yang kini justru lebih dominan mengandung racun dalam tanah, terutama zat alumunium dan besi ketimbang bahan organik. “Kondisi ini membuat produktivitas padi kita makin menurun,” katanya.

Karena itu Admansyah menegaskan, pihaknya berupaya menggerakkan menghidupkan tanah kembali. Untuk itu, ia berharap, petani harus memahami tanah yang baik dan mengerti kategori tanah yang rusak. “Selama ini, petani hanya memikirkan pemupukan, tapi tidak memahami bahan penyusun tanah. Tanah rusak itu karena bahan penyusunnya tidak seimbang, bahan organik dan pasir tidak ada,” tuturnya.

Apa yang diungkapkan dan dirasakan Admansyah mewakilkan petani dan penyuluh pertanian lainnya. Penggunaan pupuk sintetis dan pestisida yang semakin meningkat dari tahun ke tahun memang disinyalir menjadi penyebab makin minimnya unsur hara lahan pertanian, sehingga kesuburan lahan menurun.

Apalagi perilaku petani yang cenderung tidak rasional dalam penggunaan pupuk kimia yang melebihi dosis juga ikut merusak lahan pertanian. Jika kondisi itu dibiarkan, maka dikhawatirkan ancaman kerusakan ekologi yang makin meluas.

Bukan hanya, upaya peningkatan produksi pangan bakal terhambat. Saat ini terlihat produktivitas tanaman padi yang dalam 10 tahun terakhir cenderung stagnan, hanya berkisar 5 ton/hektar (ha) gabah kering giling (GKG).

Bahkan status Indonesia, sebagai negara yang mampu mencapai Swasembada Beras selama periode 2019-2021 bisa terancam. Upaya menjaga produksi pangan adalah dengan menyehatkan tanah yang sakit. Bagaimana caranya?

Kepala Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian, Ladiyani Retno Widowati mengatakan, untuk menyehatkan tanah pertanian perlu ada upaya pembenahan tanah.  Dalam SNI 6679:2002, pembenah tanah ada dua jenis. Pertama, an-organik yakni, pembenah tanah yang tidak mengandung zat organic unsur hara primer, sekunder dan mikro. Contohnya, pupuk kapur pertanian, gypsum dan zeolite alam.

Kedua pembenah tanah organik alam yakni,  bahan yang berasal dari tumbuhan dan hewan untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Jenisnya , kapur, dolomit, gipsum dan zeolit. “Berdasarkan Permentan, pembenah tanah organik mempunyai persyaratan teknis minimal (PTM) seperti  pupuk organik, kecuali hara NPK,” katanya.

Sedangkan berdasarkan Permentan No.01/2019, pembenah tanah adalah bahan-bahan sintetis atau alami, organik atau mineral berbentuk padat atau cair yang meampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan atau biologi tanah.

Pelandaian Produktivitas

Ladiyani mengakui, permasalahan utama kesuburuan menyebabkan pelandaian produktivitas padi (levelling off), penurunan kualitas lahan kering disebabkan penurunan C organic dan lapisan tanah subur juga menghilang.

“Kondisi tersebut terjadi karena pemupukan yang tidak berimbang. Dampak lebih lanjut adalah penurunan efisiensi pemupukan,” kata Ladiyani saat Webinar Tanah Sehat, Hasil Panen Berlipat hasil kerjasama Tabloid Sinar Tani dengan FMC di Jakarta, Rabu (31/8).

Menurut Ladiyani, tanah tidak akan berproduktivitas baik bila tanah tidak dibenahi dahulu. Namun ia mengingatkan dalam penggunaan pembenah tanah, jenisnya disesuaikan dengan permasalahan yang ada, khususnya saat berbudidaya. “Untuk pembenah tanah komersial, sebaiknya cari yang mempunyai izin edar, karena mutu pasti terjamin,” tuturnya.

Marketing Manager PT. FMC Agricultural Manufacturing, Dudy Kristyanto mengatakan, kondisi tanah pertanian di Indonesia kian kritis. Misalnya, tahun 1970, kondisi tanah masih cukup subur dan penggunaan pupuk masih rendah, karena baru dikenalkan. Saat itu produktivitas tanaman cukup tinggi.

Namun pada tahun 2000, kondisi tanah sudah kritis. Terlihat dari jumlah bahan organik sangat rendah hanya 15-20 ton dan kehidupan mikroba merana. Hal tersebut tidak lepas dari tingginya penggunaan pupuk kimia, sehingga berdampak pada penurunan produksi.

“Menurunnya kesuburuan lahan pertanian menyebabkan penggunaan pupuk, seperti NPK dan Phonska hanya bisa terserap 40 persen. Jadi bisa kita ibaratkan petani membuang uang ke WC,” katanya.

Dikatakan, semua pupuk kimia atau anorganik adalah garam, baik urea, NPK, KCL, ZA dan SP36. Dengan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan justru menyedot air dalam tanah, sehingga tanaman menjadi tidak subur. “Jika kita tidak imbang dalam pemupukan, justru pemupukan tidak efektif. Apalagi kondisi lahannya tidak subur,” ujarnya.

Untuk memperbaiki kondisi tanah yang sakit, FMC menawarkan produk Micro Ferti Magnet. Dari hasil uji coba, pertumbuhan tanaman padi dan jagung menjadi lebih baik. Terlihat dari pertumbuhan anakan lebih cepat dan serempak.

“Pada tanaman cabai dan bawang merah dengan penggunaan Micro Ferti Magnet, terjadi pengurangan pupuk kimia. Namun kami tidak merekomendasikan menggantikan 100 persen pupuk kandang dengan Micro Ferti Magnet. Kami sarankan lebih baik mengkombinasikan saja,” tuturnya.

Sementara itu Ariyanto, petani Kentang di Kayu Aro, Kerinci, Jambi merasakan dengan perbaikan tanah akan menghasilkan produksi yang lebih maksimal. Misalnya, penggunaan Micro Ferti Magnet mampu meningkatkan produktivitas tanaman kentang dari 20-21 ton/ha menjadi 28-30 ton/ha.

“Artinya ada penambahan produksi sebanyak 6 ton/ha. Jika dikalikan harga kentang Rp 7 ribu/kg, pendapatan petani bisa mencapai Rp 42 juta/ha,” katanya.

jadi kata kuncinya, jika tanah sehat, pertumbuhan tanaman pun akan baik. Alhasil, produktivitasnya juga akan meningkat.

Nah, bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi webinar dan e sertifikat bisa diunduh di link bawah ini.

Link Materi : Materi Webinar Tanah Sehat, Hasil Panen Berlipat

Link E Sertifikat : E Sertifikat Webinar Tanah Sehat, Hasil Panen Berlipat


Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018